Madu Pahit Nenden — Bagian 6: Rasa yang Asing

Must Read

Oleh Miftah H. Yusufpati

BELUM genap sebulan Nenden kembali menetap di Cipayung, Megamendung, ketika sesuatu yang tak pernah benar-benar tidur di wilayah itu mulai bergerak: daya cium para mak comblang. Ia bukan indra yang tercatat dalam buku biologi, tetapi bekerja dengan ketepatan yang membuat teori apa pun tampak lamban. Mereka mengendus perubahan status sosial seperti hewan mengendus datangnya hujan—dari langkah yang melambat, dari mata yang terlalu sering menunduk, dari bayi yang digendong tanpa baya-ngan lelaki di sisinya.

Nenden merasakannya bahkan sebelum kabar itu diucapkan. Ada tatapan yang tertahan lebih lama ketika ia melintas di depan warung. Ada senyum yang tiba-tiba terlalu ramah, terlalu ingin tahu. Ada bisik-bisik yang berhenti mendadak saat ia mendekat. Tubuh sosial desa, sebagaimana dikemukakan Pierre Bourdieu, selalu bereaksi terhadap perubahan posisi seseorang di dalam struktur. Dan status janda adalah salah satu perubahan paling gaduh—meski dibungkus kesunyian.

Maka muncullah kabar itu: janda baru.

Milad 117 H Muhammadiyah

Lina adalah yang pertama mendekat. Ia datang sore hari, ketika bayangan pohon alpukat memanjang di tanah merah dan udara pegunungan mulai turun derajatnya. Penampilannya jauh dari kesan anggun atau keibuan seperti mak comblang dalam cerita lama. Ia mengenakan celana denim pudar, kaos putih sederhana, dan jilbab putih yang dililit praktis tanpa hiasan. Wajahnya memperlihatkan bekas jerawat yang belum sepenuhnya hilang, seperti peta kecil dari masa lalu yang keras. Bibirnya tipis, dan dari mulutnya kerap keluar suara serak—jejak kebiasaan merokok yang tak ia sembunyikan. Sesekali, jarinya bergerak refleks, seolah mencari rokok yang tak sedang ia nyalakan.

Lina tidak membawa kesan mencurigakan. Justru sebaliknya—ia tampak biasa, terlalu biasa untuk dicurigai. Senyumnya lentur, mudah berubah: bisa hangat, bisa akrab, bisa pula menyerupai empati jika situasi menuntut. Senyum semacam itu tidak lahir dari ketulusan, melainkan dari jam terbang panjang membaca reaksi manusia.

Lina tidak pernah menyebut dirinya mak comblang. Di Cipayung, istilah itu terlalu telanjang. Ia lebih suka disebut orang yang “membantu jalan hidup orang lain”. Bahasa, sebagaimana selalu, menjadi alat pertama untuk menormalkan sesuatu yang sesungguhnya problematik.

Wilayah dari Gadog sampai Cianjur, dari Ciawi hingga Sukabumi, adalah ladang subur bagi dunia semacam ini. Di lereng-lereng pegunungan yang sejuk dan tampak religius, tumbuh jaringan ekonomi informal yang bergerak rapi tanpa kantor, tanpa akta, tanpa hukum tertulis. Banyaknya janda—hasil dari pernikahan dini, perceraian cepat, kekerasan rumah tangga, atau lelaki yang pergi merantau dan tak kembali—menjadikan bisnis ini bukan sekadar bertahan, melainkan berkembang.

Para mak comblang saling terhubung seperti simpul saraf. Satu kabar kecil dapat berpindah dari satu warung kopi ke warung lain dalam hitungan jam. Umur, warna kulit, bentuk wajah, jumlah anak, sebab perceraian, bahkan kadar kesalehan—apa-kah rajin mengaji, apakah mudah menurut—semuanya menjadi data. Dalam antropologi ekonomi, jaringan semacam ini dikenal sebagai reciprocal network: hidup bukan karena hukum formal, melainkan karena saling menguntungkan.

Fenomena ini bukan hanya milik Megamendung. Di Jepang, praktik omiai pernah dilembagakan negara sebagai solusi demografis. Di India, makelar perkawinan bekerja dengan katalog keluarga dan kasta. Di sebagian wilayah Timur Tengah, perempuan janda sering “ditawarkan kembali” melalui jaringan kerabat de-ngan bahasa kehormatan. Polanya berbeda, substansinya sama: tubuh perempuan menjadi simpul ekonomi sekaligus moral.

Inilah yang menjadikan lelaki-lelaki dari Jakarta mengincar wilayah ini. Jaraknya cukup dekat untuk dijangkau, cukup jauh untuk dirahasiakan. Udara pegunungan memberi ilusi kesucian, seolah niat yang lahir di sini lebih bersih dari hitung-hitungan kota.

