JAKARTAMU.COM – Jakarta | Salah satu sosok ulama terkemuka di Indonesia, Prof Haji Abdul Malik Karim Amrullah –lebih dikenal publik sebagai Buya Hamka– yang memiliki karya monumental: Tafsir Al-Azhar. Ketika Hamka menafsir surat Al-Fatihah terdapati juga nada kritik terhadap prilaku manusia modern; Karena kebanyakan manusia prilakunya berlebihan bangga dengan menyebut hasil usaha sendiri; Sehingga, mereka pun lupa akan rahmat Allah yang nilainya sangat lebih besar sekali.
Kritik Buya Hamka yang demikian itu, diungkap kembali oleh Al Ustadz Drs H Dedi Iswantara, M.Pd., untuk mengingatkan jamaah melalui even Ngasuh atau Ngaji usai shalat Subuh, di Mushalla Baitul Makmur, PRM Pisangan Baru, Jakarta Timur, Sabtu (25/04/2026).
“Buya Hamka menyampaikan kritik itu untuk membangun kesadaran ummat Islam. Kritik beliau lewat tafsir lengkap Surat Al Fatihah sebagai ummul Qur-an, intinya mengingatkan dan membangun kesadaran,” sebut Dedi Iswantara.
Al Fatihah, terang Dedi Iswantara, merupakan induk dari keseluruhan ayat-ayat Allah yang berada di kitab Alqur-an. “Menurut Buya Hamka, isi seluruh Alqur-an, secara garis besar terkandung dalam surah ini. Kita dianjurkan baca Al Fatihah berulang, minimal dibaca dalam tiap raka’at shalat, untuk mengingatkan: agar kita selalu berada pada tujuan hidup semestinya sekaligus di jalan yang dikehendaki Allah,” jelasnya.
Buya Hamka, tambah dia, dalam menafsirkan ayat ayat Alqur-an dengan penjelasan secara filosofis dan praktis. Dedi Iswantara mencontohkan makna Bismlillahir rahmanir rahiim; “Dengan nama Allah” mengandung arti ‘segala aktivitas harus diniatkan karena Allah’.
“Bila kita mengulas nama Allah, maka lebih menunjukkan: Kekuasaan, Kasih sayang dan Kedekatan Allah dengan hamba-hambaNya. Ini lebih dipertegas dengan ulasan makna Ar-Rahman dan Ar-Rahim. Ada pun Ar-Rahman merupakan kasih sayang Allah bersifat universal –untuk semua makhluk, termasuk non-Muslim–. Sedangkan Ar-Rahim adalah kasih sayang bersifat khusus –untuk orang-orang yang beriman,” rincinya.
Ada pun penekanan Hamka, kata Dedi Iswantara, agar seorang mukmin selalu memulai hidup dengan kesadaran ilahiah; Bukan hanya ucapan, tetapi harus menjadi cara hidup. “Hidup tanpa Bismillah, mambuat kehilangan arah dan keberkahan,” ungkap dia.
Tafsir lengkap Surah Al-Fatihah menurut Buya Hamka, sebut Dedi Iswantara, bahwa secara keseluruhan ada yang termuati juga dengan pesan berupa kritik untuk membangun kesadaran. Ada pun hal yang ditekankan oleh Buya Hamka, apa pun yang diusahakan oleh manusia, hasil yang diperoleh bukanlah semata-mata dari pekerjaan yang diushakan dengan tangan manusia sendiri.
“Buya Hamka mengingatkan, bahwa rahmat dari Allah dipastikan sangat jauh lebih besar dibandingkan dengan usaha yang dilakukan manusia. Sehingga, hasil usaha manusia, apa pun pangkat dan jabatan status sosialnya, adalah sangat sedikit sekali nilainya. “Rahman dan Rahim dari Allah pasti jauh lebih besar bagi siapa pun,” tandas Dedi Iswantara.
Oleh karena itu, setelah sama-sama menyimak tafsir dari Buya Hamka tersebut, Dedi Iswantara mengajak jamaah agar mengikis rasa bangga diri yang berlebihan. Sebaliknya, saran mengenai sadar diri akan besarnya rahmat Allah di setiap waktu hendaknya selalu dijiwai dengan memperluas dan menebalkan rasa syukur.


