Oleh Asyaro G Kahean
JAKARTAMU.COM — Menapaki Tahun Baru, terasa lebih penting kalau diawali upaya: memperbarui cara pandang, niat, hingga membuat perencanaan terukur. Tujuannya akan lebih terkesan, ada up date nilai kesadaran baru, ketika tahun telah berganti.
Pendahuluan
Setiap pergantian tahun, terlebih miladiyah (masehi), ramai sungguh pesan keselamatan. Sekali pun, manusia di seluruh dunia paham bahwa jatah hidup di alam fana, dipastikan terbatas. Sehingga, kian waktu yang akan kita lalui ke depan, lebih melakat di pikiran, bahwa: jarak hidup kita dengan kematian semakin, semakin dan semakin dekat.

Tak seorang juga yang punya kemampuan bertahan atau ia menambah batas usia yang telah tercatat di lawhil mahfuzh. Meski pun, saat sekarang, ia sedang berada di zona aman bahkan nyaman. Bagaimana pun keadaan yang melingkupi suatu kenyamanan duniawi, kematian tetap saja mengintai…!
Diakui mau pun tidak, hidup kita di dunia pasti berakhir. Bukankah semua kita adalah makhluq bernyawa?
Dengan kedudukan status sosial yang tinggi, misalnya; Apakah seseorang kemudian punya kemampuan menyelamatkan nyawa dan tanpa melewati proses meninggalkan dunia fana? Atau, katakanlah: ditambah lagi dengan harta benda yang melimpah-ruah; Apakah ia sanggup mengelak atau membayar Malaikat Maut dengan harta bendanya tatkala datang hendak menyabut nyawanya?
Kematian makhluq bernyawa telah disinyalkan secara abadi melalui Alqur-an, antara lain termaktub dalam Surat Al Ankabut ayat 57 كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ ٱلْمَوْتِ ۖ ثُمَّ إِلَيْنَا تُرْجَعُونَ. Kurang-lebih artinya; “Tiap-tiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kemudian, hanyalah kepada Kami (Allah) kamu dikembalikan.”
Hal yang semestinya selalu kita pikirkan, adalah cara mati. Bagaimana dan seperti apakah kematian yang kita inginkan: Husnul khatimah (akhir yang baik), ataukah su’ul khatimah (akhir yang buruk)? Dalam hal ini, jawabnya akan berada pada masing-masing diri saat melibatkan hati (niatan), akal pikiran, tata laku dan tutur kata pada setiap tindakan.
Jelasnya, saat masih hidup sekarang ini, kita masih punya kesempatan memikirkan guna menetapkan pilihan dari dua opsi berkatagori akhir hayat.
Sisi lain, masih ada pula kebebasan bagi orang yang mungkin tidak peduli lagi dengan cara bagaimana dan seperti apa yang diinginkan, ketika maut menjemput dirinya.
Bagi yang ingin meninggalkan dunia dengan husnul khatimah, tentu akan berbeda variabel dan prasyaratnya dengan orang yang cenderung membiarkan dirinya mati dalam keadaan su’ul khatimah.
Husnul Khatimah
Istilah dalam Islam, husnul khatimah (حسن الخاتمة) berarti: akhir yang baik; Yaitu: seseorang yang meninggal dunianya dalam keadaan beriman, bertaqwa, shaleh di atas jiwa pribadi mau pun ketika ia beraktivitas sosial. Sehingga, wafatnya: bukan sekadar akhir hidup berkaitan pada masalah fisik belaka; Melainkan juga, semasa di alam fana ini: hati, pikiran, tutur kata, cara bersikap hingga bertindaknya mencerminkan sifat sifat shalih (saleh) yang dijiwai secara mendalam. Dan amaliah bersifat saleh, –sedapat mungkin– menjadi ‘pakaian’ kepantasan (haqq) yang diperjuangkan sepenuh jiwa, tanpa merasa bosan dengan mengedepankan kesabaran (shabr).
Husnul khatimah, bukan pula sekadar anugerah Alkhaliq. Akan tetapi juga telah disediakan pintu, agar setiap mukmin, –dengan ketulusan jiwa melibatkan raga– bersedia memasuki pintu: pertama, menjiwai pelafalan yang terkandung dalam istiqhfar –jika langsung berhubungan dengan Allah Ta’ala– dan saling maaf-memaafkan di antara sesama kita, dalam aspek membangun kesalehan sosial (silaturrahim, menguatkan ukhuwah).
