Madu Pahit Nenden — Bagian 10: Lelah Bergantung

Must Read

Di antara deru sepeda motor yang mereka tumpangi dan arus kendaraan yang padat di jalur Puncak–Ciawi, Nenden mendengar suara Nita yang sedikit ditinggikan agar tak kalah oleh kebisingan jalan.

“Itu cowok serius. Sangat serius,” ujar Nita.

Nenden mengangguk pelan, meski tahu Nita tak bisa melihatnya. Ia tetap menunduk sedikit, seperti kebiasaan lama ketika menerima pendapat orang lain—sebuah gestur yang lebih ditujukan untuk menenangkan dirinya sendiri.

“Teh Nenden sudah nerima kartu ATM. Itu tanda Teteh terima keseriusannya,” lanjut Nita, nada suaranya lugas, tanpa basa-basi.

Milad 117 H Muhammadiyah

Sekali lagi Nenden mengangguk, kali ini lebih berat. Kartu itu terasa kembali hadir di benaknya, dingin dan nyata. Ia menelan ludah, lalu akhirnya bersuara.

“Dia gigih… dan kelihatannya tulus,” katanya lirih. Kalimat itu keluar bukan sebagai pembelaan, melainkan pengakuan atas apa yang benar-benar ia rasakan.

“Dia lajang?” tanya Nita cepat.

Nenden menggeleng. “Teteh belum tahu apa-apa tentang dia,” jawabnya jujur. “Teteh belum pernah nanya soal statusnya.”

Motor melaju melewati tikungan, angin malam mulai menusuk. Beberapa detik berlalu sebelum Nita kembali bicara.

“Kalau dia sudah beristri, gimana?”

Pertanyaan itu menggantung di udara, bersamaan dengan lampu-lampu kendaraan yang berkelebat. Nenden terdiam sejenak, pikirannya bekerja lebih pelan dari laju motor. Ia teringat Sandi, ingat rahasia, ingat bagaimana kebenaran yang terlambat sering kali meninggalkan luka yang paling dalam.

“Kalau dia serius dan jujur…” Nenden berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan suara yang lebih mantap, “…nggak masalah buat Teteh.”

Jawaban itu bukan kelonggaran, melainkan syarat. Bukan penyerahan diri, melainkan batas yang akhirnya ia pasang setelah terlalu lama hidup di wilayah abu-abu—wilayah tempat keputusan sering diambil oleh keadaan, bukan oleh kesadaran.

Lampu merah menyala di kejauhan. Motor melambat.
Di tengah hiruk-pikuk jalan dan pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab, Nenden tahu satu hal: kali ini, ia tak ingin melangkah tanpa terang—meski terang itu harus ia tunggu lebih lama.

Sesampai di rumah, Nenden langsung mencuci kaki dan muka. Air dingin menyentuh kulitnya, seolah membersihkan bukan hanya debu jalanan, tetapi juga sisa-sisa bimbang yang menempel sejak sore. Di ruang depan, Nabila dan Firly sedang tertawa kecil di hadapan televisi. Kartun berwarna-warni memantul di mata mereka yang bening. Iis dan Isma duduk di samping, mengunyah keripik singkong dengan santai—ritme rumah yang sederhana, namun menenangkan.

Nenden teringat martabak yang dibelinya di jalan. Ia menyerahkannya kepada Nita.
“Taruh di piring,” ujarnya singkat.

Nita menuruti. Piring diletakkan di atas meja. Iis langsung berdiri, mengambil sepotong martabak, disusul Isma. Aroma manis dan mentega memenuhi ruangan, menyatu dengan tawa anak-anak.

“Dari mana?” tanya Iis kemudian, sambil mengunyah.

“Ada ketemu orang yang menawari pekerjaan,” jawab Nenden, nada suaranya netral, seperti sedang menguji udara.

“Kerja apa?”

“Menjaga toko pakaian.”

Wajah Iis seketika berubah cerah. “Boleh itu. Cocok buat kamu,” katanya, cepat—sebuah refleks ibu yang ingin anaknya segera berdiri di atas kaki sendiri.

“Tapi itu di Jakarta,” sambung Nenden.

Iis terdiam sesaat. Seperti ada saklar yang dipadamkan.
“Tidak!” katanya tegas.

“Kenapa?” Nenden menoleh, berusaha menahan nada.

“Siapa yang akan momong Nabila? Siapa juga yang akan mengawasi kamu?” cecernya, kalimat-kalimat itu meluncur cepat, bercampur antara cemas dan kuasa.

Nenden menarik napas. Ia menatap ibunya—perempuan yang membesarkannya dengan disiplin dan kekhawatiran, dengan cinta yang sering menjelma larangan.
“Ma, Nenden sudah dewasa. Sudah ibu-ibu. Sudah dua puluh enam tahun. Masihkah harus dijaga?” katanya, suaranya bergetar namun tertahan. “Soal Nabila, Nenden ajak. Itu anak Nenden. Masak Nenden tinggalkan.”

Iis menggeleng keras. “Pokoknya tidak.”

Kata itu jatuh seperti palu. Final. Tak memberi ruang.

Di sudut ruangan, Nabila tertawa—tak tahu apa-apa tentang Jakarta, pekerjaan, atau batas-batas yang diperdebatkan orang dewasa. Nenden memandang anaknya, lalu kembali pada ibunya. Ia sadar, ini bukan sekadar soal kerja. Ini tentang kendali, tentang takut kehilangan, tentang garis generasi yang saling bertabrakan.

Dan malam itu, di rumah sederhana di Cipayung, Nenden kembali belajar bahwa memilih terang sering kali berarti berani berhadapan dengan bayang-bayang—termasuk bayang-bayang orang-orang yang paling ia cintai. (Bersambung ke Bagian 11)

Serangan Pesawat Nirawak di Gaza Tengah Tewaskan Dua Warga

JAKARTAMU.COM | ​Korban jiwa di jalur Gaza kembali berjatuhan. Sedikitnya dua warga Palestina dilaporkan tewas dan empat lainnya mengalami...

More Articles Like This