Madu Pahit Nenden — Bagian 7: Kabut Batin

Must Read

Angkot 02A merayap pelan menanjak menuju Cilember, napas mesinnya terdengar berat seolah ikut memikul beban jalan berliku dan kabut yang mulai turun. Nenden duduk di dekat jendela, memandangi pepohonan pinus yang berdiri rapat, menjulang seperti barisan saksi bisu. Udara pegunungan meresap melalui celah kaca, dingin dan basah, membawa aroma tanah yang lembap. Di kepalanya, pikiran bergerak lebih cepat dari roda angkot—berloncatan, tak teratur, dan sulit ditenangkan.

Ia turun di rest area Cilember dengan langkah ragu. Lampu-lampu warung mulai menyala, memantulkan cahaya kekuningan di aspal yang lembap. Di sudut jalan, Lina sudah menunggu, duduk santai di atas sadel sepeda motor. Jaketnya setengah terbuka, wajahnya cerah, seolah malam ini hanya urusan kecil yang tak perlu terlalu dipikirkan.

“Nenden,” sapa Lina ceria, seakan mereka hendak pergi berbelanja, bukan menegosiasikan nasib.

Nenden mendekat. Tanpa banyak bicara, Lina menyalakan mesin motor. Deru knalpot memecah kesunyian senja. Mereka berboncengan, menyusuri jalan menuju Restoran dan Kafe Kembali ke Alam—sebuah tempat yang namanya terdengar seperti janji, tetapi sering kali menjadi panggung transaksi yang justru menjauhkan manusia dari dirinya sendiri.

Milad 117 H Muhammadiyah

Kafe itu berdiri di tepian lembah, dengan bangunan kayu dan lampu-lampu temaram yang digantung rendah. Anak-anak muda memenuhi beberapa meja, tertawa, berfoto, membicarakan hal-hal ringan. Musik akustik mengalun pelan. Dunia tampak wajar, nyaris indah. Justru di tempat-tempat semacam inilah, pikir Nenden, hal-hal yang paling ganjil sering berlangsung dengan wajah paling normal.

Lina turun lebih dulu, lalu menggandeng tangan Nenden. Sentuhannya ringan, tetapi tegas.
“Lakukan saja seperti yang sudah saya ajarkan,” bisiknya. “Jangan banyak mikir.”

Nasihat itu terdengar praktis, hampir seperti teori perilaku dalam psikologi kognitif: ketika seseorang terlalu banyak berpikir, ia kehilangan kemampuan bertindak. Namun Nenden tahu, tidak semua pikiran bisa dibungkam begitu saja. Ada suara batin yang selalu menuntut didengar.

Di dekat pintu masuk, seorang perempuan berdiri menyambut. Rambutnya cepak, tubuhnya kurus, kulitnya gelap terbakar matahari. Dadanya rata, wajahnya keras, seperti orang yang terlalu lama hidup dari membaca gelagat manusia.
“Hai, Lina!” teriaknya lantang.

Di samping perempuan itu berdiri seorang lelaki berusia sekitar enam puluh tahun. Rambutnya putih, disisir rapi ke belakang. Keriput di pipinya membentuk garis-garis dalam, bukan hanya tanda usia, tetapi juga jejak keputusan hidup yang panjang. Matanya tajam, meneliti, seperti auditor yang sedang menilai laporan keuangan.

Lina dan Nenden mendekat. Mereka bersalaman.

“Kenalkan,” kata perempuan berambut cepak itu, “ini Pak Sandi. Dari Jakarta.”
Ia tersenyum tipis. “Saya Ema.”

Nama-nama itu melayang sebentar di kepala Nenden, lalu jatuh ke lapisan yang lebih dalam, tempat ia menyimpan kewaspadaan. Ini mengingatkan orang pada satu kalimat Pierre Bourdieu tentang habitus—bahwa manusia sering bergerak dalam pola yang tidak sepenuhnya ia sadari, karena struktur sosial telah lebih dulu membentuk pilihan-pilihannya. Malam ini, ia merasa sedang melangkah di jalur yang sudah digariskan orang lain.

Pak Sandi menatapnya lama, terlalu lama untuk sekadar basa-basi. Tatapan itu membuat Nenden teringat konsep male gaze dalam kajian feminis: tubuh perempuan diperlakukan sebagai teks yang boleh dibaca, ditafsirkan, bahkan dinegosiasikan. Ia menunduk, menahan dorongan untuk mundur selangkah.

“Silakan duduk,” kata Ema.

Perkuat Dakwah Urban, Muhammadiyah Jakarta Selatan Bangun Sinergi Strategis

JAKARTAMU.COM | Kolaborasi antarcabang dalam struktur organisasi menjadi kunci penting untuk memperluas dampak sosial dan keagamaan bagi masyarakat. Semangat...

More Articles Like This