Madu Pahit Nenden — Bagian 10: Lelah Bergantung

Must Read

Oleh Miftah H. Yusufpati

LIMA bulan berlalu, seperti musim yang berganti tanpa aba-aba. Di halaman rumah, Nabila kini sudah mampu berlari-lari kecil mengejar Firly. Tawa mereka memecah pagi Cipayung, ringan dan jujur, seolah hidup tidak pernah menyimpan luka. Setiap kali menyaksikan itu, Nenden merasa ada bagian dirinya yang perlahan pulih—meski bekasnya belum sepenuhnya hilang.

Ia tidak lagi mengikuti kemauan Lina. Ajakan-ajakan yang dulu terasa seperti jalan keluar kini ia pandang dengan jarak. Bukan karena Lina sepenuhnya salah, melainkan karena Nenden mulai memahami bahwa hidup tidak bisa terus dijalani dengan reaksi, apalagi dengan ketergantungan. Dalam psikologi perkembangan dewasa, fase ini disebut self-authorship—saat seseorang mulai menulis arah hidupnya sendiri, bukan sekadar menyesuaikan diri dengan kehendak orang lain.

Uang lima juta dari Sandi—yang tersisa dari peristiwa pahit itu—dan beberapa pemberian dari lelaki-lelaki dalam proyek perjodohan yang sempat singgah, tidak ia gunakan untuk bersenang-senang. Uang itu menjadi modal. Sebagian diputar untuk menambah perputaran toko Iis, di Jalan Cupayung–Megamendung. Tidak besar, tetapi cukup untuk mengisi kembali rak-rak yang sempat kosong, cukup untuk memberi napas pada usaha kecil yang menjadi sandaran keluarga.

Milad 117 H Muhammadiyah

Nenden melakukannya dengan hati-hati. Setiap lembar uang terasa memiliki sejarah. Ia tidak ingin lagi uang datang dengan konsekuensi yang tidak ia pahami. Dalam etika Islam, harta semacam itu harus “dibersihkan” dengan niat dan penggunaan yang memerdekakan, bukan mengikat. Nenden memilih menjadikannya alat bertahan, bukan alat bergantung. Ia teringat pesan Imam Al-Ghazali bahwa harta adalah pelayan yang baik, tetapi tuan yang buruk—dan pengalaman pahitnya telah mengajarkan makna kalimat itu secara nyata.

Hari-harinya kini lebih terfokus pada satu hal: membesarkan Nabila. Ia belajar bahwa pengasuhan bukan sekadar memberi makan dan pakaian, tetapi juga menghadirkan ketenangan. Ia ingin putrinya tumbuh tanpa menyerap kegelisahan yang terlalu dini. Dalam sosiologi keluarga, ini disebut intergenerational healing—usaha sadar untuk tidak mewariskan luka yang sama kepada generasi berikutnya. Setiap pelukan pada Nabila terasa seperti penebusan kecil atas keputusan-keputusan yang dulu ia ambil tanpa cukup daya.

Daniel, ayah Nabila, juga tidak lalai. Nafkah selalu ia kirimkan tepat waktu. Tidak berlebihan, tetapi cukup. Hubungan mereka tidak lagi diwarnai harapan romantis, tetapi berjalan dalam bingkai tanggung jawab. Bagi Nenden, itu sudah lebih dari cukup. Ia belajar membedakan antara cinta yang menghidupkan dan hubungan yang sekadar menuntut.

Di sela ketenangan yang mulai terbentuk itu, masa lalu sesekali mengetuk. Andrinov, yang masih menyimpan rasa, berkali-kali mencoba menghubungi Nenden. Pesan-pesan singkat datang dengan nada yang dijaga, sesekali disertai kenangan lama yang diselipkan dengan hati-hati. Namun Nenden menjawabnya dengan sikap formal—singkat, sopan, tanpa celah. Ia tidak marah, tetapi juga tidak memberi harapan. Dalam psikologi trauma, menjaga jarak semacam ini adalah bagian dari boundary setting, upaya sadar untuk melindungi diri dari luka yang sama.

Nenden benar-benar ingin menghapus masa lalu yang pahit, termasuk masa ketika ia bekerja di kafe Tanah Abang, Jakarta—ruang di mana ia pernah menukar tenaga dan senyum dengan harapan yang rapuh. Baginya, Tanah Abang bukan sekadar lokasi geografis, melainkan simbol fase hidup yang telah ia lewati. Ia tidak membencinya, tetapi ia tidak ingin kembali. Seperti kata Søren Kierkegaard, “Hidup hanya bisa dipahami dengan menoleh ke belakang, tetapi harus dijalani dengan melangkah ke depan.”

Di antara suara tawa anak-anak, aroma kopi pagi, dan lalu lintas Jalan Cupayung–Megamendung yang tak pernah benar-benar sepi, Nenden mulai menemukan ritme baru. Hidupnya belum sepenuhnya tenang, tetapi ia tidak lagi terombang-ambing. Ia belajar berdiri di atas luka, bukan menutupinya.

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Nenden merasa: bertahan hidup tidak selalu berarti mengalah, mandiri tidak selalu berarti keras, dan melepaskan masa lalu adalah bentuk keberanian yang paling sunyi.

***

Perkuat Dakwah Urban, Muhammadiyah Jakarta Selatan Bangun Sinergi Strategis

JAKARTAMU.COM | Kolaborasi antarcabang dalam struktur organisasi menjadi kunci penting untuk memperluas dampak sosial dan keagamaan bagi masyarakat. Semangat...

More Articles Like This