Malam turun perlahan di Cipayung. Lampu-lampu rumah menyala satu per satu, seperti doa yang dipanjatkan diam-diam oleh orang-orang yang kelelahan. Di dalam rumah, Nenden duduk sendiri di tepi dipan. Nabila telah tertidur pulas di kamar, napasnya teratur, dadanya naik turun dengan irama yang mene-nangkan sekaligus menyayat. Di ruang depan, suara Firly dan Isma sudah lama reda. Kelelahan masa kanak-kanak yang tak sempat memikirkan beban orang dewasa.
Nenden memandangi tangannya sendiri. Telapak itu tampak biasa, namun sore tadi menggenggam sesuatu yang mengubah arah hidupnya. Uang. Lipatan kertas yang masih menyisakan aroma tangan orang lain. Ia mengeluarkannya perlahan dari saku tas kain, menghitung dalam diam, lalu menyusunnya kembali dengan rapi, seolah kerapian itu bisa menenangkan hatinya.
Ada rasa hangat yang sempat singgah saat menerima uang itu. Lega. Seperti orang yang baru saja lolos dari tenggelam. Tetapi kini, di bawah lampu bohlam yang redup, rasa itu berubah dingin. Dalam kesunyian, pikirannya bekerja lebih jujur.
Ia teringat wajah Hendro. Tatapannya yang terlalu lama, senyumnya yang penuh keyakinan. Kata-kata yang diucapkan seperti doa, tetapi terasa seperti keputusan sepihak. Apakah Nenden mau jadi istri saya? Pertanyaan itu terngiang kembali, kali ini tanpa Lina, tanpa Ima, tanpa kafe yang ramai. Hanya ia dan dirinya sendiri.

Ia mengingat bagaimana kepalanya mengangguk. Gerakan kecil. Hampir refleks. Seolah tubuhnya mendahului hatinya. Dalam psikologi, itu disebut automatic compliance: kepatuhan yang lahir bukan dari persetujuan batin, melainkan dari tekanan situasional. Nenden tidak tahu istilah itu, tetapi tubuhnya tahu rasanya.
Ia bangkit, berjalan ke jendela kecil. Di luar, kabut mulai turun dari arah gunung. Lampu vila di kejauhan menyala pucat. Ia teringat ayat yang dulu sering ia dengar sejak kecil: Baladatun thayyibatun wa rabbun ghafûr. Negeri yang baik, Tuhan yang Maha Pengampun. Tetapi malam ini, ia bertanya dalam hati: apakah pengampunan juga berlaku bagi orang yang mengiyakan sesuatu yang belum ia yakini?
Dalam dadanya, iman dan kebutuhan berhadap-hadapan tanpa perantara. Ia tidak merasa sepenuhnya bersalah, tetapi juga tak bisa menyebut dirinya bersih. Al-Ghazali pernah menulis bahwa dosa paling halus adalah yang disamarkan oleh kebutuhan. Nenden tidak pernah membaca kitab itu, tetapi kalimatnya seolah hidup di dadanya.
Ia mendekat ke kamar Nabila. Mengamati wajah anaknya yang tenang. Untuk siapa semua ini ia lakukan? Pertanyaan itu datang, pahit dan jujur. Untuk anak-anaknya, ia selalu menjawab. Tetapi jawaban itu tak lagi sederhana. Karena di balik niat melindungi, ada ketakutan lain: takut sendiri, takut miskin, takut dianggap gagal.
Ia duduk bersila di lantai, mencoba salat. Gerakannya mekanis. Bacaan mengalir, tetapi pikirannya tersangkut pada sore tadi—pada sawah yang hijau, pada senyum Hendro, pada uang yang kini tersimpan di tasnya. Ia terhenti lama pada sujud terakhir. Lantai dingin menyentuh dahinya. Dalam posisi paling rendah itu, air matanya jatuh tanpa suara.
“Ya Allah,” bisiknya, entah meminta apa.
Ia tidak meminta kekayaan. Tidak pula jodoh yang baik. Ia hanya ingin hatinya tidak pecah di tengah jalan. Ia ingin tetap merasa manusia, bukan sekadar pilihan.
Di luar, malam semakin pekat. Kabut menutup gunung. Di kota, Hendro mungkin sedang makan malam bersama keluarganya. Di jalan, Ima mungkin sudah sampai rumah. Dunia terus berjalan, seolah tak terjadi apa-apa.
Tetapi di dalam diri Nenden, sesuatu telah bergeser.
Ia belum jatuh.
Namun pijakannya tak lagi utuh.
Dan malam itu, di rumah sederhana yang sunyi, Nenden memahami satu hal yang belum sempat ia ucapkan pada siapa pun: bahwa madu yang ia cicipi sore tadi kini mulai meninggalkan rasa pahit—pelan, tapi pasti—di dasar kesadarannya. (Bersambung ke Bagian 7)


