Senja Majapahit, Fajar Demak (6): Api Pemberontakan dari Dalam

Must Read

MAJAPAHIT yang dulu tegak sebagai lambang kejayaan Nusantara, kini mulai bergetar dari dalam. Bukan hanya tekanan dari luar, tetapi api pemberontakan justru membakar dari dalam tubuhnya sendiri. Persaingan antar pangeran, perebutan tahta, dan intrik istana menjadi duri yang menusuk jantung kerajaan.

Selepas wafatnya Raja Hayam Wuruk, Majapahit tak pernah benar-benar pulih. Bhre Wirabhumi, salah satu putra Hayam Wuruk, menuntut hak warisan tahta yang dirampas darinya. Pertikaian ini meledak menjadi perang saudara yang dikenal sebagai Perang Paregreg. Perang ini bukan sekadar perebutan mahkota, melainkan pertarungan harga diri antar bangsawan yang merasa lebih berhak atas tahta Majapahit.

Darah mengalir di sawah dan ladang. Pasukan Majapahit yang semula disegani, kini saling menebas sesama saudara. Ekonomi terguncang, rakyat menderita, dan wibawa kerajaan terkoyak. Dari sudut-sudut keraton hingga pelosok desa, orang-orang mulai kehilangan keyakinan bahwa Majapahit masih bisa menjadi tumpuan harapan.

Ketika perang saudara berkecamuk, masuklah pengaruh baru: para pedagang Muslim dari pesisir utara Jawa. Mereka menawarkan jaringan perdagangan yang luas, dari Malaka hingga Gujarat, dari Arab hingga Tiongkok. Pelabuhan-pelabuhan pesisir yang dulunya hanya bayang-bayang kebesaran Majapahit, kini berdenyut hidup dan penuh kemakmuran. Kudus, Jepara, dan Tuban menjadi simpul dagang yang semakin kuat.

Milad 117 H Muhammadiyah

Majapahit meredup, Demak mulai berkilau. Raden Patah, yang masih memiliki darah Majapahit, mengumpulkan kekuatan di pesisir. Para ulama, wali, dan pedagang Muslim merapatkan barisan. Pesisir utara Jawa menjadi tempat lahirnya sebuah tatanan baru yang kelak akan mengubah wajah Nusantara.

Namun di balik semua itu, bara dendam masih menyala. Banyak bangsawan Majapahit yang tidak rela kekuasaan mereka terkikis. Mereka bersekutu dengan sisa-sisa kekuatan lama, berharap bisa merebut kembali kejayaan yang hilang. Pertarungan antara yang lama dan yang baru menjadi semakin tajam, seolah bumi Jawa dipaksa memilih siapa yang akan berkuasa.

Langit barat mulai memerah. Rakyat kecil menatap gelisah, seakan mengerti bahwa zaman telah berubah. Majapahit tak lagi sakti seperti dahulu, sementara Demak belum sepenuhnya tegak. Di antara retakan itulah, api pemberontakan terus berkobar, siap membakar siapa pun yang terjebak di dalamnya. (*)

(Bersambung ke Seri 7 – Bayangan Islam di Pesisir Utara)

Serangan Pesawat Nirawak di Gaza Tengah Tewaskan Dua Warga

JAKARTAMU.COM | ​Korban jiwa di jalur Gaza kembali berjatuhan. Sedikitnya dua warga Palestina dilaporkan tewas dan empat lainnya mengalami...

More Articles Like This