Senja Temaram di Cipayung — Bagian 15: Pelukan

Must Read

Malam merayap perlahan di atas Bekasi. Lampu-lampu rumah tetangga satu per satu padam, menyisakan sunyi yang nyaris bisa disentuh. Namun di kamar Prabu, keheningan justru terasa seperti gema dari pergulatan yang tidak diucapkan.

Wina masih memeluknya dengan napas hangat di bahu, tetapi di balik kehangatan itu, Prabu merasakan ketakutan: ketakutan yang tidak membutuhkan kata-kata untuk menjejak.

Ia membalas pelukan itu, bukan karena euforia, bukan pula karena dorongan sesaat, melainkan karena ia memahami bahwa manusia kadang menjadi sangat kecil di hadapan rasa takutnya sendiri. Bagi Prabu, pelukan Wina bukan tanda cinta yang kembali tiba-tiba; itu lebih mirip isyarat seorang perempuan yang tengah memohon agar dunia tidak berubah terlalu cepat.

Ia mengingat perkataan Ibnu Qayyim: “Kadang manusia memeluk bukan karena cinta, tetapi karena cemas kehilangan. Dan keduanya adalah dua getaran yang berbeda.” Getaran yang terasa oleh Prabu malam itu adalah yang kedua.

Milad 117 H Muhammadiyah

Wina akhirnya tertidur dalam pelukannya, tetapi pikiran Prabu tetap terjaga. Ada ruang kecil di dadanya yang dipenuhi simpul-simpul perenungan: tentang nafkah, tentang harga diri, tentang keadilan rumah tangga, tentang perempuan yang selama ini ia lindungi, dan tentang dirinya sendiri sebagai lelaki yang harus memimpin tetapi juga harus jujur pada gelombang di hatinya.

Dan, seperti yang tidak ingin ia akui, pikirannya kembali pada nama lain—Indriani. Bukan cinta, bukan godaan, tetapi kehadiran. Kehadiran yang membuat dirinya kembali merasa dilihat, didengar, dihargai pada frekuensi yang berbeda dari rumahnya sendiri.

Wina mengeratkan pelukan dalam tidurnya seperti anak kecil yang takut kehilangan sesuatu yang sangat ia butuhkan. Prabu mengusap rambutnya perlahan, tetapi pandangan matanya menembus langit-langit kamar. Ia memikirkan kalimat Wina siang tadi—Kurang”.

Satu kata yang membuat 35 tahun pengabdiannya seperti mengecil, seakan seluruh jerih payahnya tidak pernah cukup. Namun Prabu bukan lelaki yang suka berdebat atau meninggikan suara; ia membangun hidupnya dengan teori, data, dan nash. Ia percaya stabilitas emosional adalah sebagian dari kepemimpinan, meski malam itu ia merasakan luka kecil yang ia biarkan mengalir tanpa protes.

Ia teringat pembahasan para ulama mengenai poligami: bahwa syariat tidak memaksa dan tidak pula melarang, tetapi menuntut keadilan dan kejernihan niat. Ia teringat pula pandangan bahwa seorang istri yang merasa cukup menjadikan suaminya aman, tetapi ketika Wina mengatakan ia “kurang”, ada fondasi kecil yang retak dalam jiwa Prabu, bukan pada pernikahan mereka saja, melainkan pada makna dirinya sebagai lelaki.

Ia juga mengingat Viktor Frankl: “Manusia bisa bertahan tanpa banyak hal, kecuali satu: makna.”

Dan entah sejak kapan, makna dalam rumah itu terasa menipis. Ada kasih antara dirinya dan Wina, ada sejarah panjang, ada kebaikan yang berlapis-lapis, tetapi juga ada jarak yang tumbuh perlahan, bukan dalam semalam, melainkan dalam tahun-tahun kelelahan yang tak pernah dibicarakan dengan jujur.

Prabu menatap wajah istrinya lama sekali, meraba kembali masa lalu mereka, lalu berbisik pada dirinya sendiri: Apa yang sebenarnya aku cari? Harmoni atau kejujuran? Dan mungkinkah keduanya berjalan bersisian tanpa saling melukai?

Ia tidak tahu jawabannya. Yang ia tahu hanyalah bahwa pelukan Wina malam itu bukan jawaban, tetapi pesan. Pesan bahwa Wina membutuhkan kepastian, sementara Prabu membutuhkan kejelasan. Dan keduanya belum tentu berada pada jalur yang sama.

Dalam temaram lampu kamar, Wina kembali merapat, seolah dunia bisa merenggut suaminya kapan saja. Namun Prabu tetap terjaga dengan hati yang terasa penuh dan kosong sekaligus—dua rasa yang tidak pernah muncul bersamaan, kecuali ketika seorang lelaki berdiri di persimpangan hidupnya sendiri.

Dan ia tahu, di balik pelukan itu, ada kisah yang masih menunggu untuk muncul ke permukaan: kisah yang selama ini ia sembunyikan dari Wina, dari dirinya sendiri, dan dari malam-malam sunyi yang tak pernah ia hadapi dengan jujur.

Karena mulai saat itu, ia sadar bahwa rumah ini tidak akan sama lagi, dan babak berikutnya sudah mengetuk pintu hidupnya, menuntut untuk dibaca.

***

Serangan Pesawat Nirawak di Gaza Tengah Tewaskan Dua Warga

JAKARTAMU.COM | ​Korban jiwa di jalur Gaza kembali berjatuhan. Sedikitnya dua warga Palestina dilaporkan tewas dan empat lainnya mengalami...

More Articles Like This