Senja Majapahit, Fajar Demak (2): Bocah dari Campa

Must Read

DI tepi Laut Cina Selatan, seorang bayi menangis untuk pertama kalinya. Ia lahir dari rahim seorang putri Campa, perempuan yang wajahnya menyimpan jejak keturunan bangsawan Asia Tenggara. Darah Campa itu kelak akan bercampur dengan darah Majapahit, menjadikannya sosok yang berbeda, sebuah simpul takdir yang sulit ditebak. Bayi itu kelak dikenal dengan nama Raden Patah.

Kisah hidupnya dimulai dari luka. Ibunya hanyalah salah satu permaisuri dari Brawijaya V, raja Majapahit terakhir. Namun hubungan itu penuh kerahasiaan, dan keberadaannya lebih banyak ditutupi daripada diakui. Menurut beberapa kisah, kelahirannya bahkan dianggap ancaman bagi istana Trowulan, karena darah yang mengalir di tubuhnya bisa menjadi legitimasi bagi kekuasaan baru. Maka ketika ia lahir, ia dibawa jauh dari pusat kerajaan, dibesarkan di luar bayangan istana, seperti benih yang ditanam di tanah asing.

Palembang menjadi tanah perantauan yang menampung bocah itu. Di sana, Raden Patah tumbuh tanpa kemewahan keraton, tanpa gemerlap upacara kebesaran. Ia tumbuh di tepi sungai Musi, bermain dengan anak-anak nelayan, menyerap bahasa rakyat, menghirup udara perdagangan yang ramai. Pedagang Muslim dari Gujarat, Arab, dan Jawa singgah di pelabuhan itu, membawa cerita tentang dunia yang luas, tentang agama baru yang penuh cahaya. Dari merekalah benih Islam pertama kali singgah di dalam dirinya.

Di Palembang, ia belajar bahwa darah biru bukan segalanya. Ia menyaksikan bagaimana para pedagang Muslim saling membantu, tanpa memandang asal-usul. Ia juga mendengar azan yang menyeruak dari surau kecil di tepi pasar, suara yang menembus hatinya dengan lembut. Sejak kecil ia sudah merasa bahwa dirinya adalah bagian dari dunia yang lebih luas, bukan sekadar keturunan Majapahit yang terasing.

Milad 117 H Muhammadiyah

Namun masa kecilnya tidak pernah benar-benar damai. Bisik-bisik tentang asal-usulnya terus menghantuinya. “Ia anak raja Jawa,” kata beberapa orang dengan kagum. Tetapi bagi sebagian lain, ia hanyalah seorang bocah asing yang tak jelas tempatnya. Identitas itu membuatnya sering merasa berdiri di antara dua dunia: Majapahit yang menjauh, dan Islam yang mendekat.

Ketika beranjak remaja, hatinya semakin gelisah. Kabar dari Jawa sampai ke telinganya: Majapahit retak, perang saudara berkecamuk, para bangsawan saling berebut tahta. Seolah-olah tanah kelahirannya sedang menunggu seseorang untuk menutup lembaran lama dan membuka lembaran baru. Raden Patah tidak bisa lagi berpangku tangan. Ia tahu darahnya memanggilnya kembali.

Dalam perjalanannya mencari arah, ia bertemu dengan para wali yang singgah di Palembang. Sunan Ampel dan para muridnya pernah berinteraksi dengannya, mengajarkan dasar-dasar Islam, menanamkan nilai kesabaran, keadilan, dan kepemimpinan. Dari mereka, Raden Patah belajar bahwa kekuasaan bukan semata soal tahta, melainkan tentang amanah untuk menegakkan kebenaran. Ia mendengar bahwa zaman Majapahit sudah hampir selesai, dan sebuah fajar baru akan datang.

Dengan restu ibunya, Raden Patah berlayar meninggalkan Palembang. Perjalanan panjang itu membawanya menyeberangi lautan, menyusuri jalur perdagangan yang ramai, hingga akhirnya menjejakkan kaki di pesisir utara Jawa. Tempat itu kelak dikenal dengan nama Glagah Wangi tanah yang subur, harum oleh wangi rerumputan liar, dan dekat dengan pelabuhan yang ramai.

Glagah Wangi bukan sekadar tempat singgah. Di sanalah takdir mulai mengikatkan benangnya. Para wali yang sudah lama mengawasi perjalanannya menyambutnya dengan hangat. Mereka tahu, anak muda ini bukan sembarang pemuda. Ia memiliki darah raja, tapi hatinya sudah disentuh cahaya Islam. Ia adalah jembatan antara dunia lama yang sedang runtuh, dan dunia baru yang akan lahir.

Malam pertama di Glagah Wangi, Raden Patah menatap bintang-bintang. Di kejauhan ia membayangkan istana Trowulan yang mungkin masih berdiri, meski rapuh. Ia tahu suatu hari ia harus kembali, bukan untuk meraih kemewahan yang pernah ditolak kepadanya, melainkan untuk menegakkan sesuatu yang lebih besar. “Aku bukan pewaris tahta semata,” bisiknya dalam hati, “aku adalah pewaris zaman yang baru.”

Dan demikianlah, bocah dari Campa itu mulai menapaki jalan panjang menuju Demak. Sebuah perjalanan yang akan mengubah wajah Jawa selamanya.

(Bersambung ke Seri 3 – Pesisir yang Berdenyut)

Perkuat Dakwah Urban, Muhammadiyah Jakarta Selatan Bangun Sinergi Strategis

JAKARTAMU.COM | Kolaborasi antarcabang dalam struktur organisasi menjadi kunci penting untuk memperluas dampak sosial dan keagamaan bagi masyarakat. Semangat...

More Articles Like This