Senja Majapahit, Fajar Demak (1): Bisik-Bisik Pengkhianatan

Must Read

LANGIT Trowulan sore itu memerah, seakan turut menangisi istana yang kian renta. Angin berhembus membawa bau dupa dari candi-candi yang mulai sepi, bercampur dengan aroma tanah basah setelah hujan turun. Di alun-alun yang dulu penuh pasukan gagah, kini hanya tersisa bayangan prajurit tua yang berjalan lesu. Senja Majapahit seolah benar-benar tiba, bukan hanya dalam arti waktu, tapi juga dalam nasib.

Brawijaya V, sang raja terakhir, duduk termenung di pendapa istana. Matanya sayu menatap arah barat, seakan mencari cahaya yang hilang. Selama berabad-abad, Majapahit menjadi mercusuar Nusantara, tetapi kini mercusuar itu meredup. Di balik kejayaan masa lalu, keretakan sudah lama menggerogoti. Perang Paregreg antara Bhre Wirabhumi dan Wikramawardhana pada awal abad ke-15 menjadi luka besar yang tak kunjung sembuh. Kekuasaan pusat melemah, daerah-daerah satu per satu melepaskan diri, dan para bangsawan lebih sibuk berebut kuasa daripada menjaga persatuan.

Di istana, bisik-bisik pengkhianatan terdengar di setiap sudut. Para pejabat berebut pengaruh, ada yang diam-diam menjalin hubungan dengan pedagang asing, ada pula yang mulai menoleh pada agama baru yang datang dari pesisir. Bayangan Islam perlahan masuk ke dalam dinding Majapahit, bukan lagi sekadar tamu, melainkan sebuah kekuatan yang tumbuh dari akar rakyat.

Brawijaya tahu, masa kejayaan emas Gajah Mada sudah lewat. Sumpah Palapa yang dulu menyatukan Nusantara kini tinggal cerita. Armada laut Majapahit yang dulu menguasai Selat Malaka, kini tak lebih dari kapal-kapal rapuh yang karam dimakan usia. “Apakah ini yang disebut sirna ilang kertaning bumi?” bisik sang raja, mengingat ramalan kuno yang beredar di kalangan brahmana dan pujangga.

Milad 117 H Muhammadiyah

Sementara itu, jauh dari pendapa, di pelabuhan Tuban dan Gresik, kehidupan lain sedang tumbuh. Pedagang Muslim dari Gujarat, Arab, Persia, dan Tiongkok berdatangan membawa rempah, kain, serta ilmu pengetahuan. Mereka bukan sekadar berdagang, tapi juga menyebarkan ajaran baru. Di pesantren kecil yang didirikan para wali, masyarakat mulai mengenal Islam, dengan cara yang lembut, tanpa paksaan, dengan musik gamelan, tembang Jawa, dan suluk yang membumi.

Majapahit yang berdiri di atas Hindu-Buddha mulai kehilangan daya pikatnya. Banyak rakyat kecil yang justru menemukan penghiburan baru dalam Islam, yang mengajarkan kesetaraan dan persaudaraan. Di kala bangsawan Majapahit asyik dengan intrik, di pesisir orang-orang mulai menemukan arah hidup yang baru.

Di dalam istana, Brawijaya gelisah. Ia tahu ada darah keturunannya yang kelak akan menjadi jembatan antara Majapahit dan kekuatan baru itu. Putranya dari seorang putri Campa seorang anak bernama Raden Patah tumbuh di luar istana, jauh dari hiruk pikuk perebutan tahta. Raden Patah dibesarkan dalam suasana yang berbeda, lebih dekat dengan rakyat dan para wali. Ia bukan sekadar pewaris darah Majapahit, tapi juga kelak akan menjadi pion utama dalam perubahan besar Jawa.

Namun bagi sang raja, bayangan itu bukan harapan, melainkan tanda bahwa eranya benar-benar akan berakhir. Dalam keheningan, Brawijaya memejamkan mata, seakan mendengar suara masa depan yang berbisik: “Kerajaan ini akan sirna, dan dari reruntuhannya akan lahir fajar baru.”

Malam tiba di Trowulan dengan cepat. Bulan separuh muncul, sinarnya redup tertutup awan. Di kejauhan terdengar suara gamelan dari rumah bangsawan, sayup-sayup bercampur dengan kidung pujangga yang melantunkan nasib yang kian suram. Beberapa prajurit muda berbisik tentang kedatangan Islam, sebagian menganggapnya ancaman, sebagian lain menganggapnya keselamatan.

Di sisi lain, para wali di pesisir berkumpul. Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Bonang, dan yang lain berembuk. Mereka tahu Majapahit sedang di ambang runtuh. Mereka tahu zaman sedang berubah. Pertanyaannya hanya satu: siapa yang akan menjadi pemimpin baru Jawa setelah matahari Majapahit terbenam?

Di antara nama-nama yang muncul, Raden Patah disebut. Seorang pemuda yang darahnya mengalirkan kebesaran Majapahit sekaligus napas baru Islam. Seorang anak yang pernah ditinggalkan, tapi justru dipersiapkan oleh takdir untuk menjadi jembatan peradaban.

Senja di Trowulan itu bukan sekadar pergantian hari. Ia adalah tanda, bahwa sebuah babak sejarah besar akan segera ditutup, dan halaman baru akan dibuka. Namun setiap babak baru, selalu lahir dari sisa-sisa luka lama.

Dan malam itu, di jantung istana Trowulan yang semakin lengang, Brawijaya menatap langit sekali lagi. “Jika fajar itu harus datang,” katanya lirih, “biarlah ia datang dari darahku sendiri, meski dengan wajah yang berbeda.”

(Bersambung ke Seri 2 – Bocah dari Campa)

Serangan Pesawat Nirawak di Gaza Tengah Tewaskan Dua Warga

JAKARTAMU.COM | ​Korban jiwa di jalur Gaza kembali berjatuhan. Sedikitnya dua warga Palestina dilaporkan tewas dan empat lainnya mengalami...

More Articles Like This