Madu Pahit Nenden — Bagian 10: Lelah Bergantung

Must Read

Cipayung selalu bangun lebih dulu daripada Nenden. Setiap pagi, ketika kabut turun dari lereng Megamendung dan menutup jalan Cupayung–Megamendung seperti kain tipis berwarna abu-abu, Nenden biasanya sudah terjaga. Ia mendengar suara pintu toko dibuka oleh Iis, ibunya—bunyi kayu tua yang bergesekan, pelan tapi pasti. Bunyi itu telah menjadi penanda hari, sekaligus penanda tanggung jawab yang tidak pernah benar-benar selesai.

Toko kecil di tepi jalan itu bukan sekadar tempat berdagang bagi Iis, tetapi juga latar masa kecil Nenden. Di sanalah ia dulu duduk di bangku pendek sambil mengerjakan PR, mencium bau gula dan sabun colek, dan belajar bahwa hidup berarti melayani orang lain meski diri sendiri sedang kekurangan. Kini, sebagai perempuan dewasa dan seorang ibu, Nenden memandang toko itu dengan perasaan berbeda—seperti melihat orang tua yang mulai renta, masih berdiri, tetapi jelas membutuhkan penopang.

Beberapa bulan terakhir, Nenden menyadari perubahan yang tak diucapkan. Rak toko tampak lebih lengang. Barang-barang tidak lagi ditumpuk tinggi. Minyak goreng sering habis sebelum sore. Iis jarang membeli stok baru dalam jumlah besar. Nenden tahu ibunya sedang menahan sesuatu—bukan hanya uang, tetapi juga gengsi.

Dalam ilmu ekonomi rumah tangga, kondisi ini disebut financial strain: tekanan finansial yang tidak selalu tampak dalam angka, tetapi terasa dalam keputusan-keputusan kecil sehari-hari. Nenden merasakannya ketika Iis mulai menghitung ulang belanja dapur, ketika lauk semakin sederhana, ketika kata “nanti” lebih sering muncul daripada “iya”.

Milad 117 H Muhammadiyah

Iis jarang bercerita. Tetapi Nenden bisa membaca diam ibunya. Diam yang berat. Diam yang bukan sekadar kelelahan fisik. Dalam psikologi keluarga, ini disebut emotional suppression—menahan emosi demi menjaga struktur keluarga tetap utuh.

Suatu sore, ketika Nenden menuntun Nabila di depan toko, ia melihat seorang lelaki asing berbincang lama dengan Iis. Nada suara mereka rendah, terukur. Tidak ada senyum. Nenden tidak mendekat, tetapi hatinya gelisah. Ia tahu, pembicaraan tentang uang selalu membawa konsekuensi.

Malamnya, Nenden mendapati Iis duduk sendirian, menghitung uang di laci toko. Nenden tidak bertanya. Ia hanya menyeduh teh dan meletakkannya di samping ibunya. Dalam keluarga seperti mereka, kehadiran sering lebih penting daripada kata-kata.

Iis menatap Nenden lama. Tatapan seorang ibu yang ingin berkata banyak hal, tetapi takut melukai. Nenden membalas tatapan itu dengan senyum tipis—senyum seorang anak yang telah belajar menanggung rasa bersalah bahkan untuk hal-hal yang tidak sepenuhnya ia pahami.

Dalam benak Iis, wajah Nenden selalu hadir ketika ia memikirkan toko itu. Ia teringat bagaimana Nenden pulang membawa luka-luka hidupnya, bagaimana anaknya mencoba bertahan tanpa banyak meminta. Iis tahu, kerasnya sikapnya pada Nenden selama ini bukan karena benci, melainkan karena ketakutan. Ia takut jika Nenden kembali bergantung pada lelaki, pada belas kasihan, pada janji.

Pengalaman hidup membuat Iis menyimpulkan satu hal sederhana: laki-laki sering datang membawa solusi jangka pendek dan masalah jangka panjang. Ia tidak ingin Nenden mengulang siklus itu.

Namun realitas ekonomi tidak peduli pada idealisme moral.

Barang-barang di toko terus menyusut. Hutang pelanggan menumpuk. Agen menaikkan harga. Dalam sosiologi ekonomi pedesaan, kondisi ini disebut structural vulnerability—kerentanan sistemik yang dialami pelaku usaha kecil karena tidak memiliki daya tawar.

Iis mulai memikirkan pilihan yang paling ia takuti: menggadaikan toko.

Setiap kali pikiran itu muncul, wajah Nenden kembali hadir. Bagaimana jika toko hilang? Bagaimana jika ia tidak lagi mampu menjadi penopang? Bagaimana jika Nenden kembali harus mencari jalan sendiri, dengan risiko jatuh ke tangan orang yang salah?

Malam sebelum keputusan itu diambil, Nenden melihat ibunya salat lebih lama dari biasanya. Bacaan doa Iis terdengar terputus-putus. Nenden tahu, ibunya sedang bergulat dengan sesuatu yang tidak ringan. Dalam teologi Islam, doa panjang sering kali menandai fase istikhārah eksistensial—mencari petunjuk bukan hanya untuk pilihan praktis, tetapi untuk arah hidup.

Pagi harinya, keputusan itu diambil.

Toko digadaikan. Dua puluh juta rupiah berpindah tangan.

Ketika Iis menyimpan uang itu di dalam tas, tangannya gemetar. Bukan karena jumlahnya kecil, tetapi karena maknanya besar. Itu adalah pengakuan diam-diam bahwa ia tidak lagi sanggup bertahan dengan cara lama.

