Madu Pahit Nenden — Bagian 6: Rasa yang Asing

Must Read

Sore itu, cahaya matahari tidak benar-benar terik. Sisa hujan semalam masih menggantung di udara Megamendung, membuat sinar datang redup dan menyebar, seolah enggan menampakkan ketajamannya. Ima memutuskan tempat pertemuan di Kopi Sawah—sebuah resto dan kafe yang dibangun di antara petak-petak padi, tempat orang kota biasa merasa sedang “pulang ke alam”, meski hanya sebentar.

Mereka berangkat menjelang sore, menumpang angkutan kota 02A Cisarua-Sukasari. Kendaraan itu melaju perlahan, menggeram menanjak, dipenuhi bau bensin, tanah basah, dan tubuh-tubuh yang lelah. Nenden duduk di dekat pintu, memandangi kabut tipis yang turun dari lereng gunung. Di kaca yang buram, ia melihat bayangan wajahnya sendiri. Asing, seperti milik orang lain yang sedang ia perankan.

Mereka turun setelah jembatan kecil di wilayah Gadog. Dari sana, jalan kaki menyusuri jalan beraspal. Angin berembus pelan, menggerakkan pepohonan yang menghijau, di pinggir jalan, menimbulkan suara gesekan halus seperti bisikan panjang. Nenden melangkah pelan. Setiap langkah terasa seperti masuk lebih jauh ke wilayah yang belum ia pahami.

Kopi Sawah sore itu ramai. Meja-meja kayu terisi penuh. Tawa dan percakapan bercampur dengan bunyi sendok, denting gelas, dan sesekali suara kamera ponsel. Ima sudah tiba lebih dulu. Ia duduk bersama seorang lelaki paruh baya di meja berempat, dengan papan kecil bertuliskan Kelinci 7. Begitu melihat Lina dan Nenden mendekat, keduanya berdiri.

Milad 117 H Muhammadiyah

Ima memperkenalkan lelaki itu sebagai Hendro.

Usianya sekitar lima puluh lima tahun. Rambutnya mulai memutih di pelipis, perutnya sedikit menonjol di balik kemeja lengan pendek yang disetrika rapi. Jam tangan logam melingkar di pergelangan tangannya—penanda kelas menengah mapan yang gemar menegaskan stabilitas lewat benda. Sorot matanya tajam, tetapi berusaha dibuat ramah.

Lina memperkenalkan Nenden dengan suara lembut yang terlatih.

Hendro terpana. Tatapannya berhenti sejenak, terlalu lama untuk sekadar sopan.

“Lebih cantik aslinya,” katanya spontan, nyaris seperti bergumam. Sebuah perbandingan yang ingin menegaskan bahwa foto di ponsel tidak cukup mewakili.

Nenden menunduk. Senyum tipis terbit di bibirnya, refleks lama yang ia pelajari sejak kecil: senyum untuk meredam, untuk tidak menantang, untuk menyenangkan. Di dalam dadanya, jantung berdetak lebih cepat. Tubuhnya sadar ia sedang dinilai.

Mereka duduk. Memesan minuman dan makanan. Hendro memesan kopi hitam tanpa gula, seolah ingin menampilkan kesederhanaan. Nenden memilih teh hangat. Percakapan segera didominasi Hendro.

Ia bercerita tentang hidupnya di Jakarta. Tentang pekerjaannya. Tentang istri yang sebaya dengannya. Tentang tiga orang anak yang sudah dewasa. Ia menyebut semua itu dengan nada datar, seperti laporan—tanpa konflik, tanpa retakan.

Lalu, tanpa pengantar panjang, ia masuk ke inti.

“Saya ingin menikah lagi,” katanya.

Kalimat itu jatuh di meja seperti benda padat. Tidak ada basa-basi romantik. Tidak ada rayuan. Hanya pernyataan kehendak.

“Apakah Nenden mau menjadi istri saya?”

