Madu Pahit Nenden — Bagian 4: Pulang

Must Read

Cipayung adalah sebuah desa yang bersandar di lereng Megamendung, Kabupaten Bogor. Desa itu tak pernah tercantum dalam peta wisata populer, tetapi justru di sanalah kehidupan nyata berlangsung—sunyi, berat, dan terus bergerak. Rumah-rumah berdinding semen berdiri berdekatan, sebagian menyelip di antara kebun dan kontur tanah yang naik-turun seperti napas panjang pegunungan.

Setiap pagi, sebelum matahari benar-benar muncul dari balik Gunung Pangrango, Nenden sudah bersiap. Ia menuruni jalan kecil dari rumahnya menuju Jalan Raya Puncak—jalur yang saban hari dipenuhi kendaraan, klakson, dan emosi yang saling bertubrukan. Jalan itu bukan sekadar lintasan fisik, melainkan ruang sosial tempat kelas, niat, dan nasib saling bersinggungan.

Dalam ilmu transportasi perkotaan, kemacetan adalah gejala struktural, hasil pertemuan antara kapasitas jalan yang terbatas dan kebutuhan mobilitas yang tak pernah puas. Namun bagi Nenden, macet di Puncak adalah metafora hidupnya sendiri: bergerak, tetapi tertahan; berjalan, tetapi sering dipaksa berhenti.

Bus pariwisata, mobil keluarga, sepeda motor, hingga pedagang kaki lima membentuk irama yang kacau. Dari balik kaca kendaraan, ia sering melihat wajah-wajah yang sama: wisatawan yang ingin berbahagia sejenak, sopir yang mengejar setoran, dan perempuan-perempuan yang berdandan terlalu pagi demi janji yang tak selalu bermuara pulang.

Milad 117 H Muhammadiyah

Megamendung sendiri adalah wilayah yang unik secara ekologis. Awan-awan tebal kerap turun rendah, menyelimuti jalan dan rumah seperti tirai tipis. Dalam ilmu klimatologi, fenomena ini disebut orographic cloud formation—awan yang terbentuk karena udara lembap dipaksa naik oleh pegunungan. Namun bagi Nenden, awan Megamendung adalah simbol: keindahan yang lahir dari tekanan.

Ia sering berpikir, hidupnya pun demikian.

Cipayung adalah desa yang hidup dari perlintasan. Tidak sepenuhnya agraris, tidak pula sepenuhnya urban. Banyak warganya berdagang kecil-kecilan, membuka warung, menyewakan vila, atau bekerja di sektor informal pariwisata. Perempuan-perempuannya tangguh—terbiasa memikul peran ganda: ibu, pekerja, dan penyangga emosi keluarga.

Di desa inilah Nenden belajar tentang ketahanan perempuan jauh sebelum ia mengenal istilah itu dalam artikel psikologi. Ia menyaksikan bagaimana ibu-ibu tetap tersenyum meski suami jarang pulang, bagaimana anak-anak tumbuh di sela ketidakpastian, dan bagaimana agama kerap menjadi satu-satunya pegangan ketika sistem sosial gagal memberi perlindungan.

Setiap kali terjebak macet di Jalan Puncak, Nenden merenung. Jalan itu mengajarkannya satu hal penting: hidup tidak selalu tentang seberapa cepat sampai, melainkan tentang mengapa seseorang memilih terus berjalan.

Seperti kata Albert Camus, “Di tengah musim dingin yang paling gelap, aku akhirnya belajar bahwa di dalam diriku ada musim panas yang tak terkalahkan.” Bagi Nenden, musim panas itu adalah keteguhan—yang tumbuh pelan-pelan di Cipayung, di bawah awan Megamendung, di antara jalan yang selalu padat tetapi tak pernah benar-benar menghentikannya.

Puncak selalu hiruk pikuk. Sejak Jalan Tol Jagorawi resmi beroperasi pada 9 Maret 1978, arus manusia dari Jakarta ke arah selatan seolah menemukan sungainya. Lima puluh sembilan kilometer beton dan aspal itu bukan sekadar jalur transportasi, melainkan lorong psikologis—jalur pelarian dari panas, bising, dan kelelahan kota.

Puncak pun menjelma destinasi.

Sekitar tujuh puluh kilometer dari ibu kota, kawasan yang diapit Kabupaten Bogor dan Cianjur itu selalu penuh pada akhir pekan. Mobil berpelat Jabodetabek beriringan seperti ziarah massal modern: keluarga, pasangan, rombongan, bahkan mereka yang datang sendirian—masing-masing membawa harapan akan jeda.

