Madu Pahit Nenden — Bagian 2: Kebohongan Sah

Must Read

Oleh Miftah H. Yusufpati

RUMAH itu berdiri di lereng bukit Cipayung, Megamendung—luasnya tak lebih dari seratus meter persegi, sederhana, dan dipaksa menampung banyak takdir. Dindingnya disekat menjadi dua bagian, sebuah kompromi arsitektural yang lahir bukan dari pilihan estetik, melainkan dari keterbatasan ekonomi dan kebutuhan keluarga.

Separuh rumah ditempati Iis, mama Nenden, bersama seorang anak perempuannya yang tuna rungu, bernama Isma. Di ruang itu, kesunyian lebih sering hadir daripada percakapan. Televisi menyala tanpa suara, dan bahasa tubuh menjadi alat komunikasi utama. Separuh lainnya dihuni Nenden bersama tiga anak: Nabila, Ahza, dan seorang anak angkat laki-laki bernama Firly—sebaya dengan Nabila, hanya terpaut kurang dari satu tahun usia.

Di rumah itu, waktu berjalan dengan disiplin yang lahir dari kebutuhan, bukan dari kemewahan memilih.

Milad 117 H Muhammadiyah

Nabila dan Firly bersekolah di tempat yang sama, kelas satu SMK—usia remaja yang mulai mempertanyakan dunia dan keadilan. Ahza baru akan masuk sekolah dasar, masih memandang hidup dengan mata yang belum tercemar oleh kerumitan orang dewasa.

Nenden adalah poros dari rumah itu.

Secara sosiologis, ia adalah female breadwinner—perempuan yang memikul beban ekonomi utama keluarga. Mamanya memang memiliki sedikit penghasilan dari berdagang beras ketan, tetapi itu lebih menyerupai penyangga kecil. Untuk listrik, gas, beras, dan kebutuhan harian, semuanya bertumpu pada Nenden.

Ia teringat teori ekonomi keluarga Gary Becker yang pernah ia baca sepintas: rumah tangga bertahan bukan hanya oleh cinta, melainkan oleh pembagian peran yang realistis. Dan di rumah ini, realisme itu bernama Nenden.

Di atas rumah mereka membentang jalan raya Megamen-dung–Cipayung, jalur yang tak pernah benar-benar sepi. Truk sayur melintas saat subuh, motor para pekerja berlalu di pagi hari, dan mobil wisata beriringan menuju vila-vila di puncak. Di tepi jalan itulah Nenden memiliki sebuah toko kecil—titik temu antara denyut ekonomi lokal dan harapan hidup.

Toko itu menjual pakaian dan makanan olahan beku. Freezer berdengung siang dan malam, menjaga dagangan tetap bertahan. Sehari-hari, toko dijaga oleh Teh Eneng—perempuan tangguh yang kesetiaannya tumbuh dari hubungan saling percaya.

Sementara itu, Nenden bekerja di ruang yang nyaris tak kasatmata. Ia berdagang lewat siaran langsung TikTok, Shopee, dan jaringan WhatsApp. Ia menjual pakaian, makanan, dan kebutuhan rumah tangga yang jarang masuk statistik resmi ekonomi. Dalam istilah ekonomi modern, ia bagian dari informal digital economy—sektor yang sering diremehkan, tetapi menjadi penopang banyak keluarga.

Ia tahu dunia telah berubah. Seperti kata Marshall McLuhan, medium is the message.  Dan bagi Nenden, ponsel adalah ladang, pasar, sekaligus ruang pengakuan diri.

Meski menjadi tulang punggung keluarga, ia tidak sepenuhnya sendiri dalam urusan anak. Ayah Nabila dan Ahza masih menanggung biaya sekolah, meski hubungannya nyaris tanpa komunikasi. Pembayaran dilakukan langsung ke rekening sekolah. Kadang lancar, kadang terlambat.

Tak jarang Nenden baru mengetahui ada tunggakan ketika pihak sekolah menagih. Saat itu, ia harus menjelaskan sesuatu yang bahkan tak sepenuhnya ia pahami. Dalam psikologi keluarga, situasi ini disebut ambiguous responsibility—tanggung jawab yang kabur dan kerap melahirkan konflik batin pada seorang ibu.

Nenden menanggung beban ganda: memastikan anak-anaknya tetap sekolah dengan tenang, sambil menjaga harga diri ayah mereka.

Dalam kelelahan itu, ia sering merenungkan makna keadilan. Ulama seperti Imam Asy-Syathibi menegaskan bahwa keadilan dalam Islam bukan sekadar teks hukum, melainkan keberpihakan pada kemaslahatan nyata. Namun dalam praktik, keadilan kerap tersandung oleh ego, jarak, dan kelalaian manusia.

Nenden adalah potret perempuan mandiri. Bukan karena ingin membuktikan apa pun, melainkan karena hidup memaksanya demikian. Ia mengurus anak-anak, menopang rumah, mengelola usaha, dan menjaga relasi keluarga yang rapuh agar tak sepenuhnya runtuh.

Di lereng bukit itu, rumah kecil dengan sekat dua dunia menjadi saksi: bahwa kemandirian perempuan sering lahir bukan dari pilihan ideologis, melainkan dari keterpaksaan yang diolah menjadi keteguhan.

Dan di tengah semua itu, Nenden masih menyimpan satu pertanyaan yang tak pernah benar-benar terjawab: apakah kelak, dalam ikatan yang akan ia jalani bersama Haekal, beban hidup itu akan terbagi—atau justru bertambah?

Pertanyaan itu menggantung di udara Cipayung, seperti kabut yang tak pernah benar-benar pergi.

***

Perkuat Dakwah Urban, Muhammadiyah Jakarta Selatan Bangun Sinergi Strategis

JAKARTAMU.COM | Kolaborasi antarcabang dalam struktur organisasi menjadi kunci penting untuk memperluas dampak sosial dan keagamaan bagi masyarakat. Semangat...

More Articles Like This