Madu Pahit Nenden — Bagian 7: Kabut Batin

Must Read

Nenden menurunkan ponsel perlahan. Tangannya gemetar tipis. Ia duduk diam cukup lama, membiarkan suara sekitar masuk tanpa ia saring: desir angin di luar, suara anak-anak tetangga bermain, denting sendok di rumah sebelah. Dunia berjalan seperti biasa, seolah keputusan barusan tidak mengubah apa pun. Padahal di dalam dirinya, garis batas telah bergeser beberapa sentimeter—dan ia tahu, garis yang bergeser jarang kembali ke tempat semula.

Ia berdiri dan melangkah ke kamar. Di depan cermin kecil yang menempel di dinding, ia menatap wajahnya sendiri. Wajah perempuan dua puluh lima tahun yang masih muda, masih cantik, tetapi menyimpan kelelahan yang tak sesuai usia. Matanya tampak tenang, tetapi di baliknya ada kewaspadaan yang baru tumbuh—seperti hewan yang belajar mengenali jebakan.

Dalam benaknya, potongan-potongan pengetahuan berkelindan. Tentang slippery slope dalam etika—bagaimana satu kompromi kecil sering membuka jalan bagi kompromi berikutnya. Tentang konsep niat dalam Islam, yang oleh sebagian ulama dipandang lebih menentukan daripada bentuk lahiriah tindakan. Ia bertanya pada dirinya sendiri: Apakah niatku sekadar bertahan hidup? Atau aku sedang belajar menikmati kemudahan yang salah?

Tak ada jawaban yang tegas.

Milad 117 H Muhammadiyah

Ia mengenakan topi warna pink, membiarkan rambutnya tergerai. Gerakannya mekanis, seolah tubuhnya bekerja sendiri sementara pikirannya masih terjebak di persimpangan. Di luar, langit mulai menggelap perlahan. Kabut turun dari perbukitan, menyelimuti jalanan berliku menuju Cilember. Jalan itu tampak indah dari kejauhan, tetapi licin dan penuh tikungan tajam bagi siapa pun yang lengah.

Nenden tahu, ia belum sepenuhnya jatuh. Ia masih bisa berhenti. Masih bisa berkata tidak pada kesempatan berikutnya. Namun ia juga sadar, setiap iya yang diucapkan—sekecil apa pun—akan mempermudah iya berikutnya. Seperti air yang terus menetes di batu, bukan karena kuatnya tetesan, melainkan karena lamanya waktu.

Setelah berpamitan dan menitipkan Nabila kepada mamanya, Nenden melangkah keluar rumah ketika senja benar-benar turun. Cahaya jingga menggantung rendah di langit Megamendung, merayap pelan di sela pucuk bambu dan atap seng rumah-rumah yang mulai dingin. Udara membawa sisa hujan semalam—lembap, berbau tanah, dan sedikit getir. Di halaman, daun-daun masih menyimpan titik air, memantulkan cahaya terakhir seperti serpih kaca.

Iis sempat menghentikannya di ambang pintu. “Mau ke mana, Den?” tanyanya sambil mengayun pelan tubuh Nabila yang sudah kembali tertidur. Si kecil itu terkulai tenang, napasnya halus, seolah dunia belum menuntut apa-apa darinya.

Nenden menoleh dengan senyum yang ia susun cepat—senyum yang cukup untuk meyakinkan, tidak cukup untuk mengundang tanya. “Ada yang mau jual emas,” katanya. “Irma mau beli. Katanya bisa dijual lagi dengan harga lebih menarik.”

Kalimat itu meluncur rapi, nyaris tanpa jeda. Ia telah menghafalnya di kepalanya sejak berkata iya kepada Linda, sore ini. Ia  seperti orang menghafal alamat palsu agar tak tersesat oleh pertanyaan. Iis mengangguk pelan. Nama Irma memang belakangan sering terdengar. Perempuan itu dikenal lincah dalam jual-beli emas: timbangannya presisi, hitungannya cepat, dan kabarnya—selalu berputar untung. Nenden sendiri kerap menemani Irma; menunggu transaksi selesai, sesekali ikut menghitung. Kadang, bila rezeki sedang lapang, Irma tak segan menyelipkan uang ke tangan Nenden—bukan banyak, tapi cukup untuk menutup kebutuhan kecil yang tak sempat dicatat.

“Jangan pulang terlalu malam,” pesan Iis singkat. Tidak ada nada curiga di sana, hanya kehati-hatian seorang ibu yang lelah dan percaya.

Nenden mengangguk. Ia melangkah turun dari teras, menapaki jalan setapak yang mulai gelap. Lampu-lampu rumah menyala satu per satu, membentuk garis cahaya yang terputus-putus di lereng. Dari kejauhan, suara azan Magrib mengalun, memantul di dinding bukit, mengikat senja pada kewajiban yang tak pernah benar-benar ia tinggalkan—hanya sesekali ia geser waktunya.

Langkah Nenden terdengar pelan di atas kerikil. Setiap tapak seperti menimbang jarak antara yang ia ucapkan dan yang ia lakukan. Di punggungnya, rambutnya bergerak tertiup angin tipis; di dadanya, sebuah rahasia kecil menghangat—rapuh, tapi ia jaga tetap tersembunyi. Senja menutup hari dengan rapi, dan Nenden berjalan ke dalam malam dengan alasan yang tampak wajar, meninggalkan rumah yang percaya, dan seorang anak yang tertidur tanpa tahu bahwa ibunya sedang belajar menyeberangi batas-batas yang tak pernah ia rencanakan.

Udara dingin menyentuh kulitnya. Di kejauhan, lampu-lampu mulai menyala satu per satu, membentuk garis-garis kecil di lereng bukit. Megamendung tampak damai, nyaris suci, seolah tak pernah menyimpan kisah-kisah perempuan yang berjalan di antara kebutuhan dan keyakinan.

Di dadanya, madu itu kembali terasa. Manisnya masih ada. Tetapi kini, pahitnya mulai menempel di lidah—pelan, nyaris sopan, namun pasti.

Dan Nenden melangkah, membawa tubuhnya ke depan, sementara batinnya tertinggal beberapa langkah di belakang—masih berdoa, masih ragu, masih berharap bahwa semua ini bisa berhenti sebelum benar-benar terlambat.

***

Perkuat Dakwah Urban, Muhammadiyah Jakarta Selatan Bangun Sinergi Strategis

JAKARTAMU.COM | Kolaborasi antarcabang dalam struktur organisasi menjadi kunci penting untuk memperluas dampak sosial dan keagamaan bagi masyarakat. Semangat...

More Articles Like This