Sore itu merambat turun dengan cara yang nyaris tak terasa. Cahaya matahari tidak jatuh lurus, melainkan menyelinap di sela awan tipis yang menggantung rendah di atas Megamendung. Udara dingin masih bertahan, bercampur aroma tanah basah dan dedaunan yang belum sepenuhnya kering sejak hujan malam sebelumnya. Dari dapur kecil rumah kontrakan, suara air mendidih terdengar lirih—seperti napas rumah yang mencoba tetap hidup.
Nenden sedang duduk di lantai, menyandarkan punggungnya ke dinding, ketika ponselnya bergetar lagi. Getaran itu pendek, lalu berhenti. Ia menatap benda kecil di tangannya seolah ponsel itu makhluk hidup yang sedang menguji kesabarannya.
Nama Lina muncul di layar.
Dadanya mengeras. Ia tahu, panggilan dari Lina tidak pernah datang tanpa maksud. Tidak seperti Hendro yang masih menyisakan kemungkinan untuk ditolak atau ditunda, Lina adalah simpul dari sesuatu yang lebih besar—jaringan yang bekerja cepat, efisien, dan nyaris tanpa empati personal.

“Ada yang mau kenalan,” suara Lina terdengar cerah ketika sambungan terhubung. Nada yang terlalu ringan untuk sesuatu yang, bagi Nenden, terasa berat.
Kalimat itu melayang di udara beberapa detik sebelum benar-benar masuk ke kesadarannya. Nenden memejamkan mata sejenak. Urusan Hendro belum reda. Jantungnya belum kembali ke ritme normal sejak siang tadi. Kini, tanpa jeda, pintu lain kembali diketuk.
“Nggak mau ah,” jawab Nenden spontan. Suaranya keluar lebih cepat daripada pikirannya. Itu bukan keputusan matang, melainkan refleks—sejenis mekanisme pertahanan awal.
“Nggak mau duit?” Lina menyambar, tanpa perubahan nada.
Pertanyaan itu sederhana, tetapi menghantam tepat di pusat kegelisahan Nenden. Ia terdiam. Dalam kajian psikologi moral, dilema seperti ini disebut moral overload: ketika seseorang dipaksa memilih di antara dua hal yang sama-sama membawa rasa bersalah—menolak berarti menutup peluang ekonomi, menerima berarti menggeser batas etika yang selama ini ia pegang.
“Pak Hendro tadi nelepon,” kata Nenden akhirnya. Ia merasa perlu memberi alasan, seolah alasan itu bisa menjadi perisai. “Dia pengin buru-buru ngajak nikah.”
“Kamu setuju?” tanya Lina cepat.
Nenden menggeleng, meski Lina tak bisa melihatnya. “Tidak.”
Tawa Lina pecah di seberang sana. Tawa yang tidak mengejek, tetapi juga tidak peduli. “Ya sudah. Jadikan masa lalu saja,” katanya ringan. “Kita cari duit dulu.”
Kalimat itu menusuk lebih dalam dari yang Nenden perkirakan. Jadikan masa lalu. Seolah pertemuan, janji tersirat, bahkan kegelisahan batinnya sendiri hanyalah barang sekali pakai. Nenden merasakan panas menjalar ke wajahnya. Di kepalanya, sebuah kalimat muncul tanpa ia undang: Lalu apa bedanya aku dengan perempuan yang menjual diri?
Namun pikiran itu segera diikuti sanggahan yang lebih pelan, lebih licin. Aku tidak menjual tubuhku. Aku hanya bertemu. Bicara. Duduk. Tersenyum. Dalam filsafat etika, rasionalisasi semacam ini dikenal sebagai moral disengagement—cara pikiran memisahkan tindakan dari konsekuensi moralnya agar seseorang tetap bisa hidup dengan dirinya sendiri.
Pergolakan itu tidak datang sebagai ledakan, melainkan sebagai tarikan ke dua arah yang sama kuat. Ia teringat wajah Nabila yang tertidur pulas pagi tadi. Teringat Firly yang merengek minta dibelikan mainan baru. Teringat dompetnya yang nyaris kosong, dan kalender yang tak pernah berhenti bergerak. Dalam teori kebutuhan Abraham Maslow, kebutuhan dasar selalu mendesak lebih dulu, sering kali menyingkirkan pertimbangan-pertimbangan luhur yang baru bisa dipikirkan ketika perut kenyang dan masa depan terasa aman.
“Bagaimana?” suara Lina kembali terdengar, kali ini lebih menekan. “Bisa nggak malam ini?”
Nenden memejamkan mata lebih lama. Ia mendengar suara azan Asar dari masjid kecil di ujung gang, menggema pelan di antara bukit. Suara itu biasanya menenangkan. Kali ini justru terasa seperti pengingat yang menuntut jawaban. Ia teringat ayat tentang rezeki yang dijanjikan Allah bagi orang-orang yang bertakwa. Tetapi ia juga teringat tafsir Ibnu Khaldun tentang bagaimana kemiskinan dapat merusak akhlak bukan karena lemahnya iman, melainkan karena tekanan hidup yang terus-menerus.
“Oke,” jawabnya akhirnya.
Kata itu keluar dengan mantap, seolah keteguhan nada bisa menutupi retakan di dalam dadanya. Ada detik singkat setelah kata itu terucap—detik ketika ia sadar bahwa sesuatu telah bergeser, meski belum sepenuhnya runtuh.
Lina tertawa puas. “Pinter,” katanya singkat. Lalu nadanya berubah menjadi praktis. “Saya tunggu di rest area Cilember. Dari situ kita jalan bareng.”
Sambungan terputus.