Letak geografis Puncak yang berada di ketinggian 700 hingga 1.800 meter di atas permukaan laut, di antara Gunung Gede, Pangrango, Salak, dan Pegunungan Jonggol, menciptakan iklim sejuk yang nyaris terapeutik. Suhu berkisar antara 14 hingga 20 derajat Celsius—cukup untuk membuat napas terasa panjang dan pikiran melambat.

Perkebunan teh Gunung Mas seluas lebih dari dua ribu hektare membentang seperti permadani hijau raksasa. Dalam ilmu ekologi lanskap, bentang alam seperti ini terbukti menurunkan kadar kortisol manusia. Tak heran, Puncak selalu dirindukan warga kota.

Akses menuju kawasan ini pun relatif mudah. Dari Simpang Gadog hingga Istana Cipanas sejauh 32 kilometer, jalan mengalir mengikuti kontur bukit. Orang bisa datang dengan mobil pribadi melalui Tol Jakarta–Bogor–Ciawi, atau dengan kereta rel listrik Jakarta–Bogor yang telah beroperasi sejak 1925—warisan kolonial yang masih setia mengantar manusia mencari udara dingin dan pikiran hangat.

Bahkan Jalan Raya Jakarta–Bogor atau Jalan Nasional Rute 2 yang dibangun sejak era Herman Willem Daendels pada awal abad ke-19, tetap menjadi saksi bahwa Puncak tak pernah benar-benar jauh dari pusat kekuasaan maupun pusat kelelahan.

Namun, sebagaimana alam selalu memiliki sisi bayangan, Puncak pun menyimpan lapisan yang jarang dipotret dalam brosur wisata.

Kawasan ini bukan ruang steril dari praktik-praktik gelap.

Vila-vila yang disewakan per jam berdiri berdampingan dengan penginapan keluarga. Tarif murah, waktu singkat, dan anonimitas menjadikan sebagian wilayah sebagai ruang transaksi tubuh. Dalam kajian sosiologi moral, wilayah semacam ini disebut moral frontier—ruang di mana nilai-nilai menjadi cair akibat pertemuan kebutuhan ekonomi, arus wisata, dan lemahnya kontrol sosial.

Yang lebih kompleks, praktik-praktik itu kerap dibungkus dengan istilah keagamaan. Nikah siri, nikah mut’ah, hingga nikah misyar beredar sebagai istilah yang terdengar sah, meski sering kehilangan roh tanggung jawab.

Nenden mengenal istilah-istilah itu bukan dari buku fikih, melainkan dari kenyataan hidup—dari kisah perempuan-perempuan yang ia temui, dari luka yang tak tercatat.

Di Puncak, Nenden menyaksikan bagaimana teks agama dapat kehilangan makna ketika dilepaskan dari etika. Sebagian lelaki datang membawa dalil, tetapi pulang meninggalkan beban. Sebagian perempuan menerima akad, tetapi kehilangan perlindungan.

Dalam ilmu ekonomi politik, relasi semacam ini disebut unequal exchange—pertukaran yang timpang, di mana satu pihak selalu menanggung risiko lebih besar.

Nenden tidak menghakimi. Ia belajar memahami.

Seperti kata Hannah Arendt, “Memahami berarti menolak untuk berpaling, bahkan ketika yang kita lihat menyakitkan.” Dan Puncak, dengan segala keindahan dan kontradiksinya, mengajarkannya satu hal penting: tidak semua yang sejuk itu menenangkan, dan tidak semua yang sah itu adil.

Bagi Nenden, Puncak bukan sekadar tempat. Ia adalah cermin.

Cermin tentang bagaimana manusia sering mencari ketenangan di ketinggian, tetapi lupa membersihkan niat di kedalaman. Dan pengalaman inilah yang kelak membuat Nenden berhati-hati—ketika cinta datang kembali, membawa nama agama, membawa janji keadilan, dan membawa kemungkinan poligami.

Karena ia telah belajar, di lereng-lereng inilah, bahwa madu bisa terasa paling pahit ketika keindahan menutupi ketidakjujuran. (Bersambung ke Bagian 5)

Perkuat Dakwah Urban, Muhammadiyah Jakarta Selatan Bangun Sinergi Strategis

JAKARTAMU.COM | Kolaborasi antarcabang dalam struktur organisasi menjadi kunci penting untuk memperluas dampak sosial dan keagamaan bagi masyarakat. Semangat...

More Articles Like This