Senja Temaram di Cipayung – Bagian 10: Pengamat

Must Read

Pesan Yuni masuk ke ponsel Hidayat sekitar pukul delapan malam, ketika ia sedang duduk sendirian di kamarnya di kawasan Tanjung Priok, Jakarta. “Bang, Indri kayaknya dekat sama Prabu.”

Hidayat membaca pesan itu dan mendengus kecil. Ia tidak langsung marah. Tidak pula terkejut. Lebih tepatnya… ia tidak percaya.

Dalam persepsinya, Prabu bukan tipe lelaki yang mampu menaklukkan perempuan seperti Indriani—perempuan yang sudah terlalu kenyang pengalaman, terlalu matang untuk digoyahkan, terlalu penuh luka yang dijahit sendiri, dan terlalu sulit dibujuk hanya dengan rayuan standar.

“Apa hebatnya Prabu?” gumam Hidayat.

Milad 117 H Muhammadiyah

Selama dua tahun ia mengejar Indriani—dua tahun penuh janji, perhatian, jemputan, bantuan kecil, dan seribu harapan yang tak pernah berbuah. Indriani memang baik, tetapi tidak pernah membuka pintu lebar-lebar. Hanya celah kecil, itu pun segera tertutup kembali.

Jika dua tahun tidak cukup untuk melembutkan hatinya, bagaimana mungkin Prabu yang baru bertemu bisa mencapainya?

Namun ada satu hal yang membuat Hidayat sedikit tenang: ia masih percaya bahwa pernikahan kedua Indriani belum benar-benar tuntas. Keyakinan itu—meski keliru—ia dekap erat seperti perisai. “Tetap pantau,” tulis Hidayat akhirnya. “Jangan sampai dia dekat sama laki-laki lain sebelum statusnya jelas.”

Yuni membalas cepat: “Siap, Bang.”

Yuni adalah tipe perempuan yang lihai menyembunyikan rasa. Senyumannya manis, tutur katanya lembut, tetapi hatinya bekerja seperti operator intel: mencatat, memerhatikan, lalu melapor.

Ia pernah tidur dengan Hidayat—begitu pengakuannya kepada Indriani. Belakangan keduanya makin sering berinteraksi. Hidayat tidak segan memberi uang kepada Yuni, dan Yuni tampaknya semakin bergantung pada pemberian itu. Maka mengawasi Indriani bukan hanya loyalitas… tetapi juga strategi mencari rezeki.

Lebih dari itu, hubungan mereka yang samar—bukan pacaran, bukan pula sekadar kenalan—menyisakan emotional imprint, jejak emosional yang membuat seseorang merasa memiliki meski tanpa status.

Dalam psikologi interpersonal, fenomena ini kerap melahirkan kecemburuan yang tidak wajar.

Itulah Yuni.

Kini ia mengawasi Indriani seperti kucing yang menjaga mangsanya agar tidak lari. Setiap gerak Indriani, setiap langkah, setiap percakapan—semuanya dilaporkan kepada Hidayat.

Indriani sendiri polos—sepolos rumput basah yang tidak tahu bahwa ia sedang diinjak dari belakang.

Di sisi lain, malam itu Jakarta terasa lengket dan padat. Dari jendela lantai dua kantor kecil Prabu di Tebet Timur, cahaya lampu jalan memantul pada aspal yang basah oleh gerimis, menciptakan garis-garis cahaya yang bergerak bersama arus kendaraan.

Prabu duduk di meja kerjanya, jarinya menggulir layar ponsel sambil memikirkan video call sore tadi.

Ia teringat ucapan Imam al-Syafi’i: “Apa yang ditakdirkan untukmu tak akan pernah meleset darimu, meskipun seluruh dunia berusaha menghalangimu.”

Dan ia merasa—entah mengapa—bahwa Indriani adalah salah satu takdir itu.

Namun ia tidak naif. Teori permainan (game theory) mengajarkan bahwa setiap langkah dalam hubungan manusia melibatkan strategi pihak lain. Tidak ada interaksi yang benar-benar netral.

Hidayat, meski diam, bukan pion kosong. Yuni, meski tampak ramah, bukan sekutu. Ada medan konflik yang diam-diam sedang terbentuk. Ada skenario tak terlihat yang mulai berjalan.

Namun Prabu tetap tersenyum kecil.

