Madu Pahit Nenden — Bagian 12: Antara Dua Pria

Must Read

Malam turun perlahan di Jakarta. Lampu-lampu jalan menyala satu per satu, memantul di aspal yang masih menyimpan panas siang. Dari dalam Jeep yang melaju tenang, Nenden memandang keluar jendela. Pohon-pohon trembesi di sepanjang jalan Pondok Gede berdiri seperti penjaga sunyi—diam, tua, dan penuh rahasia.

Di kursi sebelahnya, Andrinov menyetir dengan tangan mantap. Wajahnya terlihat lebih serius dari biasanya. Tak ada lagi obrolan ringan, tak ada basa-basi. Hanya suara mesin dan sesekali klakson kendaraan lain. Bakda Isya, kota seperti masuk ke fase kontemplatifnya sendiri—lebih lambat, lebih jujur.

Nenden menarik napas panjang. Ia tahu, jika pertanyaan itu tidak ia ajukan malam ini, ia akan terus menunda, dan penundaan—seperti kata filsuf Søren Kierkegaard—adalah bentuk keputusasaan yang paling halus.

“Bang,” ujar Nenden akhirnya, suaranya tenang tapi tegas, “sebenarnya Abang merencanakan apa atas diri Nenden?”

Milad 117 H Muhammadiyah

Andrinov terbatuk kecil. Tangannya sedikit mengencang di setir. Pertanyaan itu datang lurus, tanpa pembuka, tanpa kelokan. Ia tidak siap—atau mungkin, ia terlalu lama menghindari momen ini.

“Membuat Nenden lebih baik,” jawabnya akhirnya.

Jawaban itu menggantung di udara. Terlalu umum. Terlalu aman.

Nenden menoleh. Tatapannya lurus. “Apa maksud Abang? Apakah selama ini Nenden buruk?”

Andrinov buru-buru menggeleng. “Bukan begitu. Maksud Abang… Abang ingin Nenden bersama Abang.”

Kalimat itu terdengar jujur, tapi belum utuh. Seperti teori dalam komunikasi interpersonal, kata-kata sering kali hanya permukaan; makna sesungguhnya tersembunyi dalam keberanian menjelaskan.

“Abang sudah menikah?” tanya Nenden, tanpa nada menuduh.

Jeep melambat sesaat. Andrinov diam cukup lama, lalu mengangguk.
“Ada istri di Sawahlunto. Anak tiga.”

Sawahlunto—kota tambang tua di Sumatera Barat—melintas di benak Nenden. Kota yang sunyi, berbukit, dan jauh dari Jakarta. Ia membayangkan seorang perempuan lain, dengan kehidupan yang sama nyatanya seperti dirinya.

“Hidup saya,” lanjut Andrinov, “kesepian. Mondar-mandir Jakarta–Malaysia. Ketemu istri jarang.”

Nenden tidak terkejut. Ia hanya mengangguk pelan. Pengalaman telah mengajarkannya bahwa kebenaran sering kali tidak datang sebagai guncangan, melainkan sebagai konfirmasi atas firasat lama.

“Lalu apa rencana Abang?” desaknya.

“Menikah dengan Nenden.”

Jawaban itu akhirnya tiba—telanjang, tanpa selimut metafora.

“Mengapa?” tanya Nenden.

“Karena Abang jatuh cinta.”

Nenden tersenyum tipis. “Jatuh cinta? Begitu mudah?”

“Sejak pertama melihat Nenden di kafe itu,” kata Andrinov jujur, “Abang naksir berat.”

Kata naksir terdengar sederhana, hampir remeh, tapi dampaknya besar. Dalam psikologi evolusioner, ketertarikan awal memang sering bersifat instingtif. Namun pernikahan—terutama dalam Islam—tidak dibangun di atas insting semata, melainkan tanggung jawab dan keadilan.

Nenden terdiam cukup lama. Jalanan semakin sepi. Lampu merah menyala, lalu hijau kembali.

“Boleh Nenden bicara?” katanya akhirnya.

“Tentu.”

“Nenden tidak menyalahkan Abang yang tertarik. Itu fitrah,” ucapnya pelan. “Tapi Abang harus sabar.”

“Satu tahun lebih Abang mengejar Nenden. Kurang sabar apa?” Andrinov tersenyum getir.

Nenden menelan ludah. “Kita jarang bertemu. Kita belum saling mengenal sungguh-sungguh. Bagaimana Nenden bisa yakin?”

Pertanyaan itu bukan penolakan, melainkan permintaan waktu. Dalam teori pilihan rasional, keputusan besar membutuhkan informasi yang cukup. Tanpa itu, pilihan menjadi spekulasi, bukan ikhtiar.

“Oke,” kata Andrinov akhirnya. “Maunya Nenden bagaimana?”

“Biarkan mengalir,” jawab Nenden. “Jika waktunya tiba, kita akan tahu.”

“Jadi kita pacaran?”

Nenden menggeleng pelan. “Terserah Abang menyebutnya apa. Tapi satu hal harus Abang ingat.”

Andrinov menunggu.

“Nenden tidak bisa melanggar norma agama,” lanjut Nenden. “Jangan nodai perasaan Abang itu dengan hal-hal yang menyimpang.”

Kalimat itu lembut, tapi tegas. Ia teringat ucapan Imam Malik: Ilmu tanpa adab adalah kegilaan, dan adab tanpa ilmu adalah kesia-siaan. Cinta tanpa batas adalah kegilaan; batas tanpa cinta adalah kehampaan.

Andrinov mengangguk. Ia paham. Atau setidaknya, ia memilih untuk memahami.

