Madu Pahit Nenden — Bagian 9: Semalam Saja

Must Read

Nenden juga tidak mampu menolak ketika Sandi mengajaknya ke Vila Rilex. Undangan itu disampaikan dengan nada wajar, seolah kelanjutan logis dari sesuatu yang—menurut Sandi—telah sah. Ia memesan satu kamar. Kunci diterima. Pintu ditutup. Dunia luar berhenti di balik dinding-dinding vila yang rapi dan sunyi.

Setelah salat Magrib, mereka duduk berhadapan. Percakapan mengalir, panjang dan berliku. Sandi berbicara tentang hukum—tentang perbedaan mazhab, tentang pendapat Abu Hanifah, tentang kelonggaran yang sering disalahpahami sebagai kemudahan. Ia menyebut dalil, mengutip istilah, merapikan narasi. Dalam epistemologi, ini disebut framing: menyusun fakta sedemikian rupa hingga tampak utuh, meski menyisakan celah yang tak terlihat.

Nenden mendengarkan. Ia bertanya pelan tentang sah tidaknya pernikahan barusan—tentang wali, saksi, dan kerelaan. Sandi menjawab dengan tenang, penuh keyakinan. Setiap jawaban terdengar meyakinkan, bukan karena seluruhnya benar, melainkan karena disampaikan oleh seseorang yang memahami bahasa kuasa. Dalam psikologi kognitif, ini dikenal sebagai authority bias: kecenderungan mempercayai pernyataan orang yang dianggap berwenang, bahkan ketika nurani masih ragu.

Di antara kata-kata itu, Nenden merasakan kegamangan yang tak menemukan pintu keluar. Ia tahu ada yang janggal, namun juga tahu bahwa langkah telah terlalu jauh untuk sekadar mundur tanpa luka. Ia teringat kaidah yang pernah dibacanya dalam kitab kecil di surau kampung: al-yaqin la yazulu bisy-syak—keyakinan tidak hilang oleh keraguan. Namun keyakinan siapa yang sedang bekerja malam itu?

Milad 117 H Muhammadiyah

Usai salat Isya, keheningan turun perlahan. Tak ada paksaan yang diucapkan, tak ada ancaman yang terlihat. Hanya kesinambungan peristiwa yang membuat penolakan terasa mustahil. Dalam etika moral, inilah wilayah paling rapuh: ketika pilihan tersedia secara teori, tetapi tertutup secara psikologis.

Malam berjalan seperti yang dianggapnya “wajar” oleh Sandi—sebagai kewajiban suami istri. Nenden menjalani semuanya dalam diam. Tubuhnya hadir, pikirannya terjaga. Ia tidak menjerit, tidak melawan, tidak pula merasa merdeka. Ia sekadar berada di sana, mencoba meyakinkan diri bahwa segala sesuatu memiliki hikmah yang belum terlihat.

Namun jauh di dasar hatinya, sebuah pertanyaan terus berdenyut: apakah kewajiban yang lahir dari akad yang ia pahami setengah-setengah masih bisa disebut ibadah?

Dalam tasawuf, Al-Ghazali menulis bahwa amal tanpa kesadaran adalah tubuh tanpa roh. Dan malam itu, Nenden merasa seperti tubuh yang bergerak tanpa roh yang sepenuhnya hadir.

Di luar, angin Puncak berembus dingin, menyusup di sela pepohonan pinus. Di dalam kamar, waktu berjalan tanpa suara.
Madu telah ditelan.
Dan pahitnya, mulai bekerja—perlahan, pasti, dan tak bisa ditarik kembali.

Malam itu belum benar-benar berakhir ketika Sandi—yang usia dan tubuhnya tak lagi sekuat keyakinannya—kembali terbangun oleh hasrat yang tak mengenal jeda. Nenden, yang sejak awal lebih banyak pasrah daripada memilih, kembali berada pada posisi yang sama: diam, menurut, dan menyingkirkan pertanyaan-pertanyaan yang tak sempat diberi jawaban.

Ini mengingatkan orang akan satu kalimat dari Viktor Frankl, psikiater eksistensialis: “Ketika seseorang tidak lagi bisa mengubah keadaan, ia dipaksa untuk mengubah sikap batinnya.” Dan sikap batin itulah yang dipilih Nenden malam itu—bertahan, bukan karena rela, tetapi karena merasa tak punya ruang untuk menolak.

Menjelang subuh, tubuh Sandi menunjukkan tanda-tanda kelelahan yang tak lagi bisa disamarkan. Napasnya pendek-pendek, cepat, dan dangkal—sebuah pola yang dalam dunia kedokteran dikenal sebagai tachypnea, sering muncul ketika jantung tak lagi mampu memompa darah secara efisien. Wajahnya pucat, kehilangan warna, sementara keringat dingin mengalir dari pelipis hingga ke leher, tanda klasik aktivasi sistem saraf simpatis saat tubuh berada dalam kondisi gawat.

