Sore itu, Nenden berdiri di dalam bus ekonomi yang penuh sesak, baru saja meninggalkan Tanah Abang menuju Pondok Gede. Tubuh-tubuh saling berhimpitan, napas bercampur bau keringat, plastik, dan kelelahan yang menempel seperti lapisan tak kasatmata. Pegangan tangan bergoyang mengikuti hentakan rem mendadak, sementara suara kondektur bercampur klakson dari luar, membentuk orkestra kota yang tak pernah benar-benar peduli pada individu di dalamnya.
Di ruang sempit itu, ponsel bukan lagi alat komunikasi, melainkan benda mati yang terkubur di dalam tas. Bagi Nenden, perjalanan dengan bus bukan sekadar perpindahan tempat. Ia adalah ritual harian tentang ketahanan. Dalam sosiologi transportasi, moda semacam ini disebut ruang kelas sosial—tempat mereka yang tidak punya pilihan belajar bertahan, menahan diri, dan menerima ketidaknyamanan sebagai harga hidup.
Bus melaju, meninggalkan gedung-gedung padat Tanah Abang, menuju jalan-jalan panjang ke pinggiran. Cahaya sore melembut, menyusup melalui kaca buram, seolah kota sendiri sedang menarik napas sebelum malam turun.
Malam tiba di Pondok Gede dengan cara yang sama setiap hari: pelan, nyaris tak terasa, seperti luka lama yang terlalu sering disentuh hingga tubuh berhenti bereaksi. Di rumah kontrakan kecil itu, Nenden menutup pintu, menggantungkan tas kerjanya, lalu berjalan ke kamar mandi. Ia berwudu—ritual yang ia pertahankan bukan semata kewajiban agama, melainkan jeda biologis dan batiniah. Air dingin yang menyentuh wajah dan lengannya bekerja seperti tombol ulang. Dalam neuropsikologi, ini dikenal sebagai somatic regulation: tubuh menenangkan dirinya sendiri lewat gerak yang berulang dan bermakna.

Selesai berwudu, Mbok Rani menyerahkan Nabila kepada Nenden. Selanjutnya, bayi itu menyusu dengan rakus, seolah dunia hanya ada pada kehangatan dada ibunya. Dalam fisiologi, momen ini dikenal sebagai bonding phase, saat hormon oksitosin dilepaskan untuk memperkuat ikatan ibu dan anak. Namun bagi Nenden, ini lebih dari sekadar reaksi kimia. Ini adalah satu-satunya relasi dalam hidupnya yang tak menuntut penjelasan, tak meminta pembuktian, dan tak menyimpan jebakan.
Tak lama kemudian, Nabila terlelap.
Keheningan pecah oleh getaran ponsel.
Nomor asing.
Nenden ragu sesaat, lalu mengangkat.
“Halo?”
Di seberang sana, suara perempuan tua terdengar terbata—lahir dari napas panjang dan harap yang terlalu lama ditahan.
“Nen… ini Mama.”
Nenden tercekat.
“Iya, Ma?”
Iis meminjam ponsel tetangganya. Di rumah kecil Cipayung itu, ia memang tak pernah memiliki telepon sendiri. Hidupnya selalu bersandar pada orang lain—seperti dulu, ketika ia juga menjadi madu dalam pernikahan yang gagal dan membesarkan anak-anaknya dengan tangan sendiri. Sejarah, rupanya, gemar mengulang luka melalui garis keturunan.
“Kamu ke mana saja, Nen… Mama khawatir.”
Sejak bercerai dengan Daniel, Nenden memilih diam. Ia tak ingin membagi kepedihan dengan ibunya—bukan karena tak percaya, melainkan karena cinta. Dalam psikologi keluarga, ini disebut protective silence: upaya anak melindungi orang tua dengan menyembunyikan penderitaan sendiri. Sayangnya, diam sering kali hanya memindahkan luka, bukan menyembuhkannya.
“Kamu pulanglah,” lanjut Iis lirih. “Kita mulai dari nol. Mama masih punya tanah kecil di pinggir jalan. Kita buka toko. Nggak besar, tapi cukup. Yang penting kamu dekat Mama.”
Rayuan itu sederhana, nyaris naif. Namun di dalamnya tersimpan seluruh naluri keibuan. Dalam sosiologi ekonomi keluarga, usaha kecil berbasis rumah tangga sering menjadi strategi bertahan perempuan pasca-krisis. Iis tak tahu istilahnya. Ia hanya tahu hidup harus dilanjutkan.
“Ma… aku pulang dulu,” jawab Nenden pelan. “Aku butuh waktu.”
Sambungan terputus. Dadanya terasa sesak. Ia menatap Nabila yang tertidur, napas bayi itu teratur, jujur, dan tak memikul beban apa pun. Dalam batinnya, dua tarikan hidup saling bertabrakan: bertahan sendiri atau kembali ke akar.