Sedangkan pintu kedua, sekuat kemampuan terus berupaya membuka cakrawala kolaborasi: qalbu dan akal pikiran; Agar lebih memahami hingga mampu mengamalkan: sistem yang termaktub di dalam platform kesemestaan yang terhubung antara diri dengan lawhil mahfuzh. Platform kesemestaan di sini, dimaksudkan sebagai petunjuk arah: kembali pada Alqur-an dan Sunnah. Ada pun yang aplikasikan, adalah taubatan nashuha.
Meski pun tulisan ini diilustrasikan pada dua pintu; Akan tetapi, antara pintu pertama istigfar dan pintu kedua taubatan nashuha bukanlah menjadikan ruang amaliah terpisahkan. Keberadaan keduanya pada ruang yang hanya satu; Karena istighfar tidak mengenal jenis kelamin, melainkan asupan lafal utama bagi siapa pun makhluq yang menyadari akan makna penting bertaubat secara kaffah.
Korelasi Taubatan Nashuha dengan Husnul Khatimah
Banyak kalangan ulama dan cendikia muslim mengungkap, husnul khatimah memiliki korelasi sangat erat dengan taubatan nashuha. Alasan yang melandai, secara umum, bahwa taubatan nashuha merupakan salah satu cara utama untuk meraih husnul khatimah.
Dalam pandangan ini, orang yang bertaubat itu menyesali kekhilafan dan kemungkaran yang pernah diperbuat: mohon ampunan, bertekad tidak mengulangi perbuatan yang disifati oleh keburukan, dan ia berusaha sungguh-sungguh untuk lebih mengoptimalkan ketaatan secara istiqamah: kepada Allah Yang Mahapengampun, Mahapenyayang lagi Mahakuasa atas apa pun.
Taubatan nashuha, pada gilirannya dipandang sebagai pembuka pintu rahmat; Dan merupakan syarat utama menuju akhir hayat terbaik atau husnul khatimah.
Taubat nashuha dalam hal ini, diartikan sebagai pertobatan yang tulus, murni, dan sungguh-sungguh; Teriring penyesalan sangat mendalam, hingga berhenti total dari perbuatan maksiat.
Taubatan nashuha, dipandang menjadi bagian terpenting pada upaya perbaikan jiwa-raga, untuk kembali fitrah, semata-mata karena Allah Ta’ala. Taubatan nashuha, juga merupakan bentuk pertobatan yang sempurna dan menyeluruh (kaffah); Bukan sekadar ucapan, tetapi juga tercemin di hati, akal-pikiran, tutur kata tertata, serta cara bersikap hingga bertindak: selalu dan terus menerus berhiaskan sifat-sifat kesalehan.
Bila ada seseorang ingin mencapai taubatan nashuha sebelum wafat misalnya, sah-sah saja jika ia mendahului dengan niat atau kemauan. Untuk menguatkan niatnya sangat dianjurkan berdoa: agar Allah memberikan kesempatan bertobat secara tulus.
Doa pencapaian taubatan nashuha yang umum dilafalkan imam di masjid-masjid, antara lain, اللَّهُمَّ ارْزُقْنِي تَوْبَةً نَصُوحًا قَبْلَ الْمَوْتِ (Allahumma berilah aku rezeki taubat nashuha (sebenar benarnya) sebelum wafat). Manakala niat taubat itu ingin dilengkapi dengan akhir hayat yang baik atau husnul khatimah: للَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ حُسْنَ الْخَاتِمَةِ (Allahumma aku memohon kepadaMu husnul khatimah)
Pancaran Senyum Kegembiraan
Dalam upaya mewujudkan husnul khatimah, tentu sangat bergantung dengan perjuangan: agar diri kita berjiwa mukhlis (ikhlas). Pintunya, taubatan nashuha yang sangat berpeluang: menjadikan pintu istighfar semakin membesar, meninggi dan melebar.
Besar, tinggi dan lebar atau luasnya pintu istighfar yang disebabkan taubatan nashuha, bukanlah berskala pada alat ukur ilmu pengetahuan alam yang penah kita pelajari di sekolah; Melainkan, skalanya berjenis apresiasi adaptif yang datangnya dari Allahu Rabbi.
Alasannya bahwa: husnul khatimah itu sungguh berparas pantas karena muatannya terpancar pada senyum amat gembira; Terlebih kelak, pada saat Allah memanggil dengan segala keindahanNya yang penuh kasih sayang:
يَٰٓأَيَّتُهَا ٱلنَّفْسُ ٱلْمُطْمَئِنَّةُ
ٱرْجِعِىٓ إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً
فَٱدْخُلِى فِى عِبَٰدِى
وَٱدْخُلِى جَنَّتِى
“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku. Masuklah ke dalam surga-Ku.” (QS Al-Fajr: ayat 27-30).


