Senja Temaram di Cipayung — Bagian 18: Menghitung Hari

Must Read

Oleh Miftah H.Yusufpati

DI sebuah sudut Tebet yang selalu ramai menjelang malam—tempat kafe-kafe tumbuh seperti jamur setelah hujan dan lampu-lampu jalan memantulkan cahaya ke kaca-kaca gedung yang renggang—Hidayat duduk dengan wajah murung di meja luar sebuah kedai kopi yang sejak lama menjadi tempat nongkrongnya bersama Ronaldo.

Suara kendaraan memotong percakapan, tetapi tidak cukup keras untuk menutupi getaran emosional yang keluar dari dada laki-laki itu. Ia memutar gelas kopinya berkali-kali, seolah berharap dari pusaran hitam cairan itu muncul jawaban yang bisa mengobati hatinya. Tetapi yang keluar hanyalah desahan panjang dan geram yang terpendam.

“Mereka sudah jauh melangkah, Ron,” kata Hidayat pelan namun getir. “Prabu diporotin Indriani. Lihat saja, dagangannya sekarang tambah maju. Ada saja uang masuk. Itu semua dari Prabu.”

Milad 117 H Muhammadiyah

Nada suaranya bukan sekadar cemburu; ada luka lama yang belum selesai, rasa ditinggalkan, dan kegagalan menerima kenyataan bahwa seseorang yang dulu ia harap kembali, kini telah sepenuhnya berpindah ke orbit pria lain. Ronaldo, yang sudah berkali-kali menjadi penopang emosinya, menarik napas dengan bijak. Ia sudah mendengar keluhan yang sama bergulir selama berminggu-minggu, namun kali ini ia tahu Hidayat tengah berada di titik yang paling rapuh.

“Yat, kamu harus mulai ikhlas,” ujar Ronaldo lembut, mencondongkan tubuh agar suaranya tetap terdengar meski deru motor lewat berseliweran. “Indriani sudah buat pilihan. Dan pilihan itu bukan kamu. Prabu yang dia lihat. Prabu yang dia pilih. Kamu harus terima itu.”

Hidayat tertawa kecil, namun tawanya pahit, seperti seseorang yang menertawakan kenyataan karena ia tidak punya cara lain untuk bertahan. “Ikhlas,” katanya pelan. “Kata itu gampang, Ron. Tapi saya lihat dia makin bahagia, makin hidup, dan saya…” Ia tidak melanjutkan kalimatnya. Kerongkongannya menutup, dan justru keheninganlah yang melanjutkan pengakuannya.

Ronaldo menepuk bahunya. “Yat, dengar ya. Kamu sudah tidak punya tempat lagi di kisah itu. Mau marah, mau benci, mau kecewa—semua itu tidak mengubah apa-apa. Indriani sekarang bukan bagian hidupmu lagi. Dia sekarang milik Prabu, dan kamu harus berhenti berharap ruang yang sudah bukan untukmu.”

Hidayat menunduk. Ada detik panjang yang membuat udara Tebet terasa lebih berat. Di wajahnya tergambar penyerahan diri, bukan karena ia rela, tetapi karena ia tahu perlawanan hanya akan melukai dirinya sendiri. “Iya,” gumamnya. “Saya tahu. Saya cuma… remuk saja.”

Belum sempat Ronaldo menjawab, mereka melihat sosok yang tidak asing berjalan ke arah mereka. Tubuh sedang, langkah santai, kemeja digulung setengah lengan, topi copet—Prabu. Wajahnya ceria, seolah tidak ada badai yang sedang diceritakan dua temannya di antara asap kopi dan dinginnya angin malam. Ia melambaikan tangan dengan riang, seakan pertemuan ini hanya pertemuan biasa di hari-hari yang ringan.

“Woi, kalian ngapain muka sedih begitu?” Prabu bersuara renyah. “Santai, dong.”

