Madu Pahit Nenden — Bagian 10: Lelah Bergantung

Must Read

Kesabaran Andrinov justru menjadi tekanan tersendiri bagi Nenden. Ia tahu, lelaki ini tidak sedang memaksa, tetapi juga tidak benar-benar mundur. Kesulitan yang melilit keluarganya—toko Iis yang tergadai, dapur yang makin sering kehabisan bahan, masa depan Nabila yang tak bisa ditunda—menjadi pertimbangan yang berdiri seperti tembok di kepalanya. Bimbang dan ragu menyelinap, saling berkejaran.

Namun ada sesuatu yang lain: ketulusan Andrinov yang tidak berisik, tidak mendesak, dan tidak menuntut janji. Perlahan, pertahanan Nenden runtuh—bukan oleh rayuan, melainkan oleh kelelahan batin yang terlalu lama ia tanggung sendirian.

Ia mengambil kartu itu.

“Baik, Bang. Saya simpan kartu ini,” katanya, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri.

Milad 117 H Muhammadiyah

Andrinov menyebutkan nomor PIN dengan suara rendah, seolah menjaga rahasia bersama.
“Gunakan kalau perlu. Nanti Abang isi lagi secara berkala,” tambahnya.

Namun kata-kata itu nyaris tak lagi masuk ke telinga Nenden.

Di dalam dirinya, pergolakan terjadi seperti arus deras yang saling bertabrakan. Ia tiba-tiba teringat Sandi—lelaki yang meninggal setelah menjalin hubungan intim dengannya, membawa luka yang tak pernah sempat sembuh. Ia teringat lelaki-lelaki lain yang pernah ia janjikan surga agar meninggalkan uang. Ia teringat Nabila, anaknya, yang membutuhkan kasih sayang, kestabilan, dan masa depan yang tidak boleh digadaikan. Ia teringat Iis, ibunya, yang terpaksa menggadaikan toko demi bertahan hidup. Dan ia teringat dirinya sendiri—perempuan yang terlalu sering berada di persimpangan, dipaksa memilih di antara bertahan dan menyerah.

Di tengah semua itu, Nenden sadar: kartu di tangannya bukan sekadar alat transaksi. Ia adalah simbol—di antara harapan dan ketergantungan, di antara bantuan dan ujian.

Angin berembus pelan di Sawah Abah Coffee. Daun padi bergoyang seperti bisik-bisik alam, sementara gunung-gunung tetap diam, tegak dalam kesunyian yang tidak tergesa.
Dan Nenden duduk di sana, memegang sebuah kartu kecil, sambil belajar satu pelajaran yang paling sulit dalam hidupnya: bahwa menerima bantuan tidak pernah netral, dan menjaga diri sering kali jauh lebih melelahkan daripada menyerah.

“Kapan Abang bisa dapat kabar tentang keputusan Nenden untuk bekerja di tempat Abang?” tanya Andrinov akhirnya. Suaranya hati-hati, seolah tidak ingin melangkah terlalu jauh ke wilayah yang belum diizinkan.

“Nenden akan bicarakan dulu dengan Mama,” jawabnya mengulang. “Lagi pula, Nenden nggak mungkin meninggalkan Nabila.”

“Nabila bisa diajak,” sahut Andrinov cepat. “Nanti kita carikan yang momong.”

Kalimat itu membuat ingatan Nenden berloncatan. Mbok Rani—perempuan tua yang dulu sering menjaga Nabila saat ia bekerja di Jakarta—muncul begitu saja di benaknya. Masih sehatkah dia? Masihkah tangannya setelaten dulu?

Lalu pikirannya melompat lebih jauh, ke sebuah rumah kontrakan di Pondok Gede. Rumah kecil yang pernah ia tinggali cukup lama. Rumah yang ditinggalkan begitu saja, seperti banyak bagian hidupnya yang tak sempat dibereskan. Semua perabot di dalamnya dibeli Daniel, mantan suaminya. Namun rumah itu—secara hukum—masih menjadi hak Nenden. Daniel mengontraknya langsung tiga tahun. Masih ada sisa waktu beberapa bulan. Sebuah ruang yang seharusnya masih bisa ia masuki, jika ia berani membuka kembali pintu masa lalu.

Nenden menunduk. Di hadapannya bukan hanya tawaran kerja, melainkan cabang-cabang kemungkinan yang saling bersilangan: Cipayung dengan segala keterbatasannya, Jakarta dengan janji dan luka lamanya, Nabila yang membutuhkan kehadirannya, dan dirinya sendiri yang sedang belajar membedakan antara peluang dan perangkap.

Ia tahu, keputusan ini bukan sekadar soal pekerjaan. Ini tentang ke mana ia akan membawa hidupnya berikutnya—dan apakah ia sanggup melangkah tanpa mengulang pola lama: bergantung, berharap, lalu terluka.

Di antara sawah, kopi yang telah dingin, dan kartu ATM yang masih ia genggam, Nenden menyadari satu hal yang kian jelas: masa depan tidak datang sebagai jawaban yang bersih, melainkan sebagai rangkaian pilihan yang menuntut keberanian untuk menanggung akibatnya.

Senja telah turun ketika Nenden dan Nita beranjak meninggalkan Sawah Abah Coffee. Langit Puncak berubah jingga keunguan, seolah hari sengaja melambat agar manusia sempat menimbang hidupnya. Kabut tipis mulai merayap dari sela-sela sawah, membungkus batang padi dan jalan setapak dengan dingin yang halus.

Andrinov segera berdiri, mengantar mereka sampai ke tempat motor Nita terparkir. Gerakannya sopan, terukur—seperti seseorang yang tahu batas, meski hatinya ingin melampaui. Tak ada kata-kata tambahan. Tak ada janji. Hanya tatap singkat yang menyimpan banyak kemungkinan yang belum diberi nama.

Nenden membalas dengan anggukan kecil. Kartu ATM itu masih berada di tangannya, terasa dingin, kontras dengan telapak yang mulai lembap. Ia memasukkannya ke dalam tas perlahan, seakan sedang mengubur sesuatu yang belum siap ia hadapi sepenuhnya.

Mesin motor menyala. Suaranya memecah keheningan senja. Nita melajukan kendaraan pelan, meninggalkan kafe, sawah, dan seorang lelaki yang berdiri sendirian di antara bayang-bayang yang kian memanjang.

Nenden menoleh sekali lagi. Andrinov masih di sana, makin kecil di kejauhan, lalu lenyap di tikungan jalan.

Di perjalanan pulang, angin sore menyentuh wajahnya. Dingin, tapi jujur.
Nenden menarik napas panjang.

Ia tahu, perpisahan barusan bukan akhir. Ia juga tahu, itu bukan awal yang baru.
Itu hanyalah jeda—ruang sunyi di antara dua keputusan besar, tempat ia harus belajar berdiri tanpa sandaran, dan memilih dengan kesadaran penuh, bukan karena takut, bukan pula karena lapar harapan.

Dan di senja itu, tanpa siapa pun mengetahuinya, Nenden sedang memulai satu hal yang paling sulit dalam hidupnya: berani menunda jawaban, demi tidak mengkhianati dirinya sendiri.

***

Perkuat Dakwah Urban, Muhammadiyah Jakarta Selatan Bangun Sinergi Strategis

JAKARTAMU.COM | Kolaborasi antarcabang dalam struktur organisasi menjadi kunci penting untuk memperluas dampak sosial dan keagamaan bagi masyarakat. Semangat...

More Articles Like This