Senja Majapahit, Fajar Demak (5): Bayangan di Palembang

Must Read

SUNGAI Musi yang tenang menghidupkan Palembang sebagai pelabuhan ramai, pintu keluar masuk barang dari tanah seberang. Bau rempah, kayu gaharu, dan kain sutra bercampur dengan teriakan para kuli pelabuhan yang memanggul karung-karung berat. Di sinilah, jauh dari hiruk pikuk istana Trowulan, Raden Patah menapaki masa mudanya.

Ia tumbuh di bawah naungan ibunya, sang putri Campa, yang menyimpan luka dalam hatinya. Sang ibu kerap memandang ke arah barat, seakan hatinya masih terikat pada Majapahit yang telah menyingkirkannya. “Kau bukan anak sembarangan, Patah,” bisiknya suatu malam. “Darah raja mengalir dalam dirimu, meski kau jauh dari tahta.” Kalimat itu selalu membekas, seperti bayangan yang terus mengikuti Raden Patah ke manapun ia pergi.

Namun Palembang tidak memberinya kesempatan hidup dalam diam. Setiap hari ia bersentuhan dengan pedagang asing, menyerap bahasa dan pengetahuan dari banyak bangsa. Dari Gujarat ia belajar keteguhan iman, dari Arab ia mendengar lantunan ayat-ayat suci, dari Jawa ia menyerap kearifan tanah leluhurnya. Semua itu membuat hatinya bergolak: ia merasa dirinya bukan sekadar anak buangan Majapahit, melainkan bagian dari dunia yang lebih besar.

Bayangan Majapahit, bagaimanapun, tak pernah lepas. Ia sering mendengar kisah perang Paregreg dari para pelaut Jawa yang singgah di Palembang. Mereka menceritakan bagaimana tanah leluhurnya hancur oleh ambisi keluarga sendiri, bagaimana rakyat merana sementara bangsawan saling mencabik demi tahta. Raden Patah mendengar itu dengan getir. Di dalam hatinya tumbuh pertanyaan yang tak pernah padam: apakah darah yang mengalir di tubuhnya adalah warisan kejayaan, atau kutukan kehancuran?

Milad 117 H Muhammadiyah

Di Palembang pula, ia mulai mengenal para ulama yang datang berdakwah. Surau kecil di tepi pasar sering menjadi tempatnya duduk mendengarkan pengajian. Lantunan ayat Al-Qur’an dalam bahasa Arab yang asing baginya, justru membuatnya merasa dekat dengan sesuatu yang lebih murni. Ia belajar wudhu, shalat, dan makna persaudaraan dalam Islam. Perlahan, cahaya itu menenangkan luka-lukanya, mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh istana yang tak pernah merengkuhnya.

Namun di balik kedamaian itu, bisik-bisik tentang dirinya makin santer. Para pedagang Jawa mulai menyebut-nyebut namanya sebagai “anak raja yang terlupakan.” Sebagian menganggapnya harapan, sebagian lain mencurigainya sebagai ancaman. Ia masih muda, tapi tatapannya sudah dalam, caranya bicara penuh wibawa. Orang-orang mulai melihat bayangan pemimpin dalam dirinya, meski ia sendiri belum tahu jalan yang harus ditempuh.

Suatu sore, seorang ulama tua menghampirinya di surau. Dengan suara lirih ia berkata, “Patah, sungai ini mengalir ke laut, tapi asalnya dari hulu yang jauh. Begitu juga dirimu. Kau boleh tumbuh di Palembang, tapi asalmu tetap dari Jawa. Cepat atau lambat, kau harus kembali ke tanah leluhurmu, sebab di sanalah takdirmu menunggu.” Kata-kata itu bagai petir yang membelah hati Raden Patah. Ia sadar, Palembang hanyalah persinggahan.

Bayangan Trowulan semakin sering menghantui tidurnya. Ia bermimpi melihat istana megah yang runtuh, para prajurit berlarian, dan api yang melalap candi-candi. Lalu dari reruntuhan itu, ia melihat panji-panji baru berkibar, bukan lagi lambang Surya Majapahit, melainkan kalimat suci yang bersinar. Ia terbangun dengan keringat dingin, dadanya berdegup. Ia tahu mimpinya bukan sekadar bunga tidur, melainkan bisikan zaman.

Dan akhirnya, keputusan itu datang. Dengan hati mantap, ia berpamitan kepada ibunya. “Aku harus kembali ke Jawa,” katanya. “Bukan untuk menuntut tahta, tapi untuk mencari takdirku.” Sang ibu menahan air mata. Ia tahu anaknya akan menapaki jalan berat, jalan yang mungkin penuh darah, tetapi juga penuh cahaya.

Maka berangkatlah Raden Patah dari Palembang, menyeberangi lautan, membawa bayangan Majapahit dan cahaya Islam dalam dirinya. Setiap kayuhan dayung kapal yang ditumpanginya terasa seperti memutus satu ikatan lama, dan membuka pintu baru menuju masa depan.

Di balik kabut senja di Sungai Musi, Palembang perlahan menjauh. Namun bayangan yang mengikutinya justru semakin dekat: bayangan Trowulan, bayangan Majapahit, bayangan takhta yang runtuh, sekaligus bayangan fajar yang menunggu di ujung perjalanan.

(Bersambung ke Seri 6 – Sandiwara Trowulan)

ISKI Ingatkan AI Dapat Mengaburkan Informasi, Kepercayaan Publik Terancam

JAKARTAMU.COM | Perkembangan kecerdasan buatan (AI) dinilai membuat batas antara informasi benar dan palsu semakin sulit dibedakan. Kondisi itu...

More Articles Like This