cerita bersambung

Madu Pahit Nenden — Bagian 17: Fitnah

Oleh Miftah H. Yusufpati KABAR tentang "tujuh juta" dan klaim rujuk Andrinov merambat di antara rimbunnya pohon suren Cipayung laksana spora yang terbawa angin pegunungan. Halus, tak kasat mata, namun mampu menumbuhkan jamur prasangka di mana pun ia hinggap. Informasi...

Madu Pahit Nenden — Bagian 16: Pria Malaysia

Oleh Miftah H. Yusufpati TAHUN 2025 datang dengan ritme yang lebih cepat, membawa Nenden pada puncak kematangan usianya, tiga puluh lima tahun. Dalam biologi perkembangan, ini adalah fase prime, di mana kapasitas kognitif dan ketahanan emosional seseorang mencapai titik ekuilibrium...

Madu Pahit Nenden — Bagian 15: Hidayat

Oleh Miftah H. Yusufpati RUMAH di kawasan Cibubur itu, yang semula dianggap sebagai benteng perlindungan, perlahan-lahan berubah menjadi sangkar dengan jeruji emas yang dingin. Waktu mengalir mengikuti hukum Entropi, segala sesuatu bergerak menuju kekacauan jika tidak ada energi baru yang...

Madu Pahit Nenden — Bagian 14: Ahza

Oleh Miftah H. Yusufpati WAKTU, dalam perspektif fisika relativistik, mungkin bersifat relatif, namun bagi Nenden, ia mengalir seperti pasir hisap yang perlahan namun pasti menelan ketenangannya. Beberapa tahun pertama adalah fase homeostasis—sebuah keseimbangan yang indah. Nabila tumbuh dengan gizi kasih...

Madu Pahit Nenden — Bagian 13: Pilihan Andrinov

Oleh Miftah H. Yusufpati HARI-hari Nenden akhirnya ada di Tanah Abang, sebuah kawasan yang denyutnya tak pernah benar-benar tidur. Pagi datang bersama bunyi besi pintu toko yang digeser, teriakan porter menawarkan jasa, dan langkah-langkah cepat pedagang yang menghitung waktu dengan...

Madu Pahit Nenden — Bagian 12: Antara Dua Pria

RUMAH kontrakan yang ditunjukkan Andrinov berdiri tenang di Jalan Kebon Pala, sebuah ruas jalan yang lebih lapang dibanding gang-gang sempit Pondok Gede. Aspalnya rata, cukup untuk dua mobil berpapasan tanpa saling mengalah. Di kiri-kanan jalan, deretan rumah tua dan...

Madu Pahit Nenden — Bagian 11: Di Depan Vila

Oleh Miftah H. Yusufpati PAGI itu, Cipayung diguyur hujan deras. Petir menyambar di balik kabut yang turun rendah dari lereng Megamendung, seakan langit sedang menumpahkan seluruh beban yang dipendamnya semalaman. Angin kencang menggoyang pucuk-pucuk pohon pisang di belakang rumah, membuat...

Madu Pahit Nenden — Bagian 10: Lelah Bergantung

Oleh Miftah H. Yusufpati LIMA bulan berlalu, seperti musim yang berganti tanpa aba-aba. Di halaman rumah, Nabila kini sudah mampu berlari-lari kecil mengejar Firly. Tawa mereka memecah pagi Cipayung, ringan dan jujur, seolah hidup tidak pernah menyimpan luka. Setiap kali...

Madu Pahit Nenden — Bagian 9: Semalam Saja

Oleh Miftah H. Yusufpati PERTEMUAN Nenden dengan Sandi perlahan menjelma rutinitas. Dua kali sepekan, kadang lebih. Polanya rapi, nyaris mekanis, menyerupai jadwal sidang yang selalu tepat waktu dan jarang meleset. Sandi hadir dengan konsistensi yang menenangkan: dermawan tanpa banyak tanya,...

Madu Pahit Nenden — Bagian: Tali Tak Terlihat

Oleh Miftah H. Yusufpati KEESOKAN paginya, sinar matahari menembus tirai jendela rumah Nenden, jatuh miring di lantai yang kusam. Debu-debu halus menari di udara, berkilau sekejap lalu lenyap—seperti pikiran-pikiran yang datang silih berganti, namun tak pernah benar-benar menetap di kepalanya. Rumah...

Latest News

Perkuat Dakwah Urban, Muhammadiyah Jakarta Selatan Bangun Sinergi Strategis

JAKARTAMU.COM | Kolaborasi antarcabang dalam struktur organisasi menjadi kunci penting untuk memperluas dampak sosial dan keagamaan bagi masyarakat. Semangat...