Nenden ragu. Ia menerima rokok itu seperti menerima sesuatu yang asing, nyaris terlarang. Selama ini, ia menjaga tubuhnya seperti ia menjaga nama baik: ketat, hati-hati, penuh batas. Namun sore itu, di antara perempuan-perempuan yang telah lebih dulu patah, batas itu terasa rapuh.
Ia mengisap.
Asap pertama membuat dadanya perih. Ia terbatuk, matanya berair. Icha tertawa kecil, Susi tersenyum miring. Tak ada ejekan, hanya pengakuan diam bahwa setiap orang punya kali pertama yang canggung.
“Tarik pelan,” kata Yuni. “Jangan dilawan.”

Nenden mencoba lagi. Kali ini lebih hati-hati. Asap itu masuk, kasar namun hangat. Tak ada kenikmatan yang bisa ia sebut manis, tetapi ada sesuatu yang lain: rasa menyatu. Seolah ia baru saja melewati satu ambang tak tertulis. Bukan menuju kebebasan, melainkan menuju kebersamaan.
Lama-lama, batuk itu reda. Tubuhnya menyesuaikan diri. Dalam biologi evolusioner, adaptasi bukan tentang kenyamanan, melainkan tentang bertahan. Dan Nenden, tanpa menyadarinya, sedang belajar satu bentuk adaptasi kecil.
Asap naik ke langit-langit, bercampur dengan kabut yang menyelinap dari jendela. Di luar, Puncak mulai dingin. Di dalam, ruang itu menjadi hangat oleh cerita yang tak selalu diucapkan.
Mereka merokok bukan karena ingin terlihat kuat, melainkan karena lelah terlalu lama berpura-pura baik-baik saja. Rokok itu bukan simbol kebebasan, melainkan jeda. Tarikan napas di antara hidup yang terus menuntut berjalan.
Nenden mengembuskan asap pelan. Ia tahu, ini bukan kebiasaan yang ingin ia pelihara. Namun sore itu, ia membiarkan dirinya sama seperti mereka: perempuan yang sedang belajar berdiri ulang, tanpa perlu menjelaskan apa pun.
Dan di antara asap rokok, kabut Puncak, dan kisah yang saling bersilangan, satu hal menjadi jelas bagi Nenden: perempuan-perempuan ini mungkin datang dari jalan yang berbeda, tetapi mereka sedang berdiri di titik yang sama: mencari cara paling manusiawi untuk bertahan.
Di ruang tamu rumah itu, para perempuan duduk melingkar. Tidak ada yang benar-benar memimpin percakapan. Kisah me-ngalir seperti air di lereng bukit. Kadang deras, kadang tertahan oleh batu.
Mereka bukan sekadar janda; mereka adalah arsip hidup dari sebuah kawasan.
Puncak, dengan udara sejuk dan vila-vila mewah, menyimpan ironi struktural. Ia menjadi ruang persinggahan lelaki kota. Tempat rahasia, tempat pelarian, tempat pernikahan yang tak ingin diumumkan. Banyak pernikahan di sini lahir tanpa niat panjang. Tak heran jika kawasan ini dipenuhi janda. Bukan karena perempuan-perempuannya lemah, melainkan karena sistem relasinya rapuh.
Nenden lebih banyak mendengar daripada berbicara. Peng-alamannya sendiri tentang poligami membuatnya paham bahwa persoalan bukan pada konsep semata, melainkan pada praktik dan niat.
“Poligami itu bukan sunnah yang berdiri sendiri,” katanya akhirnya. “Ustaz bilang, hukum syariat dibangun di atas keadilan dan maslahat. Kalau mudaratnya lebih besar, maka gugur legitimasi moralnya.”
Yuni mengangguk pelan. Icha terdiam. Caca menunduk. Irna memeluk anaknya lebih erat. Susi cuek.
Di rumah di lereng Cipayung itu, para perempuan akhirnya menyadari satu hal yang sama: pahit yang mereka cicipi berbeda rasa, tetapi berasal dari sumber yang serupa: ketidakjujuran yang dilegalkan oleh tafsir sempit dan budaya diam.
Nenden memandang mereka satu per satu. Ia tahu, kisahnya bukan yang paling tragis. Namun seperti kata Viktor Frankl, makna tidak lahir dari besarnya penderitaan, melainkan dari cara manusia memahaminya.
Dan di antara janda-janda Puncak itu, Nenden memilih satu sikap: tidak menolak pahit, tetapi menolaknya menjadi sia-sia.
Madu pahit, pikirnya, hanya akan berguna jika ia mengajarkan kejujuran—pada Tuhan, pada manusia, dan pada diri sendiri.
Di luar, angin pegunungan bergerak pelan. Puncak tetap menjadi dirinya: indah, dingin, dan penuh cerita yang tak pernah benar-benar selesai. (Bersambung ke Bagian 6)


