Oleh Miftah H. Yusufpati
PAGI di Tanah Abang selalu dimulai dengan deru. Asap knalpot bercampur uap kopi murah, teriakan kuli angkut beradu dengan denting sendok di gelas-gelas kafe kecil yang berjejer di gang-gang sempit. Kota belum sepenuhnya terjaga, tetapi pasar telah lebih dulu hidup—sebuah organisme raksasa yang bernapas lewat transaksi dan tawar-menawar.
Di salah satu kafe itulah Nenden bekerja. Seragamnya sederhana, rambutnya disanggul rapi. Geraknya cekatan, matanya jarang menetap terlalu lama pada siapa pun. Sejak perceraian itu, ia belajar menjaga jarak—sebuah mekanisme pertahanan yang dalam psikologi dikenal sebagai boundary setting, upaya sadar untuk melindungi diri dari pengulangan luka.
Pagi itu, Andrinov datang lagi.

Kolega-kolega Nenden saling pandang—sebuah kesepakatan tanpa kata. Mereka tahu pola: lelaki itu selalu memilih jam makan siang, duduk di meja yang sama, memesan menu yang itu-itu saja. Maka mereka memberi ruang. Bukan karena cemburu, melainkan karena di Tanah Abang, setiap peluang dianggap sah selama tak melanggar aturan kerja.
Andrinov memperhatikan Nenden dengan cara yang terlatih. Ia pedagang garment dan kain—nama yang cukup dikenal di lantai atas Pasar Tanah Abang. Gudang-gudangnya menyimpan gulungan tekstil dari Bandung dan Solo; kontainer-kontainer kecil berangkat rutin ke Malaysia. Di negeri jiran itu, ia punya saudara—jaringan distribusi yang memastikan pakaiannya berpindah tangan dengan cepat. Uang mengalir baginya seperti arus sungai yang sudah mengenal jalurnya.
Kekayaan, seperti ditulis Max Weber, bukan sekadar akumulasi modal, melainkan juga habitus—cara seseorang berjalan, berbicara, memandang dunia. Andrinov tahu bagaimana bersikap sabar, bagaimana memberi tanpa tampak meminta. Ia paham betul bahwa bagi perempuan yang lelah, kebaikan kecil bisa terasa seperti pertolongan besar.
Ia memesan kopi hitam. Tanpa gula.
“Terima kasih, Neng,” katanya ketika Nenden meletakkan cangkir.
Nenden mengangguk singkat. Ia merasakan tatapan itu, tetapi memilih menunduk. Dalam benaknya, ia mengingat satu prinsip sederhana dari psikologi trauma: hypervigilance—kewaspadaan berlebihan—bisa melelahkan, namun seringkali menyelamatkan.
Andrinov sudah beristri.
Pernikahan itu hasil perjodohan orang tua—sebuah praktik yang dalam sosiologi keluarga Minangkabau bukan hal asing. Istrinya tinggal di Sawahlunto, Sumatera Barat, bersama keluarga besarnya. Jarak geografis menjadi jarak emosional. Dalam teori relasi, keterpisahan berkepanjangan kerap melahirkan emotional disengagement—bukan perceraian, melainkan pernikahan yang berhenti bertumbuh.
Andrinov tidak menganggap dirinya bersalah. Ia sering membungkus keinginannya dengan dalil. Bukankah poligami dibolehkan? Bukankah Islam memberi ruang?
Namun Nenden tahu—dan pengalaman mengajarkannya lebih keras daripada kitab mana pun—bahwa kebolehan tidak identik dengan kebenaran moral. Ia teringat peringatan Imam Al-Ghazali: keadilan bukan sekadar pembagian materi, melainkan kejujuran niat dan kejernihan hati. Syekh Muhammad Abduh bahkan menegaskan bahwa poligami adalah rukhshah—keringanan—yang syaratnya hampir mustahil dipenuhi di zaman di mana perempuan menuntut martabat setara.
Andrinov menyesap kopinya, lalu tersenyum tipis. Ia menyelipkan uang tip di bawah tatakan—lebih besar dari biasanya. Sebuah isyarat halus.
Nenden melihatnya. Jantungnya berdegup. Di satu sisi, kebutuhan ekonomi adalah fakta biologis dan sosial. Abraham Maslow menempatkan keamanan finansial tepat di atas kebutuhan fisiologis. Di sisi lain, ada luka yang belum menutup—bekas sayatan kebohongan yang belum sembuh.
Ia menarik napas.
“Terima kasih,” katanya akhirnya, suaranya datar.
Andrinov mengangguk, puas. Ia percaya waktu akan bekerja untuknya. Ia percaya kebaikan yang diulang akan melunakkan penolakan.
Nenden berbalik menuju dapur. Tangannya sedikit gemetar. Ia tahu pola ini. Ia pernah berada di sana—di titik ketika perhatian terasa seperti penyelamatan. Kali ini, ia berjanji pada dirinya sendiri: tidak lagi.
Di Tanah Abang, di antara gulungan kain dan cangkir kopi, Nenden belajar satu hal yang tak diajarkan siapa pun: bahwa bertahan hidup bukan hanya soal uang, melainkan juga keberanian untuk berkata tidak—bahkan ketika dunia menawarkan kemudahan.
Dan di situlah madu pahit itu kembali terasa: manis di bibir, pahit di ingatan. Namun Nenden telah memutuskan—ia tak akan meneguknya untuk kedua kalinya.
***


