Kopi Sawah mulai meredup ketika malam menjelang. Cahaya matahari yang tersisa menimpa hamparan hijau rumpun padi yang belum berbuah, menyelinap dari balik awan tipis, memantulkan warna kehijauan yang tenang—nyaris religius. Udara lembap menyimpan sisa hujan semalam. Angin berembus perlahan, menggerakkan daun-daun padi seperti barisan tasbih yang sedang berzikir tanpa suara. Di kejauhan, Gunung Pangrango berdiri kokoh—diam, namun memendam sejarah panjang tentang manusia yang datang dan pergi dengan segala hasrat dan niatnya.
Di salah satu sudut kafe itu, Ima mencondongkan tubuhnya ke arah Hendro. Wajahnya tersenyum, senyum profesional yang ditempa bertahun-tahun dalam dunia perantara hidup orang lain. Senyum yang tahu kapan harus hangat, kapan cukup formal.
“Selamat ya, Pak Hendro,” ucapnya ringan, nyaris seperti doa. “Dapat calon istri cantik.”
Hendro tersenyum lebar. Keriput di sudut matanya mengembang, menyingkap kegembiraan yang tak ia sembunyikan. Pada usia lima puluh lima tahun, ia merasa kembali muda atau setidaknya ingin meyakini perasaan itu. Tangannya merogoh saku celana dengan gerakan mantap, lalu menyerahkan beberapa lembar uang terlipat kepada Ima.

“Terima kasih,” katanya singkat, seolah transaksi itu hanyalah formalitas kecil.
Ima menerima uang itu tanpa ragu. Telapak tangannya telah hafal sensasi semacam ini: hangat, cepat, dan tak perlu dihitung di tempat. “Semoga sukses,” balasnya. Kalimat itu terdengar netral, tetapi sarat makna ganda. Sukses bagi Hendro, dan sukses pula bagi jaringan yang bekerja sunyi di balik pertemuan ini.
Tak ada pelukan. Tak ada jabat tangan panjang. Dunia mereka memang tak mengenal sentimentalitas. Dalam antropologi ekonomi, relasi semacam ini disebut impersonal trust, kepercayaan yang lahir bukan dari kedekatan emosional, melainkan dari kepentingan yang berulang dan saling menguntungkan.
Ima segera beranjak. Ia melangkah meninggalkan Kopi Sawah dengan langkah ringan, menyusuri pematang lantai semen yang mulai basah oleh embun senja. Ojek yang akan membawanya pulang sudah menunggu di depan, mesin menyala pelan seperti binatang yang bersiap kembali ke sarangnya.
Hendro pun bangkit dari kursinya. Ia menatap sejenak hamparan sawah yang mulai tenggelam dalam cahaya temaram, lalu berbalik menuju parkiran. Mobilnya meluncur menuruni jalan berliku, meninggalkan udara pegunungan menuju Jakarta; kota yang tak pernah benar-benar tidur, tempat ia akan kembali menjadi lelaki beristri satu, ayah dari tiga anak, dan calon suami kedua yang menyimpan rahasia baru di saku batinnya.
Di kepalanya, pikiran tentang Nenden berkelebat. Cantik. Pendiam. Patuh. Kriteria yang, menurutnya, ideal. Ia teringat ayat yang kerap dijadikan pembenaran: fa in khiftum allâ ta‘dilû fa wâhidah. Namun ayat itu jarang dibaca hingga ke ujung maknanya. Fazlur Rahman pernah mengingatkan bahwa keadilan dalam poligami bukan sekadar hitungan materi, melainkan keadilan moral yang menuntut kejernihan batin, sesuatu yang nyaris mustahil tanpa kesadaran spiritual yang jujur. Pikiran itu cepat ia sisihkan. Jakarta sudah menunggu, dan kesibukan kota selalu ampuh meredam kegelisahan etis.
Sementara itu, Ima duduk di boncengan ojek dengan tubuh sedikit merapat ke depan nempel tukang ojek. Ia melihat deretan warung, masjid kecil, dan rumah-rumah sederhana yang menyimpan kisah serupa Nenden. Perempuan-perempuan yang hidup di antara kebutuhan ekonomi dan tafsir agama. Ia tahu persis bagaimana mekanisme ini bekerja. Dalam jaringan mak comblang, manusia direduksi menjadi profil: usia, status, daya tarik, dan kesediaan. Selebihnya adalah narasi yang dapat disesuaikan.
Fenomena ini bukan anomali lokal. Di berbagai belahan dunia, praktik serupa hadir dengan wajah berbeda. Di Mesir, misalnya, terdapat zawaj misyar yang diperdebatkan para ulama. Yusuf al-Qaradawi membolehkannya dengan syarat tertentu, sementara ulama lain mengkritiknya karena mereduksi pernikahan menjadi kontrak kepentingan. Di Afrika Barat, poligami berkelinan de-ngan struktur ekonomi agraris. Di Indonesia, ia berbaur dengan kemiskinan, urbanisasi, dan tafsir agama yang kerap pragmatis.
Di tengah pusaran itu, Nenden hanyalah satu titik kecil. Namun seperti partikel dalam teori chaos, satu keputusan kecil dapat memicu rangkaian peristiwa besar. Ia belum tahu bahwa pertemuan di Kopi Sawah—yang tampak sepele dan singkat—akan menjadi salah satu simpul terpenting dalam hidupnya.
Madu telah disentuhkan ke bibirnya.
Manisnya baru terasa.
Pahitnya belum.
Dan di antara sawah yang tenang dan kota yang bising, nasib Nenden mulai bergerak: pelan, pasti, dan nyaris tak terelakkan.
***


