Oleh Miftah H. Yusufpati
PAGI itu Pondok Gede masih basah oleh embun sisa malam. Cahaya matahari menyelinap malu-malu di sela atap rumah petak, memantul pada genangan kecil di jalanan sempit. Nenden berdiri di ambang pintu, menggendong Nabila yang terlelap di dadanya. Bayi itu hangat, napasnya teratur—ritme biologis yang menenangkan, seperti metronom alami yang menjaga kewarasan ibunya. Detak hidup kecil itu menjadi satu-satunya kepastian di tengah dunia yang telah berkali-kali berbohong padanya.
Mbok Rani berdiri di hadapannya. Perempuan tua itu merapikan selendang lusuh di bahunya, menahan kata-kata yang tak perlu diucapkan. Wajahnya keriput oleh usia dan kerja panjang, tetapi matanya jernih. Dalam sosiologi keluarga, figur seperti Mbok Rani disebut fictive kin—bukan keluarga sedarah, tetapi hadir dengan kesetiaan yang sering kali lebih nyata daripada hubungan formal.
“Jaga diri, Neng,” katanya pelan, hampir berbisik. “Anak itu titipan Tuhan.”

Nenden mengangguk. Ia mencium tangan Mbok Rani, sebuah gestur yang bukan sekadar adat, melainkan pengakuan akan hutang kemanusiaan. Ia tahu, tak semua kehadiran dibayar dengan uang. Ada yang dibayar dengan ingatan, dengan doa yang diam-diam dipanjatkan seseorang setiap malam.
Dengan tas pakaian secukupnya di tangan, Nenden melangkah menuju jalan besar. Ia memilih kendaraan umum—bukan karena murah semata, melainkan karena perjalanan panjang itu memberinya waktu untuk berpikir. Dalam psikologi kognitif, perjalanan repetitif dikenal sebagai default mode activation, kondisi ketika pikiran mengolah makna tanpa dipaksa, saat luka dan harap saling bertemu tanpa saling menghakimi.
Dari Pondok Gede, ia menaiki angkot menuju Terminal Kampung Rambutan. Angkot tua itu berderit, dipenuhi bau solar, peluh manusia, dan sisa parfum murah. Nenden berdiri sambil menahan guncangan, menggendong Nabila erat. Adaptasi adalah kunci kelangsungan hidup. Tubuhnya telah belajar menyeimbangkan diri—antara jatuh dan bertahan, antara percaya dan curiga.
Begitu turun di Terminal Kampung Rambutan, hiruk-pikuk Jakarta menyergap tanpa ampun. Terminal itu seperti orga-nisme hidup: berisik, penuh gesekan, dan selalu lapar. Calo-calo bus berkeliaran seperti pemangsa, mata mereka cepat menilai siapa yang ragu.
“Bogor, Bu! Bogor langsung!”
“Baranangsiang! Cepat berangkat!”
“Bawa bayi? Sini, Bu, aman!”
Salah satu calo menarik lengan Nenden. Refleks ia menepis.
“Bang, jangan ditarik,” katanya tegas, suaranya bergetar menahan takut.
“Biar saya bantu, Bu,” jawab calo itu setengah memaksa. “Kasihan bayinya.”
Nenden memeluk Nabila lebih erat. Ia tahu, di ruang-ruang publik seperti ini, empati sering bercampur dengan niat lain. Seorang perempuan setengah baya yang berdiri tak jauh darinya mendekat.
“Pelan-pelan, Dek,” katanya. “Kalau bawa anak kecil, jangan mau ditarik-tarik.”
Nenden mengangguk berterima kasih. Solidaritas kecil itu, dalam teori psikologi sosial, disebut shared vulnerability—kedekatan yang lahir karena sama-sama rapuh. Ia akhirnya naik bus jurusan Bogor menuju Terminal Baranangsiang. Di dalam bus, ia duduk di samping jendela. Seorang ibu muda dengan keranjang sayur duduk di sebelahnya.
“Pulang kampung?” tanya perempuan itu ramah.
“Iya, Bu. Ke Cipayung,” jawab Nenden.
“Bawa bayi sendirian? Kuat, ya.”
“Dipaksa kuat,” Nenden tersenyum tipis.
Bus melaju, meninggalkan Jakarta perlahan. Gedung-gedung beton berganti pepohonan. Polusi menipis, udara mengendur. Perempuan di sampingnya bercerita tentang suaminya yang bekerja serabutan, tentang harga bahan pokok yang naik, tentang hidup yang tak pernah benar-benar longgar. Nenden mendengarkan. Dalam sosiologi naratif, berbagi cerita adalah cara manusia memastikan bahwa penderitaannya bukan anomali.
Setiba di Terminal Baranangsiang, Nenden kembali menghadapi keramaian. Dari sana ia naik angkot hijau-biru menuju Pasar Ciawi. Jalanan Bogor basah oleh hujan semalam, aspal memantulkan cahaya pucat langit. Seorang bapak tua di dalam angkot menatap Nabila.
“Anak perempuan ya?”
“Iya, Pak.”
“Jaga baik-baik. Dunia sekarang keras, terutama ke perempuan.”
Kalimat itu sederhana, tetapi menghunjam. Dari Ciawi, ia berganti angkot biru jurusan Cisarua—arah Puncak. Mesin meraung menanjak, membawa penumpang melewati kebun teh yang menghampar seperti sajadah raksasa. Kabut turun perlahan, menyamarkan puncak-puncak bukit.
Di ketinggian itu, udara lebih dingin. Nenden memeluk Nabila lebih erat. Dalam teologi Islam, perjalanan disebut safar—bukan hanya perpindahan fisik, tetapi juga ujian niat. Ibnu Qayyim al-Jauziyah menulis bahwa perjalanan menyingkap hakikat diri manusia: apa yang ia kejar, dan apa yang ia tinggalkan.
Cipayung menunggunya di ujung rute—kampung yang tenang, jauh dari hiruk-pikuk Tanah Abang dan Pondok Gede. Di sanalah Iis, ibunya, menanti dengan cemas dan harap yang bercampur. Cipayung bukan sekadar tempat asal; ia adalah arsip hidup, menyimpan sejarah perempuan-perempuan yang bertahan meski dilukai oleh sistem, oleh laki-laki, oleh tafsir agama yang timpang.
Nenden sadar, pulang kali ini bukan kemunduran. Dalam teori migrasi sosial, ini disebut strategic return—kembali untuk menyusun ulang daya hidup. Ia membawa Nabila, membawa pe-ngalaman, membawa madu pahit yang telah mengajarinya satu pelajaran penting tentang pernikahan, poligami, dan kejujuran.
Angkot berhenti. Nenden turun.
Di udara Puncak yang dingin, dengan kabut menyentuh ujung rambutnya, Nenden melangkah ke Cipayung sebagai perempuan yang tidak lagi naif. Ia mungkin telah mencicipi madu yang pahit, tetapi dari sanalah ia belajar membedakan manis yang jujur dari racun yang disamarkan.
Dan perjalanan itu—dari Pondok Gede ke Cipayung—bukan sekadar rute angkot dan bus, melainkan lintasan kesadaran: dari tertipu menuju tahu, dari bertahan menuju memilih.
***


