Madu Pahit Nenden — Bagian 12: Antara Dua Pria

Must Read

Azan Subuh berkumandang lirih, memantul di antara dinding-dinding rumah kontrakan Pondok Gede yang sudah lama menyimpan gema kesepian. Suara itu menembus tidur Nenden seperti panggilan yang lembut namun tegas—pengingat bahwa waktu terus berjalan, bahkan ketika manusia ingin berhenti sejenak.

“Uh… kesiangan,” gumamnya sambil bangkit setengah sadar.

Semalam ia tidur agak larut. Perjalanan bolak-balik Tanah Abang–Pondok Gede menguras tenaga dan pikiran. Tubuhnya lelah, tetapi pikirannya lebih letih lagi. Dalam ilmu fisiologi, kondisi ini dikenal sebagai mental fatigue: saat tubuh mungkin bisa beristirahat, tetapi pikiran terus bekerja, memutar ulang percakapan, kemungkinan, dan kecemasan.

Nabila masih terlelap di sampingnya, wajah kecil itu damai, napasnya teratur. Nenden menatap putrinya lama. Di sanalah ia selalu menemukan alasan untuk bangun, bergerak, dan bertahan. Imam Al-Ghazali pernah menulis bahwa cinta kepada anak adalah fitrah yang ditanamkan Allah agar manusia tidak tercerabut dari tanggung jawabnya. Dan Nenden merasakan fitrah itu bekerja setiap hari—menjadi kompas moral di tengah badai pilihan.

Milad 117 H Muhammadiyah

Setelah berwudu dan menunaikan Subuh dengan tergesa tapi khusyuk, Nenden mulai mengemas barang-barangnya. Ia menarik kardus bekas dari sudut rumah. Tidak cukup. Jelas tidak cukup. Hidupnya di Jakarta pernah terbangun cukup lama—dan meski ia pergi dengan luka, jejak-jejak itu masih tertinggal dalam bentuk benda-benda sederhana.

Ia tidak memaksakan diri. Hanya mengumpulkan barang-barang yang akan dibawa pindahan ke satu sudut ruang tamu: pakaian, sprei, bantal, beberapa buku, peralatan dapur yang paling sering dipakai. Sisanya menunggu.

Sebelum keluar membeli kardus tambahan, Nenden menghampiri Mbok Rani yang sedang menyiram tanaman di halaman samping.

“Mbok,” katanya lembut, “tolong titip Nabila sebentar ya.”

“Eneng mau ke mana?” tanya Mbok Rani sambil mematikan selang.

“Mau beli kardus, Mbok. Buat beres-beres barang.”

“Lho… Eneng mau pindahan?” Mbok Rani menatapnya, setengah kaget.

Nenden mengangguk. “Iya. Mau pindah ke Tanah Abang. Biar dekat tempat kerja.”

Mbok Rani manggut-manggut, wajahnya penuh pemakluman. Dalam benaknya, Andrinov adalah suami Nenden. Ia tidak bertanya lebih jauh. Orang-orang kampung terbiasa memahami hidup orang lain tanpa harus mengetahui seluruh detailnya.

“Sing ati-ati, Eneng,” katanya akhirnya. “Di mana pun tinggal, yang penting hatinya dijaga.”

Kalimat sederhana itu menancap dalam. Peribahasa Sunda terlintas di benak Nenden:
Hirup mah lain saukur pindah tempat, tapi pindah tanggung jawab.
Hidup bukan sekadar berpindah tempat, tetapi berpindah tanggung jawab.

Nenden kembali dari toko dengan beberapa kardus besar. Ia bekerja cepat, efisien—seolah ingin menyelesaikan segalanya sebelum hatinya sempat ragu. Dalam ekonomi perilaku, ini disebut implementation momentum: saat seseorang yang telah mengambil keputusan besar berusaha mengeksekusinya secepat mungkin agar tidak goyah oleh keraguan.

Menjelang siang, suara mesin berhenti di depan rumah. Mobil bak terbuka. Beberapa lelaki turun, sigap dan profesional. Pindahan bukan hal baru bagi mereka.

Nenden memberi instruksi singkat:
“Ranjang itu. Lemari. Meja kursi. Kompor. Peralatan dapur. Piring-piring.”

Barang-barang besar diangkat lebih dulu. Kardus-kardus hanya beberapa—isinya sprei, sarung bantal, pakaian secukupnya. Selebihnya, hidup memang sering kali harus disederhanakan sebelum bisa ditata ulang.

Saat satu per satu barang keluar dari rumah, ruang-ruang itu terasa semakin kosong. Namun anehnya, dada Nenden tidak sesak. Ia justru merasa ringan—seperti seseorang yang akhirnya berani melepaskan beban yang terlalu lama digendong.

Pondok Gede adalah keadaan. Tanah Abang adalah tantangan. Dan Nenden sedang berada di Tengah, mengubah dirinya pelan-pelan.

Nabila terbangun dan merengek mencari ibunya. Mbok Rani menggendongnya keluar.

“Mah…” panggil Nabila.

Nenden segera menghampiri, mengusap rambut putrinya. “Sebentar ya, Nak. Kita mau pindah.”

Nabila tidak paham sepenuhnya, tapi ia memeluk Nenden erat. Anak kecil membaca dunia bukan lewat logika, melainkan lewat rasa aman. Selama ibunya ada, dunia masih bisa dipercaya.

Ketika semua barang telah naik ke mobil, Nenden berdiri sejenak di depan rumah. Rumah yang pernah ia tinggalkan dengan tergesa. Rumah yang dijaga orang lain dengan kesetiaan sederhana. Rumah yang kini ia tinggalkan lagi—dengan kesadaran penuh.

Ia menunduk, berdoa dalam hati.

“Ya Allah, Engkau Maha Mengetahui apa yang tak sanggup kuucapkan. Jika langkah ini mendekatkanku pada-Mu, kuatkan. Jika menjauhkan, beri aku tanda.”

Ibnu Qayyim al-Jauziyyah menulis bahwa doa orang yang terhimpit pilihan adalah doa yang paling jujur, karena di sana ego mulai runtuh dan tawakal mulai tumbuh.

***

Perkuat Dakwah Urban, Muhammadiyah Jakarta Selatan Bangun Sinergi Strategis

JAKARTAMU.COM | Kolaborasi antarcabang dalam struktur organisasi menjadi kunci penting untuk memperluas dampak sosial dan keagamaan bagi masyarakat. Semangat...

More Articles Like This