SETIAP kita memiliki fase untuk naik dan titik untuk jatuh. Dunia bukan milik siapa-siapa. Ia hanyalah panggung fana tempat manusia diuji dengan peran masing-masing. Maka, jangan pernah merasa tinggi di hadapan sesama, sebab kita semua hanyalah hamba yang kelak akan kembali ke tanah.
Hidup ini pada hakikatnya adalah perjalanan untuk kembali kepada Allah. Di sepanjang perjalanan itu, Allah uji manusia dengan berbagai hal: harta, jabatan, ilmu, dan gelar. Maka, seseorang yang diuji dengan kekayaan, sejatinya sedang diberi amanah untuk membuktikan apakah kekayaannya membuatnya semakin dekat kepada Allah atau justru menjadikannya pongah, lupa diri dan angkuh kepada sesama.
Allah ﷻ berfirman:
وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّكَ لَنْ تَخْرِقَ الْأَرْضَ وَلَنْ تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولًا

“Dan janganlah engkau berjalan di muka bumi dengan sombong. Sesungguhnya engkau tidak akan dapat menembus bumi dan tidak akan dapat menyamai gunung dalam ketinggian.” (QS. Al-Isra: 37)
Ayat ini menegur mereka yang merasa besar karena harta, kuasa, atau pangkat. Padahal sehebat apapun manusia, ia tidak akan bisa melebihi bumi yang dipijaknya atau menandingi tinggi gunung yang menjulang. Ini adalah isyarat bahwa manusia harus menyadari keterbatasannya.
Nabi Muhammad ﷺ adalah manusia paling mulia, namun tetap bersikap rendah hati. Beliau bersabda:
مَنْ تَوَاضَعَ لِلَّهِ رَفَعَهُ اللَّهُ
“Barangsiapa yang merendahkan diri karena Allah, maka Allah akan mengangkat derajatnya.” (HR. Muslim)
Kesombongan lahir dari merasa lebih daripada orang lain. Padahal setiap yang dimiliki hari ini baik uang, jabatan, gelar maupun ilmu bisa diambil seketika oleh Allah. Maka, angkuh karena apa? Bukankah semuanya hanya titipan yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban?
Ada banyak orang berubah ketika hartanya bertambah. Nada bicaranya meninggi, tutur katanya menyakiti. Jabatan membuat gaya bicaranya kaku dan berjarak. Gelar akademis mengikis keluwesan sikap, hingga menjadikan ilmu sebagai alasan untuk merasa lebih tinggi. Padahal seharusnya ilmu menundukkan kepala, bukan meninggikannya.
Allah ﷻ berfirman:
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
“Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya adalah para ulama (orang yang berilmu).” (QS. Fathir: 28)
Ilmu sejati bukan yang membuat seseorang merasa tahu segalanya, tetapi yang membuatnya takut kepada Allah dan sadar bahwa dirinya tak tahu apa-apa dibanding keluasan ilmu-Nya. Seorang alim sejati tak akan membanggakan ilmunya, apalagi merendahkan orang lain yang tak punya kapasitas seperti dirinya.
Demikian juga dengan jabatan. Betapa banyak orang yang semula ramah dan bersahaja, berubah menjadi arogan saat memiliki posisi. Padahal jabatan hanyalah titipan. Ia seperti pakaian pinjaman yang suatu saat harus dikembalikan. Tidak ada yang abadi. Bahkan para nabi pun wafat, apalagi seorang pejabat.
Rasulullah ﷺ bersabda:
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Jadi, tak layak seseorang menyombongkan jabatan yang sejatinya adalah amanah berat yang akan dipertanyakan kelak di hadapan Allah. Sungguh merugi orang yang menjadikan jabatan untuk meninggikan dirinya di hadapan manusia, tetapi lupa bahwa di hadapan Allah, semua manusia sama, yang membedakan hanyalah ketakwaan.
Allah ﷻ berfirman:
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)
Maka, jadikan setiap kelebihan yang dimiliki sebagai sarana untuk semakin merendah. Uang, gelar, jabatan, dan ilmu hanyalah kendaraan untuk mengantar kita lebih dekat kepada Allah, bukan justru menjauhkan.
Satu hal yang sering dilupakan manusia adalah bahwa setiap orang punya gilirannya untuk diuji. Hari ini seseorang berada di puncak, esok bisa saja tergelincir ke lembah yang dalam. Maka, jangan pernah merasa aman dari jatuh. Sebab yang tak punya jatah sombong adalah manusia. Adapun Allah, hanya Dia yang berhak memiliki kesombongan.
Nabi ﷺ bersabda:
الْكِبْرِيَاءُ رِدَائِي وَالْعَظَمَةُ إِزَارِي، فَمَنْ نَازَعَنِي وَاحِدًا مِنْهُمَا قَذَفْتُهُ فِي النَّارِ
“Kesombongan adalah selendang-Ku dan keagungan adalah pakaian-Ku. Siapa yang menyaingi Aku dalam salah satu dari keduanya, maka akan Aku lemparkan dia ke dalam neraka.” (HR. Muslim)
Karenanya, kita harus selalu bercermin pada diri Nabi ﷺ, yang meskipun dijamin surga, tetap berdoa agar dijauhkan dari sifat ujub dan sombong. Kita harus belajar untuk senantiasa rendah hati, bersikap lembut kepada sesama, dan menyadari bahwa kita bukan siapa-siapa tanpa izin dan rahmat Allah.
Menjadi hamba yang rendah hati adalah ciri orang beriman. Mereka tak merasa lebih suci dari orang lain, sebab mereka sadar bahwa hanya Allah yang mengetahui isi hati setiap manusia. Bisa jadi orang yang kita pandang rendah, justru lebih tinggi derajatnya di sisi Allah karena keikhlasannya, kesabarannya, dan kerendahan hatinya.
Mari kita renungkan. Jika suatu saat kita merasa lebih karena kekayaan, tanyakan pada diri: berapa banyak yang sudah kita sedekahkan? Jika kita merasa lebih karena jabatan, tanyakan: berapa banyak rakyat kecil yang terbantu karena keputusan kita? Jika merasa tinggi karena gelar, tanyakan: berapa banyak ilmu yang sudah diamalkan? Dan jika kita bangga karena ilmu, tanyakan: apakah ilmu itu sudah membuat kita lebih takut kepada Allah?
Semoga Allah menjadikan kita hamba yang senantiasa rendah hati, yang tidak berubah oleh limpahan dunia, dan yang tidak menyombongkan diri atas apa yang telah dititipkan-Nya kepada kita. Sebab kita semua hanyalah penumpang di atas bumi, yang suatu hari akan kembali ke tanah, sendirian, tanpa harta, tanpa jabatan, tanpa gelar, dan tanpa pengikut.
وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ
“Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Qashash: 83)


