Senja Temaram di Cipayung – Bagian 10: Pengamat

Must Read

Kantor kecil di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, siang itu terasa seperti ruang transit yang memuat berbagai ketegangan tak terucap. Pepohonan angsana di tepi jalan mengayun ditiup angin dari arah Manggarai, menyisakan aroma debu bercampur wangi tanah panas. Dari lantai dua kantor itu terlihat atap-atap rumah padat penduduk, dan di kejauhan, gedung-gedung bertingkat menjulang seperti menara pengintai kota yang tak pernah tidur.

Ketika Prabu tiba, Hidayat dan Ronaldo sudah duduk di ruang tamu. Keduanya tampak ceria, tertawa seakan dunia tidak menyimpan rahasia apa pun.

Prabu mengangguk sopan, meski dadanya menegang pelan. Ia merasa sedang memainkan dua peran yang saling bertolak belakang: sahabat yang baik, sekaligus lelaki yang diam-diam menggoda perempuan yang oleh Hidayat diakui sebagai pacar—meski hanya sepihak.

Ia menunduk sedikit. Dalam benaknya terlintas pepatah Arab dari Nahwu Wadhih:
“Man ghashshana fa laisa minna…”

Siapa yang menipu kami, bukanlah golongan kami.

Milad 117 H Muhammadiyah

Prabu tidak ingin menjadi pagar makan tanaman. Tetapi, bukankah tanaman itu tidak sedang dimiliki siapa pun? Secara objektif, secara sosiologis, secara fikih, hubungan antara Hidayat dan Indriani tidak pernah terjalin. Itu hanya perasaan yang diciptakan dan diyakini Hidayat seorang diri.

Tetap saja, Prabu merasa serba salah.

Ronaldo memecah keheningan. “Bang, ke Puncak malam ini?” tanyanya. Hidayat tersenyum lebar, seakan mengharapkan kebersamaan mereka kembali seperti dulu.

Prabu menggeleng cepat. “Nggak ada ongkos,” jawabnya pendek.

Itu hanya alasan. Sesungguhnya, ia tidak ingin ke Puncak tanpa kepastian bertemu Indriani. Juga tidak ingin satu mobil dengan Hidayat sambil berpura-pura tidak tertarik pada perempuan yang memenuhi benaknya sejak kemarin.

Indriani belum membalas pertanyaannya tentang kapan mereka bisa bertemu lagi, namun Prabu sudah menangkap sinyalnya: sentuhan lembut saat menyerahkan tangan, dan gerakan refleks mencium tangan Prabu ketika mereka berpisah. Itu bukan tanda kecil.

Itu seperti kenaikan suhu air sebelum titik didih—hampir tak terlihat, tapi pasti mengarah pada perubahan besar.

Prabu masuk ke ruang kerjanya dan menyalakan laptop. Huruf-huruf kembali menari di layar. Ia sedang mengerjakan tulisan tentang tren ekonomi mikro di Jabodetabek—aktivitas yang biasanya menjadi jangkar emosinya.

Namun ketenangan itu tak berlangsung lama.

Ponselnya bergetar. Nama Desty muncul. “Pak, saya kepingin makan sushi di Restoran Sushi Tie Botani Bogor. Kita makan di sana ya? Nanti Desty ajak teman.”

Prabu terdiam. Dahinya berkerut. Sushi Tie bukan restoran biasa. Itu tempat untuk orang-orang yang tidak pernah memikirkan harga ketika makan. Dalam benaknya melintas teori conspicuous consumption dari Thorstein Veblen—konsumsi sebagai simbol kelas sosial. Desty seperti berasal dari dunia itu: makan bukan sekadar mengisi perut, tapi pernyataan identitas.

Dengan napas berat, Prabu membuka mobile banking, mentransfer sejumlah uang, lalu mengirim pesan: “Datang saja ke sana dengan temanmu. Bapak tidak bisa. Belakangan sangat sibuk.”

Bahasa halus untuk mengatakan: aku ingin selesai di sini.

Sama seperti ia melepas Nita dulu. Desty bukan tipe perempuan yang membuat jiwanya tenang.

Beberapa menit kemudian, Prabu menelpon Irna—sang mak comblang.

“Saya ini anak singkong, Teh Irna,” katanya sambil tersenyum hambar. “Sedangkan Desty anak keju impor. Selera kami beda. Saya nggak sanggup mengikuti gayanya.”

Irna terkejut, lalu segera menegur Desty. Tak lama kemudian, ponsel Prabu berbunyi lagi.

“Pak, sushi itu bukan selera tinggi… Cuma kepingin sesekali. Kenapa dimasalahkan?”

Prabu hanya menatap layar tanpa rasa apa pun. Hatinya sudah tidak berada di sana. Ada satu nama lain yang kini mengisi ruang dalam dirinya—Indriani.

Ia teringat kata-kata Jalaluddin Rumi: “Apa yang kau cari, sedang mencarimu.”

Dan Prabu merasa, Indriani adalah sosok yang mendekat ke arahnya, bahkan tanpa ia minta.

Benar saja. Saat ia tengah fokus mengetik, ponselnya kembali bergetar.
Indriani menelepon.

Prabu tercekat. “Kenapa ia menelepon, padahal tidak membalas pesan WA?” pikirnya sambil buru-buru mengangkat telepon.

Setelah salam dengan suaranya yang merdu, Indriani segera meminta maaf. “Mas, saya lagi belanja sama Yuni. Kita naik motor, jadi nggak bisa bales WA.”

“Oh, begitu… Oke. Kalau begitu nanti saja kita video call, kalau sudah nggak sibuk,” jawab Prabu, berusaha terdengar tenang meski di dalamnya ada gelombang bahagia.

Indriani menyetujuinya, lalu menutup telepon.

Prabu berdiri. Ruang tamu kosong. Tidak ada Hidayat atau Ronaldo. Ia menghela napas lega.

Ia belum siap menjawab apa pun jika tadi mereka mendengar percakapannya dengan Indriani.


Belum siap mengaku bahwa hati Prabu telah bergerak—perlahan tapi pasti—ke arah perempuan yang diam-diam juga sedang bergerak ke arahnya. Dan ia tahu, sejak telepon itu, malamnya tidak akan biasa lagi.

***

Perkuat Dakwah Urban, Muhammadiyah Jakarta Selatan Bangun Sinergi Strategis

JAKARTAMU.COM | Kolaborasi antarcabang dalam struktur organisasi menjadi kunci penting untuk memperluas dampak sosial dan keagamaan bagi masyarakat. Semangat...

More Articles Like This