Pertanyaan itu membuat waktu seolah berhenti. Nenden terpana. Dalam sepersekian detik, pikirannya melompat ke banyak tempat: wajah Nabila yang tertidur, suara mamanya, nasihat ustaz tentang pernikahan, ayat tentang keadilan, dan ajaran Lina yang berputar seperti rekaman pendek.

Ia teringat bagaimana Lina berkata: Jangan berpikir panjang. Angguk saja dulu.

Maka Nenden mengangguk.

Gerakan kecil itu mengubah suasana. Mata Hendro berbinar. Bahunya mengendur. Seperti seseorang yang baru saja mendapat konfirmasi atas sesuatu yang telah ia rencanakan matang. Dalam teori keputusan, ini disebut confirmation bias: manusia cenderung hanya mencari dan menerima informasi yang menguatkan keinginannya sendiri.

Makanan datang. Mereka makan sambil berbincang ringan. Hendro bertanya tentang kesukaan Nenden, tentang kese-hariannya. Pertanyaannya tampak ingin tahu, tetapi arah dan nadanya selalu satu: memastikan bahwa Nenden cukup muda, cukup menurut, cukup kosong dari perlawanan.

Nenden menjawab seperlunya. Suaranya pelan. Kata-katanya pendek. Ia lebih banyak menunduk. Dalam sosiologi interaksi, sikap semacam itu sering dibaca sebagai kesantunan, padahal kadang hanyalah mekanisme bertahan.

Menjelang azan magrib, langit mulai meredup. Lampu-lampu kecil di Kopi Sawah menyala, memantulkan cahaya ke genangan air di pematang. Nenden merasa dadanya sesak.

“Saya pamit,” katanya.

Hendro bergerak cepat. “Nomor kontaknya boleh?” tanyanya.

Nenden gagap. Lidahnya kelu. Ia menoleh ke Lina—tatapan minta tolong.

“Ponselnya rusak,” jawab Lina cepat, suaranya mantap. “Sudah lama nggak dipakai.”

Raut Hendro berubah. Sedikit kecewa. “Terus bagaimana saya bisa menghubungi?”

Nenden menelan ludah. Lalu menyebutkan nomor dua belas digit. “Ini nomor mama,” katanya. Bohong itu keluar tanpa getar, seperti sesuatu yang sudah dilatih.

Hendro mengangguk puas.

Mereka berdiri. Hendro mengepalkan uang dan menyelipkannya ke tangan Lina dan Nenden. Gerakan itu cepat, nyaris tak terlihat oleh pengunjung lain. Ini adalah praktik lama yang tahu betul bagaimana menyembunyikan transaksi di balik keramahan.

Di jalan pulang, setelah mereka menjauh dari tempat itu, Lina bertanya, “Berapa?”

Nenden membuka kepalan tangannya. Ia terdiam. Menghitung. Lima lembar seratus ribuan.

“Lima ratus ribu,” katanya lirih.

Lina berseri. Ia membuka tangannya sendiri. “Kakak dapat dua ratus.”

Nenden menyelipkan selembar seratus ribu ke tangan Lina. “Ini buat Kakak.”

Uang itu terasa hangat, seperti baru saja berpindah dari tubuh lain. Di benak Nenden, sebuah kalimat terngiang—bukan dari kitab suci, melainkan dari Max Weber: setiap tindakan ekonomi selalu membawa konsekuensi moral, meski pelakunya berusaha menyangkalnya.

Ia menggenggam sisa uang itu erat. Manisnya terasa cepat. Tetapi jauh di bawah lidah kesadarannya, pahit mulai mengendap—perlahan, sabar, dan hampir tak terdeteksi.

***

Perkuat Dakwah Urban, Muhammadiyah Jakarta Selatan Bangun Sinergi Strategis

JAKARTAMU.COM | Kolaborasi antarcabang dalam struktur organisasi menjadi kunci penting untuk memperluas dampak sosial dan keagamaan bagi masyarakat. Semangat...

More Articles Like This