Senja Temaram di Cipayung – Bagian 10: Pengamat

Must Read

Oleh Miftah H. Yusufpati

BEKASI siang itu memantulkan panas seperti wajan besar yang baru diangkat dari tungku. Udara kering bergetar rendah di atas aspal, dan matahari menggantung tanpa belas kasih di atas langit kelabu-debu. Di halaman rumah, bayangan pepohonan kering terlihat seperti patahan garis yang retak-retak.

Di dalam rumah, Prabu baru saja menutup laptop dan bersiap makan siang. Wina, istrinya, pulang dari mengajar beberapa menit sebelumnya. Di meja makan tersaji lauk sederhana hasil masakan Wina pagi tadi—sayur bening, tempe goreng, sambal setengah pedas. Prabu menahannya sejak pukul sebelas, berharap Wina membawa tambahan lauk saat pulang.

Ternyata tidak.

Milad 117 H Muhammadiyah

Ia makan perlahan, menyesap nasi yang sedikit mengering. Setelah selesai, ia bersiap menuju kantor. Ritual yang nyaris rutin: sarapan telat, makan siang hangat-sedikit-kurang, lalu bekerja hingga malam. Ia hidup seperti jarum kompas yang selalu mengarah pada pekerjaan.

Ketika Prabu mengenakan sepatunya, handphone bergetar. Nama yang muncul membuat dadanya seperti ditarik.

Indriani.

Pesannya hanya beberapa kalimat pendek, tetapi menggetarkan seluruh ruang lungkrah dalam hati Prabu.

“Bang Prabu. Saat pamitan dari MM Juice kemarin, reflek mencium tangan Abang. Aneh ya?”

Prabu terdiam. Ada sesuatu yang bergerak pelan di dada—semacam desir kecil yang hanya muncul ketika seseorang menemukan harapan tipis akan masa depan yang berbeda.

“Mungkin kita memang sudah jodoh,” jawab Prabu, sekenanya, tapi dengan harapan yang melimpah di balik kata-kata sederhana itu.

Beberapa detik kemudian, pesan lain masuk. “Mas… sudah makan siang?”

Prabu menahan napas.

Mas.

Ia membaca kata itu berulang seperti seorang santri mengulang hafalan baru. Panggilan itu sederhana, namun menyentuh akar identitasnya. Ia lelaki Jawa; panggilan mas adalah pengakuan kedekatan, kehangatan, bahkan penghormatan. Sesuatu yang tidak ia dapatkan dari banyak perempuan lain yang pernah melintas dalam hidupnya.

“Baru saja selesai,” jawab Prabu, mencoba tidak tampak terlalu bersemangat padahal dadanya sedang meluap dopamin. Dalam teori neurokimia, perubahan kecil dalam bahasa pergaulan memang mampu memicu pelepasan neurotransmiter bahagia. Dan Prabu merasakannya: deras, hidup, mengalir seperti sungai setelah hujan.

Ia menambah pesan: “Kapan kita bisa jumpa kembali?”

Pesan itu terbaca, centang dua biru, tapi tak dibalas.

Prabu memandang layar ponselnya cukup lama, menunggu perubahan. Tak ada. Ia hendak mengetik lagi, tetapi menahan diri. Dalam hadits Nabi, “Seseorang tidak akan mendapatkan sesuatu kecuali sesuai kadar kesabarannya.”  Ia tahu itu.

Setelah berpamitan dengan Wina, akhirnya Prabu keluar rumah, menyalakan mobil, dan melaju ke kantor. Suara mesin menemani pikirannya yang melayang-layang. Jalanan Bekasi yang macet, gersang, dan panas seperti tungku itu ia tembus tanpa benar-benar sadar.

Jam kerja Prabu memang tidak lazim. Ia berangkat ketika kebanyakan orang sudah selesai makan siang dan pulang saat orang lain sudah tidur. Ia sering mengatakan bahwa ia bukan hidup mengikuti jam kantor, tetapi mengikuti ritme pikirannya sendiri.

Dalam sebuah wawancara ilmiah tentang flow state, Mihaly Csikszentmihalyi pernah menulis bahwa “manusia bekerja paling produktif ketika ia masuk pada aliran kesadaran kreatifnya sendiri.” Itulah Prabu—hidup dalam aliran pikirannya sendiri.

Namun hari itu, bukan teori, bukan pekerjaan, bukan jadwal kantor yang mengisi kepalanya. Hanya satu nama yang berputar berulang di dalam jantung dan pikirannya: Indriani.

Dan sebuah pertanyaan yang mulai tumbuh diam-diam: Apakah ini awal dari pintu yang benar-benar mulai terbuka?

***

Perkuat Dakwah Urban, Muhammadiyah Jakarta Selatan Bangun Sinergi Strategis

JAKARTAMU.COM | Kolaborasi antarcabang dalam struktur organisasi menjadi kunci penting untuk memperluas dampak sosial dan keagamaan bagi masyarakat. Semangat...

More Articles Like This