Panas Jakarta Selatan siang itu seperti merambat dari aspal, memantul ke udara, lalu menetap di dada Nenden. Blok M—yang biasanya hiruk-pikuk oleh langkah kaki, klakson kendaraan, dan aroma makanan—tiba-tiba terasa asing, bahkan mengancam. Secara fisiologis, tubuh manusia memang lebih rentan terhadap stres panas; kadar kortisol meningkat, napas memendek, dan pikiran mudah goyah. Nenden merasakannya dengan sangat jelas.
Ia tidak datang sendiri.
Seorang laki-laki bernama Jack menemaninya. Bukan kekasih, bukan pula kerabat—melainkan pengawal sunyi. Nenden merasa terancam. Naluri bertahan hidup, yang oleh Darwin disebut sebagai self-preservation instinct, bekerja tanpa perlu diperintah. Jack berjalan beberapa meter di belakangnya—cukup jauh untuk tak menarik perhatian, cukup dekat untuk memberi rasa aman.
Restoran itu berada di sudut Blok M, bangunannya tua, de-ngan pendingin udara yang seolah kalah oleh matahari. Saat Nenden melangkah masuk, pandangannya langsung tertumbuk pada mereka: tiga perempuan dan seorang laki-laki telah menunggu.

Seorang perempuan paruh baya berdiri lebih dulu. Wajahnya keras, dipahat oleh waktu dan pengalaman panjang hidup, namun matanya menyimpan kelembutan yang tak sepenuhnya padam. Perempuan itu melangkah cepat, lalu—tanpa diduga—memeluk Nenden erat.
Nenden membeku.
“Dik Nenden, ya?”
Ia mengangguk pelan.
“Saya Romlah,” katanya, suaranya bergetar. “Saya istri Pak Rakhmat.”
Pelukan itu bukan pelukan permusuhan. Ia adalah pelukan dua perempuan yang disatukan oleh luka yang sama—oleh lelaki yang sama. Nenden membalasnya dengan ragu, penuh tanda tanya yang tak tahu harus ditujukan ke mana.
Di belakang Romlah berdiri dua perempuan muda dan seorang laki-laki. Tubuh mereka tinggi, rapi, wajah-wajah yang terawat oleh hidup kota. Yang laki-laki tampak gagah, sorot ma-tanya tajam. Salah satu perempuan berambut panjang tergerai, yang satunya mengenakan kerudung sederhana. Mereka bukan anak-anak kecil—mereka adalah anak-anak Rakhmat yang telah dewasa.
Salah seorang di antara mereka bahkan bekerja sebagai wartawan di salah satu media Jakarta. Ironis—anak yang menulis kebenaran publik, lahir dari kebohongan privat.
Nenden hanya terpaku. Tenggorokannya kering. Kata-kata seolah menguap sebelum sempat lahir.
Romlah memperkenalkan mereka satu per satu. Suaranya terdengar tenang, namun Nenden dapat menangkap retakan emosi di baliknya. Setelah itu, Romlah menatap perut Nenden yang mulai membulat.
“Dik Nenden sedang hamil, ya?”
Nenden mengangguk lagi, lebih lemah dari sebelumnya.
Romlah menggenggam tangannya, erat namun dingin.
“Tinggalkan Bapak, ya, Dik,” ucapnya tanpa basa-basi. “Biarkan anak dalam kandungan itu nanti kami yang merawat. Itu juga anak saya… karena ia darah daging suami saya.”
Kalimat itu jatuh begitu saja—tanpa peringatan, tanpa penyangga. Menghantam Nenden lebih keras daripada panas Blok M. Dalam psikologi, kondisi semacam ini dikenal sebagai cognitive overload—saat pikiran menerima tekanan berlapis hingga kehilangan kemampuan merespons secara wajar.
Ia ingin menjerit.
Ia ingin bertanya.
Ia ingin lari.
Namun tubuhnya memilih diam.
Dalam batinnya, ayat-ayat dan pengajian yang pernah ia dengar berputar tak beraturan. Ia teringat diskursus para ulama tentang poligami—bahwa keadilan bukan hanya soal nafkah dan giliran, melainkan kejujuran sejak awal. Ibnu Qayyim al-Jauziyah pernah menegaskan bahwa hukum Islam dibangun di atas keadilan dan rahmat; jika kezaliman masuk, maka di situlah syariat ditinggalkan, meski namanya masih digunakan.
Ini bukan poligami.
Ini pengkhianatan.
Dada Nenden terasa sesak. Napasnya pendek-pendek. Udara restoran seolah menipis. Asma—penyakit lama yang selama ini jinak—kambuh tiba-tiba. Dalam literatur medis, stres emosional dikenal sebagai salah satu pemicu utama bronkospasme.
Tangannya gemetar mencari tas. Ia mengeluarkan Ventolin dari saku kecilnya. Sekali semprot. Dua kali. Ia menunduk, berusaha menaklukkan napasnya sendiri.
Romlah tampak panik. Anak-anaknya berdiri canggung, tak tahu harus berbuat apa. Jack melangkah lebih dekat, matanya waspada.
Nenden nyaris pingsan.
Dalam kabur kesadarannya, satu kalimat melintas samar di benaknya: “Ketika manusia tak lagi mampu mengubah keadaan, ia ditantang untuk mengubah dirinya sendiri.”
Hari itu, di Blok M yang panas dan kejam, Nenden tahu: hidupnya tak akan pernah sama. Ia datang sebagai seorang istri. Ia pulang sebagai perempuan yang harus memilih jalan hidupnya sendiri—dengan rahim yang menyimpan masa depan, dan hati yang baru saja runtuh berkeping-keping.
Dan di sanalah, madu dalam hidup Nenden benar-benar berubah pahit.
***