Mobil berhenti di depan kontrakan Pondok Gede. Malam telah matang. Nenden membuka pintu, menggendong Nabila yang tertidur di kursi belakang.

Di bawah langit Jakarta yang kelabu, langit yang seperti tak pernah benar-benar cerah dan tak sepenuhnya gelap, Nenden melangkah dengan kesadaran baru: bahwa hidup jarang memberi pilihan yang bersih. Bahwa kebaikan sering datang bersama ujian. Dan bahwa menjaga diri—di dunia yang terus menawar, menekan, dan memikat—adalah bentuk jihad yang paling sunyi.

Ibnu Qayyim al-Jauziyyah pernah menulis, “Hati itu seperti burung; ia akan terbang kepada apa yang ia cintai, dan akan bergantung pada apa yang ia harapkan.”  Kalimat itu seakan nempel di benak Nenden ketika ia menutup pintu rumah kontrakan Pondok Gede malam itu. Ia sadar, hatinya sedang diuji: akan bergantung pada manusia dengan segala janjinya, atau tetap berpijak pada ikhtiar dan tawakal yang berimbang.

Lampu-lampu jalan menyala redup, memantulkan cahaya kekuningan di aspal yang masih menyimpan panas siang. Jakarta tak pernah benar-benar tidur. Suara kendaraan dari kejauhan seperti napas kota yang terengah, terus bergerak meski lelah. Di dalam rumah, Nabila telah terlelap, tubuh kecilnya terbungkus selimut tipis. Wajah anak itu tenang—sebuah ketenangan yang selalu mengingatkan Nenden pada alasan paling jujur mengapa ia harus bertahan.

Percakapan di dalam jeep Andrinov masih terasa menggantung di udara.

“Jadi besok jam berapa?” tanya Andrinov sebelum berpamitan. Nada suaranya terdengar ringan, tetapi matanya menyimpan ketegangan yang tak sepenuhnya bisa disembunyikan.

“Siang boleh,” jawab Nenden singkat.

“Oke,” Andrinov mengangguk cepat, lalu menyalakan mesin dan melaju ke arah Cibubur—ke rumahnya di salah satu perumahan yang tertata rapi, jauh dari hiruk-pikuk Tanah Abang. Rumah kontrakan di Kebon Pala memang sengaja ia siapkan untuk Nenden. Dalam benaknya, rencana itu terasa sederhana: menyediakan tempat, memberi rasa aman, lalu perlahan mendekatkan hati. Ia tak menyangka bahwa justru Nenden yang lebih dulu memaksa kejelasan.

Di teras rumah, Nenden berdiri beberapa detik lebih lama sebelum masuk. Ada fase dalam psikologi yang disebut threshold moment—titik ketika seseorang sadar bahwa hidupnya tak bisa lagi dijalani dengan cara lama. Nenden tahu, ia telah melewati ambang itu. Tak ada jalan mundur yang sepenuhnya utuh, tapi jalan ke depan pun menuntut kehati-hatian yang berlipat.

Ia masuk ke kamar, duduk di tepi ranjang, dan memandangi Nabila. Dalam ilmu ekonomi keluarga, anak sering disebut sebagai intergenerational investment—investasi lintas generasi. Tapi bagi Nenden, Nabila bukan angka, bukan variabel. Ia adalah amanah. Dan amanah, seperti ditegaskan Imam Al-Ghazali, selalu menuntut pertanggungjawaban, bukan hanya di dunia, tetapi juga di hadapan Allah.

Malam semakin larut. Nenden mengambil wudu, lalu menunaikan salat Isya dengan gerakan perlahan. Dalam sujud terakhir, ia berdiam lebih lama. Tak ada doa yang bertele-tele. Hanya kalimat sederhana yang keluar dari hatinya:

“Ya Allah, jika jalan ini baik bagiku dan anakku, dekatkanlah dengan ridha-Mu. Jika ia buruk, kuatkanlah aku untuk menolaknya.”

Ia teringat ucapan Viktor Frankl, psikiater yang selamat dari kamp konsentrasi Nazi: “Di antara stimulus dan respons, ada ruang. Di ruang itulah kebebasan manusia berada.” Nenden ingin tinggal di ruang itu—ruang jeda, ruang sadar—agar setiap langkahnya bukan sekadar reaksi atas luka lama atau tekanan keadaan.

Jakarta mungkin menawarkan peluang, tetapi juga menyimpan jebakan. Tanah Abang dengan denyut ekonominya yang keras, Pondok Gede dengan sisa-sisa kenangan pernikahan yang runtuh, dan Cipayung yang tenang namun miskin pilihan—semuanya hadir bersamaan dalam benak Nenden. Ia berada di persimpangan geografis dan batin.

Malam telah larut, Nenden berbaring, memejamkan mata. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tidak merasa harus segera menjawab hidup.

Ia tahu, esok hari Andrinov akan datang. Akan ada percakapan lanjutan, mungkin tawaran baru, mungkin tekanan halus yang dibungkus perhatian. Tapi malam itu, ia memilih satu sikap terlebih dahulu: tidak tergesa, tidak menyerah, dan tidak mengkhianati dirinya sendiri.

Dan di tengah kota yang gemar mempercepat segalanya, keputusan untuk melambat itu—anehnya—menjadi sumber kekuatan paling nyata yang pernah ia rasakan.

***

Perkuat Dakwah Urban, Muhammadiyah Jakarta Selatan Bangun Sinergi Strategis

JAKARTAMU.COM | Kolaborasi antarcabang dalam struktur organisasi menjadi kunci penting untuk memperluas dampak sosial dan keagamaan bagi masyarakat. Semangat...

More Articles Like This