Puisi: Cahaya Perjalanan Malam

Must Read

Oleh: Dwi Taufan Hidayat

Malam sunyi memeluk langit,
Dalam gelap, rahasia agung pun terbit.
Rasulullah diangkat melintasi jarak,
Dari Makkah ke Palestina dalam sekejap jejak.

Isra, perjalanan bumi yang suci,
Menyentuh Aqsa, masjid penuh berkah ilahi.
Kemudian Mi’raj, melampaui batas angan,
Ke Sidratul Muntaha, di puncak keabadian.

Wahai jiwa, dengarlah panggilan ini,
Perintah shalat sebagai amanah abadi.
Lima waktu menjadi penanda cinta,
Tali penghubung hamba dengan Sang Pencipta.

Milad 117 H Muhammadiyah

Maha Suci Allah yang memperjalankan,
Hamba-Nya menuju tanda-tanda keagungan.
Dalam ruku’ dan sujud, jiwa berbisik,
Menghidupkan kalbu dalam zikir yang mendesir lirih.

Di tiap takbir, langit menjadi saksi,
Dalam salam, semesta turut menyanyikan harmoni.
Adzan memanggil, waktu menyapa,
“Bangkitlah, wahai manusia, pada Rabb yang Esa!”

Tidakkah engkau tahu, saudaraku tercinta,
Kita dicipta bukan untuk melupa.
Melainkan untuk tunduk, penuh khidmat,
Menghamba pada Allah yang Maha Rahmat.

Rasul membawa oleh-oleh berharga,
Shalat lima waktu, jalan menuju surga.
Hingga kini, warisan itu masih menggema,
Mengajarkan iman di setiap hela nafas dunia.

Semoga Isra dan Mi’raj yang kita renungi,
Menghidupkan hati yang terikat ilahi.
Mari beribadah, mendekatkan diri,
Insya Allah, menuju ridha-Nya yang abadi.

Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.

ISKI Ingatkan AI Dapat Mengaburkan Informasi, Kepercayaan Publik Terancam

JAKARTAMU.COM | Perkembangan kecerdasan buatan (AI) dinilai membuat batas antara informasi benar dan palsu semakin sulit dibedakan. Kondisi itu...

More Articles Like This