RUMAH kontrakan yang ditunjukkan Andrinov berdiri tenang di Jalan Kebon Pala, sebuah ruas jalan yang lebih lapang dibanding gang-gang sempit Pondok Gede. Aspalnya rata, cukup untuk dua mobil berpapasan tanpa saling mengalah. Di kiri-kanan jalan, deretan rumah tua dan bangunan setengah permanen berdampingan dengan kios kecil dan gudang kain. Udara Tanah Abang memiliki bau khas—campuran debu tekstil, keringat pekerja, dan sisa hujan yang mengendap di selokan. Bagi banyak orang, kawasan ini melelahkan; bagi pedagang, ia adalah nadi kehidupan.
Rumah itu sendiri lebih besar dari kontrakan Daniel. Terasnya cukup luas untuk dua kursi rotan dan sebuah meja kecil. Ruang tamunya lega, dengan jendela lebar yang memungkinkan cahaya sore masuk tanpa diundang. Ada dua kamar tidur—cukup bagi Nenden dan Nabila, dengan satu ruang ekstra yang kelak bisa menjadi tempat menyimpan barang atau sekadar ruang bernapas. Dapur di belakang masih kosong, tetapi bersih; dindingnya belum ternodai asap minyak, seolah menunggu cerita baru untuk ditulis di sana.
Nenden tidak banyak berbicara. Ia hanya berjalan pelan, mengamati sudut-sudut rumah, menyentuh kusen pintu, membuka jendela, memastikan angin bisa masuk. Ia seperti seorang peneliti lapangan yang memeriksa variabel-variabel dasar sebelum mengambil kesimpulan. Dalam ekonomi perilaku, keputusan sering kali diambil bukan karena analisis rumit, melainkan karena bounded rationality—rasionalitas yang cukup, bukan sempurna. Dan Nenden tahu, dalam hidupnya, “cukup” sering kali sudah menjadi kemewahan.
Rumah itu masih kosong. Artinya jelas: ranjang, lemari, dan peralatan dapur dari Pondok Gede akan dipindahkan ke sini. Tidak ada romantisasi awal baru dengan perabot baru. Nenden tidak tertarik pada simbol-simbol kemewahan. Ia lebih percaya pada kesinambungan—bahwa hidup tak perlu selalu dimulai dari nol, cukup disusun ulang dengan lebih sadar.

“Apalagi yang perlu dibeli untuk melengkapi isi rumah?” tanya Andrinov, suaranya praktis, seperti orang yang terbiasa menyelesaikan masalah dengan daftar belanja.
“Nggak usah beli apa-apa,” jawab Nenden singkat. “Barang-barang Nenden di Pondok Gede tinggal dipindah ke sini.”
Ia mengucapkannya tanpa ragu. Dalam Islam, sikap qana’ah—merasa cukup—dipandang sebagai kekayaan jiwa. Imam Al-Ghazali menyebutnya sebagai “ketenangan hati terhadap apa yang ada, tanpa tamak pada yang belum tentu membawa maslahat.” Nenden, tanpa mengutip kitab apa pun, mempraktikkan prinsip itu dengan naluri yang terasah oleh hidup.
“Nggak mau pasang AC?” Andrinov bertanya lagi, sambil menatap langit-langit.
“Nggak usah. Ada kipas angin,” jawab Nenden. Sederhana. Ia tumbuh di dataran yang dingin, dan meski Jakarta panas, ia tahu tubuh manusia punya kemampuan adaptasi yang luar biasa. Dalam fisiologi, adaptasi termal adalah mekanisme alami—dan bagi Nenden, adaptasi bukan hanya urusan tubuh, tetapi juga batin.
Andrinov mengangguk, tampak puas. Ia seperti seseorang yang menemukan kecocokan bukan pada hal besar, melainkan pada kesederhanaan sikap. “Jadi kapan Nenden pindah ke sini?”
“Secepatnya. Besok juga boleh,” jawab Nenden. Keputusan itu meluncur begitu saja, tetapi bukan tanpa dasar. Ia tahu, menunda terlalu lama hanya akan memperbesar kecemasan. Psikologi menyebutnya procrastination anxiety—kecemasan yang tumbuh karena keputusan yang digantung.
Lalu ia terdiam sejenak. Matanya bergerak ke kamar yang kelak akan ditempati Nabila. “Cuma, bagaimana dengan Nabila?” tanyanya kemudian. Di setiap keputusan, selalu ada satu variabel yang tak bisa dinegosiasikan: anaknya.
“Nabila bisa dibawa ke toko untuk sementara,” jawab Andrinov cepat. “Sampai kita mendapatkan pengasuh.”
Jawaban itu terdengar logis, efisien—bahkan solutif. Namun bagi Nenden, solusi tidak pernah berdiri sendiri; ia selalu membawa konsekuensi moral. Ia teringat ucapan Ali bin Abi Thalib: “Anak-anakmu bukanlah hidup di zamanmu; didiklah mereka sesuai zamannya.” Tetapi ia juga tahu, kehadiran ibu bukan sekadar fungsi logistik.
Nenden memandang rumah itu sekali lagi. Jalan Kebon Pala di luar jendela ramai oleh suara motor dan pedagang. Tanah Abang bergerak dengan logika ekonomi yang keras: waktu adalah uang, dan kelelahan adalah biaya produksi. Ia akan masuk ke pusaran itu—bukan sebagai korban, ia berharap, melainkan sebagai subjek yang sadar.
Di titik itu, Nenden memahami makna madu pahit yang kian nyata. Manisnya adalah peluang, tempat tinggal yang lebih dekat dengan sumber nafkah, tangan yang menawarkan bantuan. Pahitnya adalah risiko ketergantungan, kompromi yang harus dijaga batasnya, dan tanggung jawab moral yang tak bisa dilimpahkan.
Ia tidak menolak. Ia juga tidak menyerahkan diri sepenuhnya. Seperti kata Viktor Frankl, yang sering ia dengar dikutip orang terpelajar, “Kebebasan terakhir manusia adalah memilih sikapnya dalam keadaan apa pun.”
Dan di rumah kosong di Jalan Kebon Pala itu, Nenden memilih sikap: melangkah dengan sadar, menata hidup tanpa berpura-pura bahwa jalan ini tanpa duri.
***