Ia duduk tanpa diminta, memindahkan kursi dengan gerakan akrab seperti biasa, lalu mengambil alih suasana seakan tidak pernah terjadi pergolakan apa pun antara dirinya, Indriani, dan dua laki-laki yang kini memandangnya dengan senyum yang dipaksakan.

Hidayat mencoba tersenyum, tapi bibirnya kaku. Ronaldo lebih berhasil, meski ia tahu persis percakapan apa yang hendak mereka sembunyikan. Namun Prabu tampaknya tidak peduli. Atau mungkin ia pura-pura tidak peduli. Ada waktu ketika seorang lelaki memilih untuk tidak membuka ruang yang ia tahu akan dipenuhi konflik.

Ronaldo akhirnya angkat bicara, mencoba meraba suasana. “Gimana, Bos? Lagi sibuk Cipayung?” tanyanya, setengah bercanda, setengah menyelidik.

Prabu langsung tertawa pendek dan mengibaskan tangan. “Ah, kalian ini. Udah, udah, jangan bahas itu.” Ia menegakkan punggung, menatap keduanya dengan gaya seorang mediator yang ingin rapat ditutup sebelum konflik membesar. “Kita cooling down. Ngopi santai aja.”

Prabu menghindari pembicaraan tentang Cipayung, Puncak, nikah siri, atau Indriani untuk mencegah suasana menjadi tidak nyaman.

Seketika percakapan mati. Tidak karena kata-kata Prabu keras, tapi karena terlalu banyak yang tidak ingin diucapkan. Hidayat menelan ludah, mencoba menahan gelombang emosinya ketika melihat lelaki yang merebut tempatnya dalam hidup Indriani kini duduk di hadapannya sambil tersenyum cerah, seakan Indriani hanyalah nama yang tidak memicu apa pun.

Ronaldo memilih diam. Ia tahu Hidayat sedang menggigil dalam hati, dan ia tahu Prabu tidak ingin menyentuh sesuatu yang bisa merusak hidupnya yang sedang ia susun dengan hati-hati. Mereka bertiga duduk dalam lingkaran keheningan yang berusaha disamarkan oleh suara kendaraan, desing rel KRL di kejauhan, dan aroma kopi robusta yang baru dituang.

Namun meski tidak diucapkan, ada satu kebenaran yang menggantung di udara malam Tebet itu: masing-masing dari mereka sedang berdamai dengan patahannya sendiri.

Dan hanya waktu yang akan membuktikan siapa di antara mereka yang benar-benar sembuh.

Di bawah lampu-lampu jalan Tebet yang memantul di permukaan trotoar basah sisa gerimis, ketiganya masih duduk dalam lingkaran yang terasa rapuh, seolah satu kalimat saja dapat meruntuhkan keseimbangan yang tersisa. Prabu menatap dua sahabatnya bergantian, lalu menyandarkan tubuh, menarik napas panjang, dan akhirnya memutuskan tidak ada gunanya lagi menunda. Ada keputusan besar yang harus ia sampaikan—dan ia ingin mengatakannya langsung, tanpa sembunyi, tanpa basah-basah diplomasi.

“Yat, Ron,” ujar Prabu pelan, tetapi suaranya tegas. “Kalian perlu tahu satu hal. Saya… akan menikahi Indriani.”

Suara knalpot memecah keheningan, namun tidak cukup keras untuk menutupi syok yang membeku di wajah Hidayat. Tangan laki-laki itu berhenti menggenggam gelas kopi. Bahunya goyah sedikit, seperti batang pohon yang tiba-tiba diterpa angin.

Prabu melanjutkan dengan nada yang lebih dalam, seperti membaca pengumuman penting dalam hidupnya sendiri, “Tanggalnya sudah kami putuskan. Saya dan Indriani sepakat tanggal 15 Desember.”

Perkuat Dakwah Urban, Muhammadiyah Jakarta Selatan Bangun Sinergi Strategis

JAKARTAMU.COM | Kolaborasi antarcabang dalam struktur organisasi menjadi kunci penting untuk memperluas dampak sosial dan keagamaan bagi masyarakat. Semangat...

More Articles Like This