Ia berusaha duduk, lalu kembali berbaring. Tangannya gemetar. Detak jantungnya tak beraturan. Dalam literatur kardiologi, khususnya yang dijelaskan oleh American Heart Association, kondisi seperti ini sering mengarah pada acute coronary syndrome—sumbatan mendadak pada pembuluh darah jantung akibat plak aterosklerosis yang pecah, memicu trombus, dan menghentikan aliran oksigen ke otot jantung.

Ketika azan Subuh belum lagi terdengar, Sandi tiba-tiba memegangi dadanya dengan kuat. Telapak tangannya menekan sisi kiri dada—lokasi khas nyeri iskemik. Wajahnya berubah drastis. Raut percaya diri yang selama ini menjadi topeng kekuasaannya runtuh seketika, digantikan ekspresi ketakutan yang telanjang.

“Dadaku… sakit,” rintihnya, suaranya serak, hampir tak terdengar.

Nyeri itu bukan nyeri biasa. Dalam terminologi medis, nyeri serangan jantung sering digambarkan sebagai crushing pain—seperti ditekan beban berat dari dalam. Rasa sakitnya bisa menjalar ke lengan kiri, leher, rahang, bahkan punggung. Detik berikutnya, tubuh Sandi kehilangan keseimbangan. Ia terkulai, jatuh ke lantai dengan suara tumpul yang memecah keheningan kamar.

Nenden menjerit.

Suara itu keluar tanpa ia sadari, lahir dari refleks purba manusia ketika menghadapi ancaman kematian. Tangannya gemetar hebat, jantungnya sendiri berdegup terlalu cepat—palpitasi akibat lonjakan adrenalin. Dunia yang sejak kemarin terasa bergerak terlalu cepat kini berhenti mendadak, seperti pita film yang putus di tengah adegan.

Ia berlutut di samping tubuh Sandi, memanggil namanya berulang-ulang. Tidak ada jawaban. Mata Sandi terpejam, napasnya tersengal, lalu terhenti sesaat sebelum kembali muncul dengan jeda yang tak beraturan—tanda agonal breathing, fase kritis sebelum henti jantung total.

Panik menguasai Nenden sepenuhnya.

Dalam psikologi klinis, kondisi ini disebut acute stress response. Pikiran rasional menghilang, digantikan oleh dorongan bertahan hidup. Ia berlari keluar kamar, kakinya nyaris tak menapak lantai. Suaranya pecah ketika memanggil petugas vila. Kata-kata keluar terpotong-potong, tak beraturan, bercampur tangis dan ketakutan.

Dalam hitungan menit—yang baginya terasa seperti berjam-jam—Sandi dibawa ke rumah sakit di Cisarua. Sirene ambulans memecah pagi Puncak yang biasanya hening. Bunyi itu panjang, nyaring, dan dingin, seperti pengumuman bahwa sesuatu telah melampaui batas untuk diperbaiki.

Nenden menunggu.

Ia duduk. Berdiri. Duduk lagi. Tangannya tak berhenti gemetar. Pandangannya kosong, menembus dinding rumah sakit tanpa benar-benar melihat apa pun. Waktu bergerak lambat, berat, dan kejam. Dalam psikologi trauma, fase ini disebut anticipatory grief—kesedihan yang muncul bahkan sebelum kematian dinyatakan.

Ia mencoba mengingat doa-doa pendek yang biasa dibacanya, tetapi kata-kata tercecer. Kepalanya penuh dengan potongan adegan: kamar vila, wajah Sandi, suara dadanya yang mengaduh, tubuh yang jatuh. Semua berulang tanpa urutan.

Dalam ilmu kardiologi modern, serangan jantung jarang berdiri sendiri. Ia adalah hasil akumulasi panjang: usia, stres kronis, tekanan pekerjaan, kelelahan fisik, dan aktivitas berat yang dipaksakan pada tubuh yang sudah rapuh. Jantung, seperti jiwa, memiliki ambang batas. Ketika dilampaui, ia berhenti tanpa kompromi.

Sore hari, tepat pukul tiga, seorang perawat mendekat. Wajahnya tenang, profesional—wajah seseorang yang telah terlalu sering menyampaikan kabar buruk.

“Maaf, Pak Sandi tidak tertolong,” katanya pelan.
“Beliau meninggal karena serangan jantung.”

Kalimat itu jatuh singkat, datar, dan final—seperti palu hakim yang mengetuk satu kali saja.

Nenden merasakan pandangannya menggelap. Dunia berputar. Suara di sekelilingnya menjauh. Ia nyaris pingsan, tubuhnya kehilangan kekuatan untuk berdiri.

