Oleh Miftah H. Yusufpati
MALAM di Tebet telah memadat menjadi hitam kebiruan ketika jarum jam menunjuk angka 22.00. Kantor perlahan sunyi, hanya menyisakan denging pendingin ruangan dan aroma kertas hangat dari printer yang baru saja berhenti bekerja.
Prabu, dengan gerak tenang seorang lelaki yang telah lama bersahabat dengan kesunyian, menutup laptopnya. Ia menarik napas panjang. Ada benang halus yang mengganjal batinnya sejak siang—kalimat Wina, istrinya, yang menusuk seperti sayatan kecil di tempat yang tak tampak.
Setelah merapikan meja, Prabu turun ke area parkir. Di luar, udara Jakarta bergerak lengket, seakan malam tak pernah benar-benar dingin. Begitu mobil keluar dari area kantor, ia memutar melalui jalur Casablanca. Lampu-lampu gedung tinggi memantul di kaca mobilnya, membentuk garis-garis kuning keemasan yang meluncur seperti meteor buatan manusia.

Jalan Casablanca selalu memberinya perasaan aneh: campuran antara ambisi perkotaan dan kehampaan yang nyaris akademik.
“Manusia modern,” gumamnya mengutip Lewis Mumford, “telah membangun kota-kota yang terang, namun membiarkan batin mereka gelap.”
Di kejauhan, gedung-gedung itu menjulang seperti hipotesis yang belum selesai diuji. Mobilnya meluncur stabil memasuki Tol Becakayu. Di bentang beton yang panjang dan sepi itu, pikirannya kembali ke ucapan Wina siang tadi—ucapan yang meluruhkan kepercayaannya pada peran seorang suami.
Kurang dari satu jam, mobil Prabu berhenti di depan rumahnya di Bekasi. Lingkungan itu sunyi, hanya sayup terdengar suara motor lewat dan sesekali suara jangkrik tertahan di balik gerumbul perdu. Lampu teras rumahnya menyala temaram, menciptakan kesan damai sekaligus jauh.
Pagar rumah terbuka tergesa. Wina—yang biasanya sudah terlelap di jam seperti itu—tampak tergopoh menyambutnya.
Prabu tersentak. Ia heran. Biasanya ia membuka pagar sendiri, sementara Wina jarang menunggu larut malam seperti ini. Tatapan Wina tampak ganjil—gelisah, cemas, sekaligus lembut. Seakan langkah kaki Prabu di halaman rumah membawa hal yang lebih besar dari sekadar kedatangan seorang suami.
Di ruang makan yang kecil dan hangat oleh aroma kayu jati, percakapan siang tadi kembali berputar.
Seperti biasa, Prabu menunggu Wina pulang mengajar sebelum makan siang. Ia berharap Wina membawa lauk tambahan seperti biasanya; sekadar sayur asam atau tempe balado. Namun hari itu Wina pulang tanpa membawa apa pun.
“Dik…” kata Prabu sambil duduk. “Bagaimana kalau ada yang membantu Adik biar nggak capai?”
Nada suaranya lembut—lebih seperti usulan ilmiah daripada godaan.
Wina meletakkan tas, lalu bertanya datar, “Mau cari pembantu?”
“Jangan pembantulah…” jawab Prabu dengan senyum kecil.
Wina menatapnya tajam. “Terus… mau cari istri lagi?”
Nada itu terdengar seperti bercanda, tapi bercanda yang mengandung taring. Prabu membalas dengan senyum menggoda. “Kalau iya, bagaimana?”
Di situlah jawaban Wina jatuh seperti meteor kecil yang meretakkan permukaan hati Prabu. “Boleh, asal saya dicukupi!”
Kalimat itu terlempar tanpa jeda, seperti peluru.
Prabu terhenti. “Jadi selama ini… belum cukup, Dik?”
Suaranya pelan—bukan marah, tapi sungguh bingung.
“Kurang!” jawab Wina tegas.
Prabu diam. Diam yang panjang dan berat.
Dia, yang memberikan hampir seluruh gajinya untuk nafkah rumah, yang jarang membeli apa pun untuk dirinya sendiri, yang bahkan tidak pernah bertanya berapa gaji seorang guru, merasa seakan-akan 35 tahun perjalanannya sebagai suami runtuh dalam satu kalimat.
Sebagai lelaki yang banyak membaca kitab fikih dan kutipan ulama tentang adab rumah tangga, ia tahu satu hal: kepemimpinan suami bukan hanya soal memberi, tetapi memastikan istri merasa tercukupi. Dan hari itu, Wina merasa tidak.
Ia tidak membalas. Tidak menyalahkan. Tidak mempertahankan diri. Seperti biasa, Prabu memilih diam. Diam yang elegan, penuh perenungan, bukan kalah.
Setelah Prabu berangkat, barulah Wina terguncang. Ia mengulang-ulang percakapan itu. Bayangan Prabu menikah lagi mencuil hatinya sedikit demi sedikit. Sebagai guru yang terbiasa membaca pola emosi, ia tahu Prabu tidak pernah mengeluarkan kata tanpa memikirkannya panjang.
Malam itu, Wina yang biasanya terlelap setelah isya, justru gelisah. Wajahnya pucat oleh bayangan kehilangan.
Deru mobil Prabu di halaman membuatnya bangkit, menepis selimut, lalu bergegas membuka pagar—tindakan yang belum pernah ia lakukan bertahun-tahun.
Ketika Prabu selesai membersihkan diri dan rebah di tempat tidur, Wina langsung memeluknya—rapat, lama, seperti seseorang yang takut kehilangan pegangan terakhir yang tersisa. Prabu terheran, namun ia tidak menyingkir. Malam itu Wina menjadi Wina yang dulu: lembut, penuh kasih, penuh perhatian. Dan Prabu merasakan kembali keindahan yang telah lama hilang dari rumah itu.
***


