Oleh Miftah H. Yusufpati
KEESOKAN paginya, sinar matahari menembus tirai jendela rumah Nenden, jatuh miring di lantai yang kusam. Debu-debu halus menari di udara, berkilau sekejap lalu lenyap—seperti pikiran-pikiran yang datang silih berganti, namun tak pernah benar-benar menetap di kepalanya.
Rumah itu berdiri di lereng Puncak, di antara pepohonan pinus dan kebun pisang. Udara dingin membawa aroma tanah basah, dedaunan tua, dan sisa hujan semalam. Di kejauhan, kabut menggantung seperti tirai tipis yang menahan dunia agar tidak terlalu dekat. Di tempat seperti itu, waktu terasa lebih lambat, seolah memberi ruang bagi manusia untuk berpikir lebih dalam—atau justru terjebak dalam pikirannya sendiri.
Telepon berdering.

“Nenden, bagaimana kalau kita bertemu lagi? Aku ingin bicara lebih serius.”
Suara Sandi terdengar hangat, tenang, dan terukur—suara seorang pengacara yang terbiasa menimbang kata-kata agar tidak menyisakan celah logika. Nada itu rapi, nyaris persuasif. Namun justru di situlah letak bebannya. Hati Nenden berdebar. Ia tahu ini bukan sekadar ajakan minum kopi atau basa-basi orang dewasa yang kesepian. Ini adalah panggilan untuk mengambil posisi, memilih arah, dan menanggung konsekuensi moral dari pilihan itu.
Ia menghela napas panjang.
Dalam psikologi eksistensial, momen seperti ini disebut existential choice—saat manusia tak lagi bisa bersembunyi di balik kebetulan, keadaan, atau orang lain. Jean-Paul Sartre pernah mengatakan bahwa manusia “dikutuk untuk bebas”: bebas memilih, dan karenanya bertanggung jawab penuh atas pilihannya.
“Boleh,” jawab Nenden akhirnya, “tapi saya mengajak Teh Lina.”
Sunyi.
Di seberang sana, Sandi tidak langsung menjawab. Keheningan itu terasa padat, seperti ruang sidang yang menunggu palu hakim diketukkan. Nenden memahami betul makna diam itu—bukan ragu, melainkan kalkulasi.
Sesungguhnya, jauh di dalam hatinya, Nenden merasa tidak nyaman bertemu Sandi. Ia menganggap lelaki itu tak lebih dari sosok hidung belang yang dibungkus kemapanan. Tatapan matanya terlalu berani, terlalu menilai. Bukan jenis tatapan yang membuat seorang perempuan merasa aman. Tidak ada daya tarik batin yang tumbuh di hatinya, hanya kewaspadaan.
Namun ada satu hal yang membuatnya tetap bersikap sopan: uang satu juta yang sudah ia terima kemarin.
Di situlah madu mulai terasa pahit.
Ia menyadari, dalam ilmu psikologi moral, manusia sering terjebak dalam reciprocity bias—perasaan berutang budi yang mendorong seseorang bersikap lunak, meski nuraninya menolak. Nenden merasa itu. Bukan cinta yang menahannya, melainkan rasa sungkan yang dibungkus etika.
Karena itu, ia memilih jalan paling aman: membawa teman.
Imam Al-Ghazali berpesan, “Hati yang sehat adalah hati yang peka terhadap bisikan nurani, bukan yang pandai mencari pembenaran.” Nenden tahu, menjaga jarak adalah bentuk penjagaan diri—bukan kesombongan, bukan pula kepura-puraan.
Beberapa saat kemudian, suara Sandi kembali terdengar, sedikit berubah nadanya. “Baiklah. Kita bertiga saja.”
Nenden mengangguk, meski Sandi tak bisa melihatnya. Pertemuan disepakati hari Sabtu, dua hari lagi. Panggilan terputus, telepon pun ditutup.
Ia menatap jendela. Kabut Puncak masih menggantung, menyamarkan batas antara dekat dan jauh. Seperti hidupnya saat ini—antara kebutuhan dan martabat, antara akal dan rasa, antara manis yang dijanjikan dan pahit yang mulai terasa sejak awal.
Nenden sadar, tidak semua madu ditakdirkan untuk dinikmati. Sebagian hanya hadir untuk menguji: seberapa kuat manusia menjaga dirinya sendiri, ketika dunia menawarkan kemudahan yang dibungkus kenikmatan.
Dan ujian itu, baru saja dimulai.
Nenden meletakkan ponselnya di atas meja kayu yang penuh goresan usia. Ia baru saja berdiri ketika layar ponsel kembali menyala.
Kali ini, nama Andrinov muncul.
Lelaki dari Pasar Tanah Abang itu sempat ia blokir begitu pulang kampung—sebuah upaya kecil untuk menghentikan masa lalu yang terlalu riuh. Namun seperti teori return to baseline dalam psikologi afektif, emosi dan relasi sering kembali mencari titik keseimbangannya.
“Assalamu’alaikum,” suara Andrinov terdengar ringan, seolah tak pernah ada jarak.
“Wa’alaikum salam.”
“Nenden, kapan balik ke Jakarta?”
“Mungkin masih lama. Atau mungkin tidak kembali,” jawabnya pelan.
Ada jeda. Lalu Andrinov bertanya, “Boleh Abang datang ke rumahmu?”
“Jangan,” jawab Nenden cepat. “Nenden malu.”
“Kenapa malu?”
“Rumah saya jelek. Dan mama melarang Nenden menerima tamu laki-laki,” jawabnya apa adanya.
Kejujuran itu sederhana, tapi sarat nilai. Ini mengingatkan orang akan ucapan Imam Malik bin Anas: “Adab itu lebih tinggi daripada ilmu.”
“Baiklah,” kata Andrinov akhirnya. “Kalau begitu, Abang tunggu Nenden di tempat lain. Di daerah Cipayung juga.”
“Kapan Abang ke Puncak?” tanya Nenden.
“Sore ini.”
Nenden terdiam. Di kepalanya, grafik-grafik imajiner berkelebat: risiko, manfaat, kemungkinan. Teori prospect dari Daniel Kahneman berbisik bahwa manusia lebih takut kehilangan daripada mengejar keuntungan. Tapi hidup tidak selalu bisa dihitung seperti eksperimen laboratorium.
Ia menutup mata sejenak.
“Baiklah,” katanya akhirnya.
Telepon ditutup.
Nenden duduk kembali. Ia menyadari satu hal yang perlahan tapi pasti: hidupnya kini dipenuhi simpul-simpul kecil yang saling terhubung. Sandi dengan kemapanan dan janji masa depan. Andrinov dengan masa lalu yang belum sepenuhnya selesai. Dan dirinya sendiri—seorang perempuan muda di kaki gunung, yang mencoba menjaga iman, akal, dan martabat dalam dunia yang sering kali hanya menghargai hasil.
Ibnu Atha’illah as-Sakandari mengatakan, “Kadang Allah membuka pintu ketaatan, tapi tidak membuka pintu penerimaan. Dan kadang Allah membuka pintu dosa, tapi membuka pintu penyesalan.”
Nenden menatap keluar jendela. Kabut tipis mulai turun perlahan di lereng Puncak. Manis dan pahit, seperti madu yang ia genggam erat dalam hidupnya, semakin sulit dibedakan.
Dan ia tahu, badai belum datang.
Baru anginnya saja yang mulai terasa.
***


