Setahun pertama pernikahan Nenden dan Daniel berjalan dalam ritme yang nyaris tanpa riak. Rumah kecil di Pondok Gede menjadi saksi rutinitas yang tampak normal: pagi yang sibuk, siang yang sunyi, dan malam yang selalu terasa terlalu cepat usai. Namun satu hal tak kunjung hadir—keturunan.
Dalam dunia medis, setahun tanpa kehamilan masih kerap dianggap wajar. Namun dalam kebudayaan tempat Nenden dibesarkan, waktu terasa lebih sempit. Pertanyaan-pertanyaan halus mulai bermunculan, diselipkan dalam doa-doa yang diucap lirih, sarat harap namun enggan mendesak.
Atas kesepakatan bersama, mereka memutuskan mengambil anak angkat. Bayi lelaki itu berasal dari saudara jauh Iis, ibu Nenden. Seorang bayi mungil, hangat, dan tenang. Nenden menerimanya dengan perasaan yang sulit dirumuskan—campuran cinta, syukur, dan naluri keibuan yang akhirnya menemukan wadah. Anak itu mereka beri nama Firly.
Nenden merawat Firly dengan sepenuh hati. Ia percaya, se-perti yang kerap dikutip para ulama, bahwa mengasuh anak yatim atau anak terlantar adalah amal yang mendekatkan manusia pada Tuhan. Ia teringat sebuah hadis Nabi yang sering ia dengar di pengajian: “Aku dan orang yang menanggung anak yatim akan bersama di surga seperti ini,” sambil merapatkan dua jari.

Tiga bulan setelah Firly hadir, kehidupan kembali berubah.
Nenden hamil.
Kabar itu datang seperti cahaya pagi yang tiba-tiba membuka jendela hidupnya. Ia menangis bahagia. Firly dipeluknya lebih erat, seolah semesta sedang memberinya dua anugerah sekaligus. Namun justru dari rahim yang mulai bertumbuh itu, rahasia terbesar Daniel perlahan menyingkap dirinya.
Suatu siang, ketika Nenden sedang bekerja, ponselnya berde-ring. Nomor tak dikenal.
“Halo?” sapanya hati-hati.
“Ini istri Pak Rakhmat, ya?” Suara perempuan di seberang terdengar kaku, seolah menahan sesuatu yang lama tertimbun.
Nenden terdiam sejenak. “Maaf, Bu. Mungkin salah sambung. Saya istri Pak Daniel.”
Di ujung sana, hening beberapa detik. Lalu sebuah foto masuk ke layar ponsel Nenden.
Wajah itu—wajah yang sangat ia kenal.
“Iya,” jawab Nenden spontan, nyaris tanpa berpikir. “Itu suami saya. Namanya Daniel.”
Perempuan itu menarik napas panjang. “Bukan, Mbak. Itu Rakhmat. Suami saya.”
Kata-kata itu jatuh seperti benda berat ke dada Nenden. Waktu seakan berhenti. Dalam kondisi hamil muda, kabar itu datang tanpa peringatan—sebuah acute psychological shock, kata para psikolog, yang membuat tubuh dan pikiran seketika kehilangan koordinasi.
Bagaimana mungkin satu wajah memiliki dua nama?
Bagaimana mungkin satu akad menyembunyikan kehidupan lain?
Perempuan itu berbicara dengan nada datar, seolah amarahnya telah lama kelelahan. Rakhmat—yang oleh Nenden dikenal sebagai Daniel—adalah suaminya yang sah. Mereka telah memiliki tiga orang anak dan tinggal di Jalan Minangkabau, Manggarai.
Nenden terduduk. Tangannya gemetar. Rahimnya berdenyut pelan, seakan janin kecil di dalamnya ikut merasakan gunca-ngan itu.
Pada masa itu, administrasi kependudukan masih longgar. Seseorang dapat memiliki dua kartu identitas dengan nama berbeda. Dalam kajian sosiologi hukum, praktik ini dikenal sebagai identity fraud—pemalsuan identitas yang kerap menjadi pintu bagi ketidakadilan relasional.
Rakhmat—atau Daniel—adalah salah satunya.
Nenden tak tahu harus berkata apa. Ia hanya mendengar. Dalam benaknya berputar satu ayat yang pernah ia baca: “Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorongmu untuk berlaku tidak adil.”
Namun bagaimana mungkin berlaku adil, jika kebenaran saja baru ia kenal hari itu?
Perempuan itu mengajak bertemu. “Agar semuanya jelas,” katanya singkat.
Mereka sepakat bertemu di kawasan Blok M.
Bagi Nenden, Jakarta masih terasa seperti labirin. Ia hanya mengenal Kampung Rambutan dan Blok M—dua titik kecil di peta besar ibu kota. Ia masih buta arah, buta kota, dan kini—buta terhadap lelaki yang telah ia nikahi.
Malam itu, Nenden tak mampu tidur. Ia teringat konsep gharar dalam fikih—ketidakjelasan yang dilarang dalam akad. Para ulama menegaskan bahwa pernikahan harus dibangun di atas kejujuran. Bahkan Imam Malik menyatakan bahwa kebohongan dalam akad adalah cacat yang merusak keberkahan.
Ia sadar, ini bukan poligami yang dibingkai keadilan. Ini adalah penipuan yang diselimuti legalitas. Di dalam rahimnya, kehidupan baru terus bertumbuh. Di luar, hidupnya runtuh perlahan.
Dan di sanalah Nenden memahami untuk pertama kalinya: bahwa madu pertama dalam hidupnya berubah pahit bukan semata karena takdir, melainkan karena manusia memilih menyembunyikan kebenaran.
Blok M menunggunya. Dan bersama pertemuan itu, Nenden akan memasuki bab baru. Bab ketika ia harus memilih antara bertahan dalam kebohongan atau berdiri di atas luka yang telanjang.
***


