JAKARTAMU.COM | Seorang mahasiswa Universitas Muhammadiyah (UM) Indonesia menghadirkan solusi teknologi untuk pembelajaran olahraga di sekolah. Sistem berbasis kecerdasan buatan itu mampu menilai teknik gerak siswa secara langsung melalui kamera ponsel.
Inovasi itu bernama Smart-Motion. Karya ini mengantarkan penciptanya, Vicko Valentino, mahasiswa Program Studi Pendidikan Jasmani, Kesehatan, dan Rekreasi (PJKR), meraih Juara 1 Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres) tingkat universitas tahun 2026.
“Inovasi saya bernama Smart-Motion, yaitu teknologi berbasis AI motion capture yang digunakan untuk menganalisis gerakan olahraga. Fokusnya di bidang biomekanika, jadi sistem ini bisa membantu melihat apakah teknik gerakan yang kita lakukan sudah benar atau belum,” ujar Vicko dikutip dalam rilis humas UM Indonesia, Kamis (23/4/2026).
Menurut dia, pengembangan inovasi ini dilatarbelakangi pengamatannya terhadap metode pembelajaran olahraga yang masih didominasi praktik meniru gerakan. Sebab pendekatan yang selama ini dilakukan belum sepenuhnya menjamin ketepatan teknik. Dia pun merancang Smart-Motion untuk membantu guru Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) untuk mengevaluasi gerakan siswa secara lebih terukur.
Inovasi ini menggantikan teknik pengamatan langsung dalam waktu terbatas yang menyulitkan guru terutama saat jumlah siswa dalam satu kelas cukup banyak. Melalui kamera smartphone, sistem akan mendeteksi titik-titik persendian tubuh, lalu mengolahnya menjadi data analisis teknik gerak. Hasilnya tidak lagi berupa penilaian umum, tetapi informasi yang lebih rinci mengenai posisi tubuh, sudut gerakan, hingga pola keseimbangan.
Vicko mengembangkan inovasi ini dengan pendekatan biomekanika, yaitu kajian ilmiah tentang gerakan tubuh manusia. Ia menilai banyak aspek teknik olahraga sebenarnya dapat diukur secara presisi, termasuk sudut sendi, distribusi beban, dan koordinasi gerak.
Teknologi yang digunakan memanfaatkan computer vision tanpa memerlukan sensor tambahan. Sistem cukup dijalankan melalui perangkat yang sudah umum digunakan, sehingga dapat diakses oleh sekolah dengan fasilitas terbatas.
Penggunaan teknologi ini juga membantu mengurangi potensi kesalahan teknik yang dapat berdampak pada performa maupun risiko cedera. Pada siswa usia sekolah dasar, pembentukan teknik dasar yang tepat dinilai penting karena berkaitan dengan kebiasaan gerak jangka panjang.
Melalui Smart-Motion, siswa dapat melihat kembali gerakan mereka dan memahami bagian yang perlu diperbaiki. Proses belajar menjadi lebih mandiri karena umpan balik tidak hanya berasal dari guru, tetapi juga dari sistem yang berbasis data.
Vicko berharap Smart-Motion dapat terus dikembangkan sehingga membuka peluang penerapan pembelajaran olahraga berbasis teknologi di sekolah, sebagai alat bantu evaluasi teknik gerak yang praktis dan terjangkau.


