Senja Majapahit, Fajar Demak (9): Sirna Ilang Kertaning Bumi

Must Read

TROWULAN bak kota mati di senja yang panjang. Istana yang dulu gemilang perlahan runtuh, tembok-temboknya retak, dan candi-candi sunyi menyimpan kenangan kejayaan yang hilang. Para bangsawan yang tersisa sibuk mempertahankan sisa kekuasaan, tetapi rakyat sudah lelah. Suara gamelan dan kidung pujangga terdengar sayup-sayup, seperti gema masa lalu yang enggan hilang dari bumi Majapahit.

Brawijaya V menatap jendela pendapanya, matanya sayu. Ia tahu, kejayaan Majapahit yang ia warisi hanyalah bayangan. “Sirna ilang kertaning bumi,” gumamnya lirih, mengingatkan akan ramalan kuno yang menyatakan bahwa kerajaan besar yang bangga pada kemegahannya akan sirna jika lupa menegakkan keadilan. Kini nubuat itu menjadi kenyataan.

Di pesisir utara, Raden Patah menatap laut dari Glagah Wangi. Ia menerima berita tentang keruntuhan Majapahit dengan hati yang campur aduk. Darahnya adalah darah kerajaan itu, tetapi hatinya sudah terbiasa dengan keadilan dan persaudaraan yang dibawa para wali. Kejatuhan Majapahit bukanlah akhir, melainkan awal untuk membangun sesuatu yang baru.

Para wali menyadari momen itu. Sunan Ampel menekankan pentingnya memimpin dengan bijak, “Kau akan menjadi jembatan antara yang sirna dan yang lahir, Patah. Jangan sia-siakan amanah ini.” Dari Palembang hingga Glagah Wangi, Raden Patah mulai mengumpulkan pengikut, merangkul pedagang, santri, dan rakyat pesisir yang kini mencari ketentraman di tengah kekosongan kekuasaan.

Milad 117 H Muhammadiyah

Majapahit runtuh bukan karena musuh dari luar, tetapi karena percaturan internal yang tak berkesudahan. Bangsawan saling menjatuhkan, kekuasaan terpecah, dan rakyat kehilangan arah. Kejatuhan ini justru menjadi pelajaran penting bagi Raden Patah: kekuatan sejati bukan terletak pada tahta atau tentara, tetapi pada hati rakyat dan doa para wali yang menuntun.

Di malam yang tenang, Glagah Wangi bersinar dengan cahaya lentera dari rumah-rumah penduduk dan surau-surau kecil. Raden Patah berjalan di tepi pantai, mengamati kapal-kapal yang bersandar, merasakan denyut kehidupan yang terus berjalan. Ia tahu tantangan baru menantinya: membangun kerajaan baru yang mampu menggantikan kemegahan Majapahit dengan keadilan dan cahaya Islam.

Sirna sudah Majapahit, tetapi dari reruntuhannya lahirlah harapan. Raden Patah menjadi simbol perubahan, tunas baru yang membawa cahaya fajar bagi Jawa. Dari Glagah Wangi, ia menatap horizon, merasakan panggilan sejarah yang tak bisa dihindari: bahwa tugasnya bukan sekadar pewaris darah raja, tetapi pelopor kerajaan yang akan menegakkan persatuan, iman, dan keadilan.

(Bersambung ke Seri 10 – Pelabuhan yang Menggeliat)

ISKI Ingatkan AI Dapat Mengaburkan Informasi, Kepercayaan Publik Terancam

JAKARTAMU.COM | Perkembangan kecerdasan buatan (AI) dinilai membuat batas antara informasi benar dan palsu semakin sulit dibedakan. Kondisi itu...

More Articles Like This