Senja Temaram di Cipayung — Bagian 18: Menghitung Hari

Must Read

Ketika pesan Prabu masuk ke ponselnya, Indriani sedang duduk di teras rumah Cipayung. Udara sore itu lembab, membawa aroma tanah yang bercampur sisa hujan siang. Cahaya matahari menembus dedaunan seperti garis-garis emas yang retak, seakan melukis tubuhnya dengan kehangatan yang rapuh. Ia membaca pesan itu perlahan, satu kata demi satu kata, sampai makna keseluruhannya menancap seperti sesuatu yang menggetarkan dada: Prabu mengundang para perempuan dari masa lalunya untuk hadir di akad pernikahan mereka.

Awalnya, Indriani terpaku. Ada semacam kejutan yang tidak ia duga, bukan karena ia cemburu atau takut dibanding-bandingkan, melainkan karena langkah itu menunjukkan sesuatu yang lebih besar daripada sekadar keberanian—itu adalah tanda seseorang yang ingin menutup pintu masa lalu tanpa menyisakan ruang gelap.

Bagi Indriani, yang sepanjang hidupnya dibentuk oleh dunia yang penuh batas dan penilaian keras, keputusan Prabu terasa seperti gerbang lain yang tiba-tiba terbuka. Ia menatap layar ponselnya lama sekali, mengulang pesan itu seperti seorang ilmuwan membaca hasil eksperimen penting. Di dalam dirinya, terjadi pergulatan yang halus namun intens: antara kepercayaan, kerentanan, dan kebutuhan untuk memastikan bahwa dirinya tidak sedang menjadi kambing hitam dari cerita orang lain.

Sebagai perempuan yang tumbuh dalam keluarga dengan luka-luka yang lebih sering dipendam daripada dibicarakan, Indriani paham betul apa artinya “kehadiran masa lalu.”

Milad 117 H Muhammadiyah

Ia hidup dengan mama yang masih menginginkan dirinya tetap sendiri, kakak tuna rungu yang membutuhkan bantuan sepanjang waktu, dan ayah di Cipanas yang kian sering sakit. Hidupnya bukan ruang lapang, melainkan labirin tanggung jawab yang terus berubah bentuk. Karena itu, ketika Prabu menunjukkan bahwa ia siap memperkenalkan dirinya kepada masa lalu yang rumit, Indriani justru merasa disentuh pada lapisan terdalam dirinya. Sebagai manusia yang mempelajari cara dunia menilai perempuan—terutama perempuan yang bercerai, berdagang sendiri, dan hidup di antara dua kota—ia melihat langkah Prabu sebagai bentuk legitimasi, pengakuan eksistensial yang jarang diberikan oleh laki-laki yang hanya ingin mengambil, bukan menyertakan.

Ia meletakkan ponsel di pangkuannya. Hatinya gemetar pelan. Ia teringat ucapan Kierkegaard tentang bagaimana manusia sering kali lebih takut pada keputusan yang membebaskan daripada keputusan yang membelenggu. Dan hari ini, ia sadar ia sedang berada di ambang sebuah keputusan yang membebaskan.

Kebebasan itu menuntut keberanian—bukan hanya dari Prabu, tetapi juga dari dirinya sendiri. Selama ini ia membatasi dirinya: tidak ingin merebut suami orang, tidak ingin dianggap memecah rumah tangga, tidak ingin hidupnya menjadi bahan gosip. Namun langkah Prabu membuatnya melihat bahwa hubungan ini bukan hanya tentang dirinya sebagai perempuan kedua; ini tentang dua manusia yang memutuskan untuk membangun sebuah ruang baru, bukan merusak ruang lama.

Indriani memejamkan mata sejenak. Bayangan Wina muncul dalam pikirannya—perempuan tenang dari Perwira yang dalam pertemuan pertama di Kafe Agam memperlihatkan sisi yang kuat, terstruktur, dan berakar kuat pada nilai. Pertemuan itu, yang awalnya ia takuti sebagai ruang ‘penghakiman’, justru berubah menjadi ruang pelonggaran. Pelukan mereka di akhir pertemuan itu masih ia rasakan sampai sekarang, seperti jejak hangat yang menetap di punggungnya. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa diterima bukan sebagai ancaman, tetapi sebagai manusia.

Oleh karena itu, ketika Prabu bersikap transparan pada Wina, Indriani menafsirkan langkah itu sebagai jembatan yang kuat—bukan jembatan yang meminta dirinya menyeberang sendirian, melainkan jembatan yang mereka bangun bertiga dengan hati terbuka.

Dalam diamnya sore Cipayung, Indriani menghela napas panjang, membiarkan udara lembab itu masuk dan menetap. Ia merasa seperti sedang berdiri di tengah jalan panjang yang akhirnya memiliki rambu jelas. Langkah Prabu—yang bagi orang lain mungkin tampak sederhana atau bahkan berlebihan—baginya adalah deklarasi bahwa ia bukan persinggahan, bukan pelarian, bukan bayangan yang disembunyikan. Itu adalah tanda bahwa ia dihormati. Ia tidak peduli orang lain datang untuk mengukur dirinya atau membandingkan; yang penting adalah bahwa Prabu tidak menyembunyikan dirinya dari siapa pun.

Ketika ia mengetik balasan kepada Prabu, jemarinya sempat ragu. Namun akhirnya ia menulis dengan jujur, karena bagi Indriani kejujuran adalah satu-satunya cara ia bisa hidup di tengah dunia yang terus menuntutnya: “Kalau begitu, saya ikut apa adanya. Apa pun masa lalu Mas, kalau itu semua sudah ditutup dengan cara baik, saya tidak perlu takut. Yang penting ke depan kita jujur dan saling menguatkan.”

Ia menekan tombol kirim, lalu menatap langit yang mulai berwarna ungu keperakan. Sebuah kelegaan aneh mengalir. Bukan kelegaan yang meledak, tetapi yang meresap perlahan ke tubuh, membuatnya sadar bahwa perjalanan yang ia masuki bukan perjalanan kecil. Ini perjalanan menuju sesuatu yang lebih besar.

Dan dalam batinnya yang paling sunyi, Indriani mengakui: untuk pertama kali dalam waktu yang sangat lama, ia percaya pada masa depan. Ia percaya karena Prabu menunjukkan keberanian yang jarang ia temui pada laki-laki lain—keberanian untuk mengakui, menyelesaikan, dan melangkah bersama tanpa bayangan.

***

Perkuat Dakwah Urban, Muhammadiyah Jakarta Selatan Bangun Sinergi Strategis

JAKARTAMU.COM | Kolaborasi antarcabang dalam struktur organisasi menjadi kunci penting untuk memperluas dampak sosial dan keagamaan bagi masyarakat. Semangat...

More Articles Like This