Ronaldo terbatuk kecil, tidak yakin apakah ia mendengar dengan benar, lalu tertawa lebar—tawa yang tidak sepenuhnya spontan, tetapi jujur. “Gila kau, Bos,” katanya sambil menepuk bahu Prabu. “Selamat! Ya Allah… semoga lancar semua. Semoga akadnya berkah. Saya ikut senang lihat kamu sudah yakin begini.”
Ia tertawa lagi, kali ini keras dan lepas, seperti seseorang yang benar-benar melepaskan rasa penasaran yang selama ini ia tahan. Wajahnya berseri-seri, ada kebanggaan melihat Prabu akhirnya bersikap terbuka.
Namun Hidayat tidak tertawa. Tidak mungkin ia bisa. Tubuh tambunnya yang biasanya tegap tampak merosot sedikit, seperti udara dalam dirinya mendadak menyusut. Ia menelan ludah, mencoba mengusir rasa panas di tenggorokan. Matanya berkedip cepat, berusaha menahan perasaan yang pecah pelan tetapi pasti.
Prabu menatapnya lama, dengan sorot laki-laki yang memahami bahwa kalimat berikutnya bukan hanya permintaan—tetapi garis batas.

“Yat,” ucapnya lembut namun tegas, “saya minta kamu ikhlas. Lepaskan. Jangan ganggu dia lagi. Indriani akan jadi istri saya. Saya butuh kamu hormati itu.”
Ada interval panjang yang membuat malam Tebet terasa membeku. Suara musik dari kafe seberang terdengar samar—sebuah lagu lawas tentang cinta yang hilang. Lampu-lampu mobil lewat sekejap, memantulkan cahaya ke wajah Hidayat yang masih terdiam seperti patung yang baru saja menerima beban sejarah.
Akhirnya, dengan napas berat dan getaran yang tidak bisa ia sembunyikan, Hidayat mengangguk. Sangat pelan, sangat berat, seakan anggukan itu menggerakkan beban yang bertahun-tahun bersarang di dadanya.
“Iya,” katanya lirih, hampir seperti gumaman. “Kalau itu maumu… kalau itu yang Indriani pilih… saya nggak akan ganggu lagi.”
Tubuhnya lunglai. Bukan menyerah, tapi tunduk pada kenyataan yang tidak bisa ia lawan dengan cara apa pun.
Ronaldo mencondong ke belakang, menarik napas lega. Ia menatap Prabu, kemudian Hidayat, lalu kembali tertawa—tawa yang kali ini membawa semacam kelegaan bahwa keruwetan yang menggantung di udara akhirnya menemukan ujungnya. “Sudah, sudah. Ini semua sudah jalannya,” katanya sambil mengusap dada. “Yang penting nanti akadnya lancar. InsyaAllah saya datang, Bos. Saya saksi hidup bahwa kamu laki-laki yang bertanggung jawab.”
Prabu tersenyum, bukan senyum menang, tetapi senyum seseorang yang akhirnya berani mengumumkan bab baru dalam hidupnya. Ia meraih gelas kopi, mengangkatnya sedikit seperti memberikan isyarat.
“Doakan saja semuanya baik.”
Ronaldo mengangkat gelasnya tinggi. Hidayat mengangkat dengan pelan, hampir tak bertenaga. Prabu mengangkat gelasnya paling mantap.
Tiga gelas beradu pelan di tengah malam Tebet yang masih basah oleh hujan—bukan sebagai perayaan, tetapi sebagai tanda bahwa takdir yang rumit ini akhirnya menemukan bentuknya.
Di antara suara kendaraan dan kerlip lampu kota, ada tiga hati yang mengakui kebenaran dengan caranya masing-masing: satu menerima dengan ikhlas yang dipaksakan, satu merelakan dengan kedewasaan, dan satu melangkah ke depan dengan keberanian yang tidak bisa lagi ditunda.
Malam itu, kisah mereka tidak selesai. Tapi sebuah pintu besar telah resmi dibuka.
***


