BOGOR, JAKARTAMU.COM | Ketimpangan antara tuntutan zaman dan praktik pembelajaran di sekolah menengah kini menuntut perubahan mendasar. SMA Muhammadiyah 25 Setiabudi Pamulang merespons hal itu dengan menyusun ulang strategi pembelajaran, tata kelola sekolah, serta peningkatan kapasitas guru melalui forum kerja dan workshop intensif yang digelar pada 9–11 Juli 2025 di Cisarua, Bogor.
Selama tiga hari, sebanyak 46 guru dan tenaga kependidikan terlibat dalam sesi evaluatif dan reflektif yang tak hanya membedah capaian tahun sebelumnya, tetapi juga merancang pendekatan baru yang lebih adaptif, kolaboratif, dan berorientasi pada pembelajaran bermakna. Agenda ini menjadi titik tolak pembaruan internal sekolah untuk mengatasi stagnasi, memperkuat kultur profesional, dan membangun ekosistem pendidikan yang relevan dengan kebutuhan peserta didik masa kini.
Mengusung tema “Meningkatkan Etos Kerja dan Penguatan Tata Kelola Menuju SMA Muhammadiyah 25 Setiabudi Pamulang yang Unggul, Inovatif dan Islami,” kegiatan ini bertujuan untuk menata ulang fondasi pembelajaran dan manajemen sekolah.
Empat narasumber nasional hadir memberikan perspektif kritis dan praktis. Dr. Ahmad Suryadi Nomi, M.Pd., membuka rangkaian dengan materi tentang “Peningkatan Kualitas Kinerja Guru dan Tenaga Kependidikan”. Ia menekankan perlunya budaya kerja reflektif dan kolaboratif sebagai syarat dasar profesionalisme guru.

“Guru tidak cukup hanya mengajar, tetapi harus menjadi fasilitator perubahan dan inovasi. Ini dimulai dari kesadaran profesional dan pengelolaan kinerja yang terukur,” tegasnya.
Sesi kedua, yang dibawakan tim dari Kemdikdasmen, memfokuskan pada pembentukan karakter melalui materi “7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat”. Materi ini dirancang untuk membantu guru membangun kultur sekolah yang sehat, inklusif, dan berdaya saing.
Masalah kekerasan dalam dunia pendidikan juga mendapat sorotan melalui materi “Pengenalan Bullying di Sekolah” oleh Drs. Erzial, M.Pd. Ia menjelaskan bahwa praktik perundungan kini banyak beralih ke ranah digital dan verbal. Guru perlu memahami pendekatan restoratif agar mampu menciptakan lingkungan belajar yang aman dan suportif.
Workshop ditutup oleh Prof. Dr. Dirgantara Wicaksono, M.Pd., MM., yang membahas strategi pembelajaran mendalam berbasis pemahaman konseptual dan pemecahan masalah. Materi ini menjadi pijakan penting dalam mendesain ulang pembelajaran yang lebih bermakna di ruang kelas.
Selain sesi paparan, kegiatan ini juga diisi dengan diskusi pleno lintas bidang. Setiap tim kurikulum, kesiswaan, humas, ismuba, sarpras, dan pengembangan SDM menyampaikan evaluasi dan rencana kerja tahun ajaran 2025/2026, dengan penekanan pada inovasi dan efisiensi implementasi program.
Zaky Anshari, SE., MM., Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum, menyebutkan bahwa agenda ini dimaksudkan sebagai proses penyelarasan visi dan langkah seluruh warga sekolah.
“Kami ingin memastikan semua pemangku kepentingan sekolah berada dalam garis koordinasi yang sama, sehingga seluruh program kerja berjalan dengan efektif dan berdampak langsung pada pembelajaran siswa,” ujarnya.
Di luar ruang kerja, kegiatan ini juga diselingi sesi kolaboratif seperti senam pagi, permainan strategi, dan malam keakraban. Menurut panitia, sesi rekreatif ini penting untuk menjaga suasana kerja yang sehat dan mendukung komunikasi lintas peran.
“Bukan sekadar hiburan, tapi ini bagian dari membangun kepercayaan dan kerja tim,” ungkap Ibu Isni, guru Matematika.
Kepala Sekolah Hj. Zesmita Umar, SH., menutup kegiatan dengan mengajak seluruh peserta mengimplementasikan hasil rapat kerja ke dalam praktik pendidikan sehari-hari.
“Kami ingin sekolah ini tidak hanya menghasilkan siswa cerdas, tetapi juga tangguh secara mental dan berakhlak. Dan semua itu dimulai dari para pendidiknya,” ujarnya. (*)