Di tengah malam Jakarta yang sibuk itu, ada satu suara lembut dari Cipayung yang tetap mengiang: “Mas… martabaknya dua ya, satu buat keluarga, satu buat kita ngobrol nanti malam…”

Kalimat pendek. Sederhana. Namun cukup untuk menyalakan cahaya optimisme di hati Prabu. Dan di luar sana, badai mulai mengumpulkan angin pertamanya. Pertanyaannya kini bukan lagi apakah Hidayat akan menyerang… melainkan kapan. Dan ketika saat itu tiba—apakah Prabu benar-benar siap menghadapinya?

***

Hampir pukul 21.00 ketika ponsel Prabu bergetar. Indriani melakukan video call. Ia tampak sudah berada di tempat tidur, dengan dinding berwarna lembut di belakangnya—warna hijau toska yang mencerminkan ketenangan rumah-rumah di kawasan Cipayung, Bogor, tempat udara malam masih terasa lebih sejuk daripada Jakarta.

Sementara Prabu masih duduk di depan laptopnya, di ruang kecil lantai tiga kantornya di Tebet. Suara kendaraan dari jalan layang terdengar sayup-sayup, seperti latar ritmis yang menjadi musik malam pekerja kantoran.

“Belum pulang, Mas?” tanya Indriani, suaranya lembut, menetes seperti embun.

Prabu mengangkat wajahnya, tersenyum ceria.

“Kenapa sekarang manggilnya Mas?” tanyanya sambil menyandarkan punggung ke kursi.

Indriani tersenyum kecil. “Karena Mas Prabu orang Jawa,” jawabnya. “Boleh, kan?”

“Terasa mesra,” ujar Prabu.

Kalimat itu disambut tawa ceria Indriani—tawa jernih yang bagi Prabu terdengar seperti musik orkestra yang diringkas ke satu nada.

“Saya kan sudah sepuh,” canda Prabu. “Sudah 60 tahun. Pantasnya dipanggil kakek.”

Indriani tertawa lepas, senyumnya melebar hingga pipinya sedikit memerah.

“Enggak mau,” katanya. “Enakan manggil Mas.”

Dialog mereka berlangsung lumayan lama.

Dan entah bagaimana, suasananya terasa seperti pertemuan dua jiwa yang pernah saling menyapa di masa lalu, entah di mana. Kadang dunia memang bekerja mengikuti pola alam—seperti teori quantum entanglement, dua partikel berjauhan bisa saling memengaruhi tanpa kontak langsung.

“Terasa udah lama kenal Mas,” ujar Indriani akhirnya, tanpa menutupi perasaannya.

“Padahal baru beberapa hari…”

Prabu mengiyakan perlahan.

“Ya,” katanya. “Ada yang namanya al-ulfah—kecocokan yang Allah tanamkan di hati manusia. Kadang tidak butuh waktu lama.”

Indriani menatapnya lama dari layar.

Ada kehangatan di matanya, ada rasa percaya yang perlahan tumbuh. Prabu tahu perasaan semacam itu tidak datang setiap hari. Dan tidak kepada semua orang.

Di luar layar, angin malam Tebet bertiup tipis, membawa aromanya sendiri—aroma dedaunan, asap kendaraan, dan sedikit nostalgia.

Sementara di Cipayung, lampu-lampu rumah mulai padam satu per satu, menyisakan Indriani yang masih berbicara dengan suara pelan agar tidak membangunkan keluarganya.

Dan di antara dua dunia yang terpisah 72 kilometer itu, terbentang satu hal yang mulai membesar: ikatan—rapuh, lembut, namun memiliki potensi menjadi sesuatu yang jauh lebih kuat daripada yang keduanya bayangkan.

Namun mereka belum tahu bahwa dalam gelap, seseorang sedang mengamati langkah-langkah kecil itu. Seseorang yang sedang menyusun skenarionya sendiri. Dan badai itu… semakin dekat. (Bersambung ke Bagian — 11)

Baca juga: Senja Temaram di Cipayung — Bagian 9: Lembar-lembar Hidup

Perkuat Dakwah Urban, Muhammadiyah Jakarta Selatan Bangun Sinergi Strategis

JAKARTAMU.COM | Kolaborasi antarcabang dalam struktur organisasi menjadi kunci penting untuk memperluas dampak sosial dan keagamaan bagi masyarakat. Semangat...

More Articles Like This