Menjelang malam, Jakarta tampak seperti kota yang baru bangun dari tidur siangnya. Lampu-lampu jalan menyala satu per satu, menyulut cahaya kekuningan di permukaan aspal yang basah oleh gerimis sore tadi. Dari arah Manggarai, suara kereta terdengar samar seperti dengung mesin waktu yang membawa orang-orang pulang ke takdirnya masing-masing.
Di ruang kantornya yang mulai sepi, HP Prabu berdering. Panggilan video. Nama itu—yang kini mulai tumbuh seperti benih di hatinya—muncul di layar.
Indriani.
Prabu buru-buru merapikan posisi duduk, meratakan kerah kemejanya, lalu menyentuh tombol hijau.

Wajah Indriani muncul. Cahaya lampu pinggir jalan memantul di pipinya yang agak merona. Di belakangnya, lalu lintas Cipayung bergerak pelan, kios-kios kecil menjajakan makanan malam, dan angin gunung tipis menggoyang dedaunan. Suasaannya khas Bogor selatan—sejuk, riuh, penuh kehidupan rakyat kecil.
“Mas,” ujar Indriani ceria. “Saya sama Yuni lagi nunggu martabak. Buat oleh-oleh keluarga di rumah.”
Prabu terpana. Bukan karena martabaknya, melainkan karena wajah itu—yang tampak lebih hidup daripada foto, lebih tulus daripada kata-katanya di chat.
Ia menaikkan sedikit ujung topi copet yang ia kenakan, seolah ingin melihat Indriani lebih jelas. Gerakan spontan yang bahkan ia sendiri tidak sadari.
Indriani tertawa lebar. Tawa yang ringan, nyaring, namun tidak berlebihan.
“Ada apa sih, Mas? Kok tegang gitu?”
Prabu berdeham kecil. “Oh… nggak apa-apa. Sekalian beliin buat Mas juga dong.”
Keduanya sama-sama tahu itu hanya gurauan. Cipayung–Tebet adalah jarak yang tak bisa ditembus sekadar oleh sebungkus martabak.
Di belakang Indriani, Yuni tersenyum-senyum sambil menggigit sedotan minuman botol. Tatapannya tajam, seperti sedang mengamati sesuatu. Dan sesuatu itu adalah Prabu.
Indriani tidak menyadari apa pun. Dia terlalu polos mempercayai Yuni—perempuan yang ia anggap sahabat, tempat curhat, tempat mengetuk pintu pendapat bila pikirannya buntu.
Indriani tidak tahu bahwa pada malam itu juga, Yuni mengirim pesan kepada seseorang: “Bang… Indri sekarang dekat sama Prabu.”
Dan seseorang itu adalah Hidayat.
Bogor malam hari selalu punya aroma yang khas: antara wangi tanah basah, asap knalpot, rempah dari pedagang seblak pinggir jalan, dan kesedihan kecil yang ditinggalkan hujan. Indriani tidak sadar bahwa di balik kerlip lampu-lampu warung yang tampak jinak, ada intrik yang perlahan membungkus kehidupannya.
Yuni, dalam keheningan kecil hatinya, bukanlah sahabat.
Ia adalah musuh dalam selimut, atau dalam istilah antropologi konflik: insider betrayer—pengkhianat dari dalam jaringan sosial.
Prabu belum mengetahuinya. Indriani pun tidak curiga sedikit pun.
Padahal Yuni pernah mengaku kepada Indriani bahwa ia pernah tidur dengan Hidayat. Dan boleh jadi, itulah alasan Yuni ingin memastikan Hidayat tidak kehilangan apa pun, meski sebenarnya ia sendiri tidak memiliki siapa pun.
Dalam perspektif psikologi evolusioner, ini disebut mate guarding: kecenderungan seseorang menjaga calon pasangan atau mantan pasangan agar tidak dimiliki orang lain, bahkan bila dia sendiri tidak menginginkannya.
Yuni menjalankan itu tanpa ia sadari.
Dan pesan singkat malam itu menjadi titik awal badai yang kelak menerpa hubungan Prabu dan Indriani.
Prabu menatap layar HP yang masih menampilkan wajah Indriani. Angin malam membuat rambut Indriani sedikit berantakan. “Mas, nanti kita video call lagi ya kalau sudah sampai rumah,” katanya sambil tersenyum lembut.
Prabu mengangguk. “Iya, hati-hati di jalan.”
Setelah panggilan terputus, Prabu menatap layar HP beberapa detik lebih lama, seolah ingin memastikan perempuan itu benar-benar nyata.
Ia teringat sebuah kalimat Ibnu Qayyim tentang cinta: “Hati yang bersih akan mengenali pasangannya sebelum lisannya mengaku.”
Lalu kalimat Nietzsche tiba-tiba muncul: “Invisible threads are the strongest ties.”
Benang-benang yang tak terlihat justru adalah ikatan terkuat.
Prabu merasakannya malam itu.
Tapi benang yang sama, tanpa ia sadari, juga sedang ditarik dari arah lain—oleh Yuni, oleh Hidayat, oleh masa lalu yang belum selesai, oleh rahasia yang belum terungkap.
Pertanyaannya kemudian: Benarkah Hidayat sanggup memporakporandakan hubungan yang bahkan belum resmi terjalin itu? Atau… justru badai ini akan menjadi ujian pertama yang menguatkan fondasi keduanya? Waktu akan menjawabnya.
***