Namun para mak comblang juga punya aturan main. Tak semua janda bisa dipasarkan sembarangan. Ada yang harus “dipoles” dulu—cara bicara, cara duduk, cara tersenyum. Ada yang dijaga ketat karena nilai jualnya tinggi. Pola kerjanya hampir selalu sama: merekrut, memasarkan, menekan secara halus, lalu membungkus semuanya dengan bahasa moral dan agama.

Sore itu, Lina duduk berhadapan dengan Nenden di bangku kayu teras rumah. Ia menyilangkan kaki, satu tangan bertumpu di paha, tangan lain menggenggam ponsel. Sesekali ia berdeham, suara seraknya pecah pelan di udara dingin.

Nenden duduk dengan punggung sedikit membungkuk. Kedua tangannya saling menggenggam di pangkuan, jemarinya menekan kuat, seolah menahan sesuatu agar tidak runtuh. Ia sesekali mengusap rambutnya—gerak kecil yang selalu muncul setiap kali ia gelisah. Matanya waspada, tetapi kelelahan telah menetap di sana.

“Mau cari duit gampang?” tanya Lina tanpa basa-basi.

Tubuh Nenden menegang seketika. Bahunya terangkat, napasnya tertahan sesaat. Refleks primitif menghadapi ancaman moral.

“Tidak,”  jawabnya tegas. Suaranya keluar lebih keras dari yang ia rencanakan.

Lina terkekeh pelan, suara seraknya menggesek udara. “Jangan salah sangka. Ini cuma permainan.”

Nenden menggeleng cepat. Dagunya terangkat, sorot matanya mengeras. “Tetap tidak.”

“Cuma ketemu. Bilang iya. Minimal dua ratus ribu dapat.”

Pada titik itu, tubuh Nenden bereaksi lebih lambat daripada pikirannya. Bahunya turun. Napasnya memanjang. Tangannya terlepas dari genggaman, jatuh ke sisi bangku. Kata dua ratus ribu bekerja lebih keras daripada semua bujukan sebelumnya. Psikologi kognitif menyebut kondisi ini scarcity mindset—ketika kekurangan membuat penilaian moral menjadi lentur.

“Apaan itu?” tanyanya akhirnya, suaranya nyaris berbisik.

Lina menjelaskan dengan tenang, seolah membaca peta yang sudah lama ia hafal.

Setiap kalimat Lina disambut reaksi kecil dari tubuh Nenden: alis yang berkerut, bibir yang terkatup rapat, tangan yang kembali menggenggam ujung kain. Saat kata “bilang iya” diucapkan, Nenden menelan ludah. Lehernya bergerak jelas.

“Saya belum siap menikah lagi,” katanya lirih.

Lina tersenyum, senyum orang yang telah terlalu sering melihat penolakan semacam itu. “Itu cuma angin surga.”

“Bohong dong,” Nenden menyela cepat.

“Bukan bohong,” jawab Lina ringan. “Iya saat itu.”

Nenden terdiam lama. Tatapannya jatuh ke tanah. Di dalam dirinya, perang berlangsung tanpa suara. Ia teringat ayat tentang kejujuran. Teringat nasihat ustaz tentang niat. Namun ia juga teringat botol susu yang hampir kosong, popok yang menipis, dan dompet yang sejak lama hanya berisi udara.

Dalam etika Islam, dosa jarang datang sebagai hitam pekat. Ia hadir sebagai abu-abu yang dibenarkan keadaan. Al-Ghazali menyebutnya talbîs al-iblîs: tipu daya yang bekerja melalui rasionalisasi yang tampak masuk akal.

Ketika Lina menyebut soal uang dan pamitan pulang, Nenden mengangguk perlahan. Gerakan itu kecil, hampir tak terlihat, tetapi menentukan.

“Baiklah,” katanya akhirnya.

Suaranya terdengar asing di telinganya sendiri.

Di dadanya, ada rasa hangat sesaat—lega—lalu dingin yang menyusul. Ia tahu, ia baru saja menelan setetes madu. Manisnya singgah sebentar. Pahitnya akan bekerja perlahan, mengendap di kesadaran.

Ia belum tahu berapa harga yang kelak harus dibayar. Tetapi tubuhnya telah mencatat satu hal: martabat, sekali digeser sedikit saja, tak pernah kembali ke posisi semula tanpa meninggalkan luka.

***

Perkuat Dakwah Urban, Muhammadiyah Jakarta Selatan Bangun Sinergi Strategis

JAKARTAMU.COM | Kolaborasi antarcabang dalam struktur organisasi menjadi kunci penting untuk memperluas dampak sosial dan keagamaan bagi masyarakat. Semangat...

More Articles Like This