Bukan karena janji rumah di Bintaro. Bukan karena rencana hidup yang tak sempat diwujudkan. Ia terguncang oleh kenyataan yang lebih telanjang dan lebih menakutkan: bahwa kematian itu datang tepat setelah hubungan intim dengannya.

Dalam keheningan rumah sakit, Nenden berdiri di antara duka, rasa bersalah, dan ketakutan yang tak memiliki nama.
Dan di sanalah ia sadar—bahwa tidak semua peristiwa besar datang dengan suara keras. Sebagian hadir pelan, lalu meninggalkan luka yang bekerja lama di dalam diam.

Dalam tradisi keagamaan, kematian selalu dipandang sebagai penutup sekaligus pembuka. Ibn Athailah al-Iskandari pernah menulis, “Tidak ada musibah yang lebih besar daripada dosa yang tidak disadari.”  Dan Nenden merasa terjebak di antara duka, rasa bersalah, dan ketakutan yang tak memiliki nama.

Ia bertanya pada dirinya sendiri—pada Tuhan—tanpa suara: apakah ia bagian dari sebab? apakah ia saksi? atau sekadar manusia kecil yang terseret oleh rangkaian keputusan yang tak sepenuhnya ia kuasai?

Pihak rumah sakit segera menghubungi keluarga Sandi. Prosedur berjalan cepat, rapi, dan dingin—seperti hukum yang selalu ia banggakan semasa hidupnya. Tak lama kemudian, anak-anaknya datang dari Jakarta. Wajah-wajah dewasa yang menyimpan duka, kaget, dan mungkin juga pertanyaan yang tak terucap. Mereka berbicara dengan dokter, menandatangani berkas, mengurus jenazah ayah mereka dengan ketenangan yang dipelajari dari pengalaman kehilangan sebelumnya.

Nenden menyaksikan semuanya dari kejauhan.

Ia berdiri di ujung lorong, punggungnya bersandar pada dinding putih rumah sakit yang berbau antiseptik. Di titik itu, ia merasa dirinya mengecil—bukan sebagai istri, bukan pula sebagai siapa-siapa. Status yang semalam terasa “sah” kini menguap begitu saja, tak meninggalkan pijakan sosial apa pun. Dalam sosiologi hukum, inilah yang disebut liminal position: berada di antara—tak sepenuhnya diakui, tak pula sepenuhnya dihapus.

Ia tidak berani mendekat.
Tidak tahu harus memperkenalkan diri sebagai apa. Tidak tahu hak apa yang ia miliki—atau tidak miliki.

Di hadapannya, jenazah Sandi dibawa keluar, tertutup kain putih. Sunyi mengiringinya. Tidak ada dialog terakhir. Tidak ada klarifikasi. Tidak ada kesempatan untuk menata ulang makna dari semua yang telah terjadi. Dalam filsafat eksistensial, kematian mendadak adalah bentuk paling telanjang dari absurditas—ketika hidup berhenti tanpa negosiasi.

Nenden menunduk. Ia teringat firman Allah yang pernah ia dengar sejak kecil: “Kullu nafsin dzāiqatul maut.” Setiap jiwa pasti merasakan mati.
Namun tak semua orang siap dengan cara kematian itu datang.

Jenazah Sandi dibawa ke Jakarta. Mobil ambulans bergerak perlahan meninggalkan halaman rumah sakit. Bersamanya, ikut pergi seluruh kemungkinan yang belum sempat diberi nama.

Nenden tidak ikut.

Ia pulang ke Cipayung dengan sisa tenaga yang nyaris habis. Perjalanan terasa panjang, meski jaraknya sama. Pegunungan yang biasanya menenangkan kini tampak asing. Pohon-pohon pinus berdiri seperti saksi bisu—tak menghakimi, tak membela.

Di dalam angkot, Nenden memejamkan mata. Tubuhnya lelah. Jiwanya lebih lelah lagi. Ia tidak menangis keras. Air mata hanya mengalir pelan, seperti sesuatu yang telah terlalu penuh untuk ditahan.

Ia sadar kini: ia pulang tanpa membawa apa pun—kecuali ingatan, rasa bersalah yang samar, dan pahit yang menetap.

Madu telah usai. Yang tersisa hanyalah kesadaran— bahwa tidak semua yang datang dengan janji pergi dengan kejelasan.

***

Perkuat Dakwah Urban, Muhammadiyah Jakarta Selatan Bangun Sinergi Strategis

JAKARTAMU.COM | Kolaborasi antarcabang dalam struktur organisasi menjadi kunci penting untuk memperluas dampak sosial dan keagamaan bagi masyarakat. Semangat...

More Articles Like This