Nama Nenden berasal dari bahasa Sunda lama—sebuah gelar kehormatan bagi perempuan bangsawan. Dalam manuskrip-manuskrip Sunda Kuno, kata nenden kerap dilekatkan pada sosok perempuan yang diharapkan menjaga martabat keluarga dan kesinambungan garis keturunan.
“Namanya berat,” kata seorang tetua kampung suatu kali.
“Berat karena harapan,” sahut yang lain.
Nenden mendengarnya sambil lalu, tak pernah benar-benar memahami mengapa sebuah nama bisa terasa seperti beban.

Ironisnya, ia lahir dan tumbuh sebagai rakyat jelata, jauh dari istana, jauh dari segala privilese. Seolah sejarah sengaja memainkan paradoks: memberi nama agung pada hidup yang harus berjuang dari bawah.
Ia dibesarkan oleh seorang ibu tunggal—perempuan Sunda yang oleh orang-orang kampung diyakini memiliki darah Belanda. Tak ada silsilah resmi, tak ada arsip kolonial. Yang ada hanya tubuh yang menjadi penanda bisu sejarah: kulit putih bersih, hidung mancung, dan struktur wajah yang simetris.
“Turunan Belanda, katanya,” bisik seorang tetangga.
Ibunya tersenyum tipis. “Yang pasti, turunan perempuan kuat,” jawabnya.
Dalam antropologi fisik, tubuh kerap menjadi arsip paling jujur dari masa lalu—menyimpan jejak percampuran yang tak selalu diakui, namun nyata hadir.
Saat gadis, Nenden tumbuh menjadi perempuan rupawan. Matanya bening, seperti embun pagi di pucuk daun teh Gunung Mas. Tatapannya tenang, namun berjarak—seolah dunia harus terlebih dahulu membuktikan kelayakannya sebelum diizinkan mendekat.
“Kenapa kamu selalu kelihatan jauh?” tanya seorang teman sebaya.
Nenden tersenyum kecil. “Karena dekat itu kadang berbahaya.”
Jari-jarinya lentik dan panjang, tampak diciptakan untuk kerja-kerja halus: menjahit, menulis, atau sekadar memegang cangkir teh hangat sambil berpikir panjang. Di bawah mata kirinya terdapat tahi lalat kecil, titik hitam yang oleh orang-orang Sunda tua disebut sebagai tanda pengamat—perempuan yang lebih banyak menyimpan daripada bicara.
“Kamu mah teu loba carita,” kata bibinya.
“Kalau semua diceritakan, capek,” jawab Nenden pelan.
Tubuhnya proporsional, tidak berlebihan dan tidak rapuh. Dalam istilah kesehatan modern, komposisi tubuhnya ideal—fit, kencang, dan sehat. Bukan semata anugerah genetik, melainkan hasil dari kehidupan yang menuntut disiplin: berjalan jauh, bekerja keras, makan secukupnya.
Ia pernah membaca sepintas kalimat Hippocrates di buku lusuh: “Tubuh manusia adalah cermin dari kebiasaan hidupnya.” Kalimat itu tinggal di kepalanya, seperti nasihat tanpa suara.
Namun kecantikan Nenden bukan perkara fisik semata. Ada kesadaran diri yang matang di balik penampilannya. Ia paham bahwa tubuh perempuan sering menjadi arena tafsir sosial—dipuji, diinginkan, bahkan diperebutkan—tanpa pernah benar-benar ditanya apakah ia menginginkannya.
“Cantik itu anugerah,” kata seseorang padanya.
“Atau ujian,” jawab Nenden dalam hati.
Sejak awal, dunia memaksanya waspada. Simone de Beauvoir pernah menulis bahwa perempuan tidak dilahirkan, melainkan dibentuk. Nenden adalah perwujudan kalimat itu. Ia tidak memilih wajahnya, tidak memilih darah yang mengalir di tubuhnya, tetapi ia memilih sikap: menjaga jarak, menakar kepercayaan, dan tidak mudah menyerahkan diri pada janji—terutama janji lelaki.
Di kawasan Puncak, yang kerap menjadi persinggahan hasrat—antara vila, uang, dan kesepian—Nenden belajar satu ilmu penting lebih cepat dari kebanyakan orang: kehormatan perempuan bukan terletak pada siapa yang menginginkannya, melainkan pada siapa yang ia izinkan mendekat.
“Dekat itu hak,” katanya suatu kali pada dirinya sendiri. “Bukan kewajiban.”
Bagi orang-orang di sekitarnya, Nenden bukan sekadar gadis cantik Sunda. Ia adalah potret generasi perempuan yang tumbuh di antara warisan kolonial, tafsir agama yang beragam, dan realitas ekonomi yang keras. Perempuan yang harus belajar membaca dunia sebelum dunia membacanya sebagai peluang.
Kisah cintanya bermula jauh sebelum ia mengenal kata poligami, jauh sebelum hidup mengajarinya bahwa madu dapat berubah pahit tanpa peringatan. Semuanya dimulai pada masa SMA—fase yang oleh psikolog disebut romantic idealism, ketika cinta hadir tanpa kalkulasi, tanpa pertanyaan tentang masa depan.
“Cinta monyet,” kata orang-orang.
Nenden hanya tersenyum. “Kalau monyet saja bisa setia, kenapa manusia tidak?” gumamnya suatu sore.
Bagi Nenden, rasa tetaplah rasa. Jujur dan utuh.
Ia bukan anak kuliahan. Keadaan ekonomi keluarganya tak memberi ruang untuk itu. Namun hasrat belajarnya membuat cara berpikirnya matang sebelum waktunya. Ia membaca apa saja yang bisa dijangkau: majalah bekas, buku agama pinjaman, artikel-artikel ekonomi kecil.
“Kamu rajin amat baca,” kata ibunya.
“Biar nggak gampang dibohongi,” jawab Nenden.
Tanpa ia sadari, ia sedang membangun apa yang oleh Pierre Bourdieu disebut modal kultural. Pengetahuan, cara berpikir, dan sikap hidup yang tak selalu lahir dari bangku universitas, tetapi dari kebutuhan untuk bertahan dengan kepala tetap tegak.
Dan dari sanalah, pelan-pelan, kisah hidupnya mulai menyi-apkan diri untuk memasuki bab yang lebih rumit—bab di mana cinta, kekuasaan, dan pilihan akan saling berkelindan, meninggalkan jejak yang tak mudah dihapus oleh waktu.
***