Malam itu, Nenden hampir tak tidur.
Keesokan paginya, cahaya datang dengan warna kelabu. Di kafe Tanah Abang, Nenden meminta izin cuti. Pemilik kafe mengangguk tanpa banyak tanya—kota besar mengajarkan orang untuk tidak mencampuri urusan luka orang lain. Ia pulang agak siang, tidak seperti biasanya. Keputusan sudah diambil, meski hatinya belum sepenuhnya tenang.
Andrinov tidak mengetahui itu.
Di Tanah Abang, jeep hitam Andrinov melaju pelan di antara deretan toko tekstil, gerobak makanan, dan manusia-manusia yang sejak pagi menawar nasib. Di kota ini, waktu adalah uang, dan keterlambatan kerap dianggap kegagalan moral. Segalanya bergerak cepat, seolah hidup hanya sah bila dikejar.
Ia menghentikan kendaraannya di tempat yang sudah dikenalnya: halte bus kecil tak jauh dari kafe tempat Nenden bekerja. Di sanalah perempuan itu biasa menunggu bus pulang—berdiri dengan tas di bahu, tubuh sedikit condong ke depan, seperti seseorang yang selalu siap pergi kapan saja.
Sore itu, halte itu kosong.
Tak ada Nenden. Tak ada sosok sederhana dengan mata yang selalu tampak waspada. Tak ada gerak kecil membetulkan tas atau tatapan ke jalan, seakan menghitung kemungkinan. Yang ada hanya deru kendaraan, klakson bersahutan, dan bau aspal yang menghangat oleh matahari senja.
Andrinov menunggu.
Lima menit.
Sepuluh.
Dua puluh.
Dalam teori probabilitas, absennya satu variabel bisa saja kebetulan. Namun manusia jarang tenang menghadapi anomali. Seperti ditulis Daniel Kahneman, pikiran manusia terikat pada pola; ketika pola itu terganggu, kegelisahan muncul bukan karena bahaya nyata, melainkan karena hilangnya prediktabilitas.
Ia menyalakan mesin kembali. Jeep bergerak perlahan, lalu berhenti di tempat parkir yang agak teduh. Dari sana, Andrinov berjalan menuju kafe kecil di sudut jalan—bangunan dua lantai dengan papan nama kusam, tempat Nenden bekerja sejak beberapa bulan terakhir.
“Nenden?” tanyanya singkat.
Pemilik kafe menggeleng.
“Baru pulang. Dia ambil cuti.”
Kalimat itu jatuh di dada Andrinov seperti benda padat yang tak bisa ditawar. Ia keluar tanpa menoleh lagi. Di dalam jeep, ia menelepon.
Satu panggilan. Tidak terangkat.
Dua.
Tiga. Tetap sunyi.
Andrinov tidak tahu—dan tidak mungkin tahu—bahwa ponsel itu kini berada jauh di dalam tas Nenden, diapit botol susu dan pakaian bayi, bersama keputusan yang telah mengeras menjadi tekad.
Tentang cinta, Andrinov terbiasa percaya bahwa ketekunan adalah bukti kesungguhan. Namun ia lupa satu hal yang ditulis Erich Fromm: cinta bukan soal memiliki, melainkan soal memahami kebebasan orang lain. Dan Nenden adalah kebebasan yang tidak mudah dijinakkan.
Tentang agama dan pernikahan, Nenden sendiri telah lama belajar membedakan antara teks dan tafsir, antara ayat dan kepentingan. Tentang poligami, ia tidak menolaknya secara teoretis. Ia tahu sejarahnya. Ia membaca tafsir. Ia paham bahwa banyak ulama besar—dari Muhammad Abduh hingga Fazlur Rahman—menekankan bahwa poligami adalah rukhshah sosial, bukan ideal moral. Bahkan Ibnu Ashur menyebut keadilan sebagai syarat yang hampir mustahil dipenuhi secara batin.
Masalahnya bukan pada ayat, melainkan pada siapa yang menafsirkannya dan untuk kepentingan apa.
Sore itu, di Pondok Gede, Nenden mulai berkemas. Baju-baju Nabila dilipat rapi. Botol susu dimasukkan ke tas. Hidupnya kini bisa diringkas dalam beberapa kilogram beban.
Ia menghela napas panjang.
Besok pagi, ia akan pulang ke Cipayung.
Bukan sebagai perempuan yang kalah, melainkan sebagai perempuan yang memilih hidup dengan sadar. Seperti madu pahit yang pernah ia telan, ia tahu kini: kepahitan bukan kutukan, melainkan pengetahuan—agar kelak, ketika manis datang lagi, ia tahu cara mencicipinya tanpa tersesat.
***


