Madu Pahit Nenden — Bagian: Tali Tak Terlihat

Must Read

Malam itu, setelah Nabila tertidur, Nenden duduk sendirian di kamar. Lampu kecil di sudut ruangan menyala redup. Dari luar, suara serangga dan angin gunung berpadu, membentuk kesunyian yang akrab. Tasnya terbuka di hadapan. Amplop putih itu tergeletak di atas meja, masih utuh, seolah menunggu keputusan terakhir.

Ia membukanya perlahan.

Uang itu rapi. Pecahan besar. Jumlah yang cukup untuk membuat napasnya sedikit lebih panjang. Untuk pertama kalinya sejak lama, dadanya terasa ringan—bukan karena bahagia, melainkan karena rasa aman yang mendadak hadir. Dalam neurosains, uang memang memicu aktivitas di ventral striatum, pusat rasa aman dan penghargaan. Itulah sebabnya ketenangan yang dibawanya sering terasa begitu nyata.

Keesokan harinya, dampaknya langsung terlihat.

Milad 117 H Muhammadiyah

Nenden membeli susu terbaik untuk Nabila. Ia membayar tanpa menghitung ulang di kasir. Tangannya tidak gemetar. Ia juga membeli buah, daging, dan obat-obatan yang selama ini ditunda. Rumah terasa lebih hidup. Lemari es terisi. Kompor menyala lebih lama. Hal-hal kecil yang dulu menjadi perhitungan kini berubah menjadi kebiasaan baru.

Iis, ibunya, memperhatikan perubahan itu dengan mata seorang perempuan tua yang telah melihat banyak siklus hidup.

“Rezeki lagi lancar?” tanyanya.

Nenden mengangguk. Ia tidak berbohong, tapi juga tidak sepenuhnya jujur. Dalam etika komunikasi, ini disebut strategic silence—diam yang dipilih untuk menghindari konflik batin yang lebih besar.

Hari-hari berikutnya, Nenden mulai merasakan sesuatu yang lain: rasa terbiasa.

Ia tak lagi gelisah saat belanja. Tak terlalu cemas menghadapi akhir bulan. Dalam psikologi perilaku, ini disebut hedonic adaptation—manusia cepat menyesuaikan diri dengan kenyamanan baru, lalu menganggapnya normal. Dan di situlah bahaya bermula: ketika sesuatu yang awalnya darurat berubah menjadi standar.

Telepon dari Sandi mulai datang lebih sering. Tidak mendesak. Tidak memerintah. Sekadar menanyakan kabar.

“Sudah makan?”
“Nabila sehat?”
“Kalau butuh apa-apa, bilang saja.”

Kalimat-kalimat itu terdengar perhatian. Bahkan tulus. Namun setiap kali ponselnya bergetar, Nenden merasakan sesuatu menekan dadanya. Ia mulai menyadari: uang itu telah mengubah posisi tawar. Ia bukan lagi sekadar perempuan kampung yang ditemui di kafe. Ia kini berada dalam relasi yang tidak sepenuhnya sejajar.

Ibnu Taimiyah pernah menulis bahwa ketergantungan adalah bentuk perbudakan paling halus. Dan Nenden mulai memahami maksud kalimat itu—bukan sebagai tuduhan, melainkan sebagai peringatan.

Suatu sore, Lina datang berkunjung. Ia melihat isi dapur, pakaian baru Nabila, dan ketenangan di wajah Nenden.

“Uangnya mulai kerasa, ya?” katanya setengah bercanda.

Nenden tersenyum, tapi matanya tak sepenuhnya ikut tersenyum.

“Kerasa,” jawabnya jujur.

“Dan?” tanya Lina.

Nenden diam.

Diam itu lebih panjang dari biasanya. Dalam psikologi moral, ketika manfaat sudah dirasakan, penolakan menjadi lebih sulit karena muncul loss aversion—ketakutan kehilangan kenyamanan yang telah dimiliki. Dan Nenden kini berada tepat di sana.

Malam itu, ia salat lebih lama. Dalam sujudnya, ia bertanya tanpa suara: Apakah ini rezeki, atau ujian yang dibungkus rapi?

Kini Nenden berada pada apa yang dikatakan Hasan al-Bashri: “Jika dunia datang kepadamu, ia akan mengambil akhiratmu sedikit demi sedikit.”

Namun Nenden juga tahu, Islam tidak mengajarkan kemiskinan sebagai cita-cita. Yang dilarang bukan harta, melainkan hati yang tergadai olehnya.

Hari demi hari, hidup Nenden memang menjadi lebih mudah. Tapi di balik kemudahan itu, muncul bayangan kewajiban yang belum diucapkan. Ia mulai bertanya pada dirinya sendiri: sampai kapan bantuan ini tanpa harga?

Dan di situlah pahit mulai bekerja—perlahan, nyaris sopan. Seperti madu yang terlalu sering dijilat, manisnya mulai menipis, dan rasa asing menyusup di dasar lidah.

Nenden kini mengerti: uang bisa mengisi rumah, tapi juga bisa mengisi ruang batin yang seharusnya kosong agar Tuhan tetap terdengar. (Bersambung ke Bagian 9)

Perkuat Dakwah Urban, Muhammadiyah Jakarta Selatan Bangun Sinergi Strategis

JAKARTAMU.COM | Kolaborasi antarcabang dalam struktur organisasi menjadi kunci penting untuk memperluas dampak sosial dan keagamaan bagi masyarakat. Semangat...

More Articles Like This