Nenden tidak hadir saat transaksi itu terjadi, tetapi ia merasakan dampaknya segera. Sejak hari itu, toko tetap buka, tetapi aura kepemilikan berubah. Iis lebih pendiam. Lebih sering melamun. Nenden membantu sebisanya—menjaga Nabila, memasak, membersihkan—tanpa pernah bertanya langsung.

Uang hasil gadai itu dipakai perlahan. Untuk makan. Untuk kebutuhan sehari-hari. Untuk hidup. Nenden tahu, setiap lembar yang keluar adalah pengorbanan ibunya. Dalam etika Islam, ini sejalan dengan konsep hifz an-nafs—menjaga keberlangsungan hidup, meski harus mengorbankan harta.

Iis masih berdagang ketan di Pasar Cisarua. Masih bangun pagi. Masih tampak keras pada Nenden. Tetapi Nenden kini mengerti: di balik kekerasan itu ada cinta yang tidak pandai berbicara.

Suatu malam, ketika Nenden menidurkan Nabila, ia mendengar Iis menghela napas panjang di ruang depan. Nenden tidak keluar kamar. Ia tahu, ibunya sedang berdamai dengan kehilangan yang tidak bisa diumumkan.

Toko itu masih berdiri di Jalan Cupayung–Megamendung. Orang-orang masih berbelanja. Jalan masih ramai. Tetapi bagi Nenden dan Iis, toko itu telah berubah makna—dari simbol kemandirian menjadi saksi pengorbanan.

Dan di sanalah Nenden belajar satu hal penting: bahwa tidak semua kehilangan terjadi karena kesalahan, tidak semua pengorbanan tampak heroik, dan tidak semua madu terasa manis sejak awal.

***

Keesokan harinya, ponsel Nenden bergetar pelan di atas meja kayu. Nama itu muncul di layar: Andrinov. Jarinya sempat menggantung di udara. Ada ragu yang cepat, refleks yang lahir dari pengalaman. Namun rasa penasaran—dan mungkin juga kelelahan—mendorongnya untuk mengangkat panggilan itu.

“Assalamu’alaikum,” suara Andrinov terdengar dari seberang, masih dengan intonasi yang sama: tenang, sedikit hati-hati, seolah ia belajar dari jarak yang pernah tercipta.
“Wa’alaikum salam,” jawab Nenden.

Seperti biasa, Andrinov menanyakan kabarnya, lalu kabar Nabila. Pertanyaan-pertanyaan itu mengalir tanpa tekanan, nyaris seperti kewajiban moral yang dijalankan dengan tertib. Tanpa diminta, ia lalu bercerita bahwa ia baru saja pulang dari Malaysia. Di sana, katanya, ia memiliki toko yang dikelola keluarganya. Hidupnya kini terbagi dua: lima belas hari di Jakarta, lima belas hari di Malaysia. Sebuah ritme yang disiplin, tetapi juga melelahkan.

“Sibuk, Nden,” katanya akhirnya, dengan nada yang tak sepenuhnya meminta pengertian, namun berharap dimengerti. “Jadi nggak bisa sering menjumpai kamu.”

Nenden mendengarkan tanpa menyela. Dalam kepalanya, kata sibuk tidak lagi terdengar sebagai alasan kosong. Ia tahu bagaimana waktu bisa habis oleh tuntutan hidup. Ia sendiri mengalaminya, meski dalam bentuk yang berbeda. Dalam ekonomi politik, kesibukan semacam itu disebut structural necessity—kondisi di mana seseorang bekerja bukan semata untuk ambisi, melainkan untuk mempertahankan keberlangsungan hidup lintas generasi.

Andrinov lalu mengajaknya bertemu.

Nenden terdiam sejenak. Ia menimbang, bukan hanya jadwal, tetapi juga dirinya sendiri. Hampir setengah tahun telah berlalu sejak peristiwa dengan Sandi. Luka itu tidak sepenuhnya hilang, tetapi denyutnya mulai mereda. Trauma tidak lagi datang setiap malam, meski bayangnya kadang masih menyelinap di sela kesunyian. Dalam psikologi klinis, ini disebut attenuation of trauma response—ketika ingatan tetap ada, tetapi intensitas emosinya mulai menurun.

“Baik, Bang,” jawab Nenden akhirnya.

Keputusan itu bukan semata karena Andrinov. Ada faktor lain yang lebih konkret dan tak bisa diabaikan: dapur yang semakin kritis. Stok beras menipis, toko sudah digadai, dan uang simpanan kian menyusut. Untuk pertama kalinya sejak lama, Nenden kembali terlintas memikirkan Jakarta—kota yang dulu ia tinggalkan dengan janji pada dirinya sendiri untuk tidak kembali.

Ia menutup panggilan itu perlahan. Ponsel diletakkan kembali di meja. Nenden menatap jendela, ke arah jalan Cipayung–Megamendung yang selalu ramai oleh kendaraan yang lewat tanpa pernah benar-benar singgah. Ia sadar, hidup jarang memberi pilihan yang bersih. Yang ada hanyalah pilihan-pilihan yang lahir dari kebutuhan.

Dan kali ini, bukan rindu yang mengetuk hatinya, melainkan kenyataan.

***

Perkuat Dakwah Urban, Muhammadiyah Jakarta Selatan Bangun Sinergi Strategis

JAKARTAMU.COM | Kolaborasi antarcabang dalam struktur organisasi menjadi kunci penting untuk memperluas dampak sosial dan keagamaan bagi masyarakat. Semangat...

More Articles Like This