Oleh Miftah H. Yusufpati
KABUT mulai turun lebih tebal ketika Indriani menatap layar ponselnya. Nama Prabu berpendar lembut, seolah memanggil keberanian yang sejak tadi ia kumpulkan.
Pesan itu singkat: “Dik… boleh bicara sebentar? Suaranya saja. Aku ingin memastikan kamu baik-baik saja.”
Tidak ada paksaan. Tidak ada nada memiliki. Hanya ketenangan seorang lelaki yang tampaknya sudah sangat berdamai dengan dirinya sendiri.

Indriani meremas jemarinya, lalu menekan tombol telepon.
Sambungan itu langsung terangkat, seolah Prabu sudah menunggu dengan napas ditahan.
“Assalamu’alaikum, Dik…”
Suara itu tenang, dalam, dan sangat Prabu—mengalir seperti air dari mata air Gunung Pangrango.
Indriani menelan ludah. “Wa’alaikumussalam… Mas.”
Sesaat, tidak ada suara lain. Hanya desir angin di sela pepohonan, dan degup jantung yang tak bisa ia sembunyikan.
“Dik,” suara Prabu lembut tetapi kokoh, “ada kabar yang aneh tentang kita. Aku tidak ingin kamu menyimpannya sendirian. Kalau ada yang membuatmu berat… ceritakan. Aku tidak ingin kamu terluka karena namaku.”
Indriani menghela napas panjang. “Mas… aku dapat banyak pesan. Dari mantan suamiku. Dari teman-temanku. Semuanya bilang hal yang sama. Seragam. Seolah-olah mereka dapat naskah yang sama.”
Prabu terdiam sebentar, lalu berkata pelan, “Aku bisa tebak siapa dalangnya.”
“Mas juga curiga ke Hidayat?” suara Indriani hampir berbisik.
“Dik,” jawab Prabu, “aku tidak ingin menuduh tanpa bukti, tapi cara pesannya menyebar… terlalu mirip pola orang yang terobsesi, bukan orang yang peduli.”
Indriani terdiam. Ada rasa sakit, marah, sekaligus lega karena Prabu tidak panik atau membela diri berlebihan.
Ia hanya… tenang. Tenang seperti langit setelah badai.
“Mas,” suara Indriani gemetar sedikit, “apa… apa yang Mas rasakan sebenarnya? Tentang semua ini. Tentang aku.”
Prabu menarik napas. Suaranya menghangat, bukan romantis berlebihan, tetapi ada kedewasaan yang menguatkan.
“Dik, aku lelaki. Dan seorang lelaki, kata Ibnu Hazm, ‘harus menegakkan kejujuran bahkan ketika hatinya sedang bergetar.’ Jadi aku jujur saja…”
Ia berhenti satu detik. Indriani menunggu, seperti menunggu detik azan pertama subuh.
“Aku menghormatimu,” lanjut Prabu. “Aku ingin mengenalmu bukan karena kabar, tetapi karena akhlakmu. Dan aku tidak ingin mendekat kalau itu membuatmu luka. Allah saksi.”
Indriani meremas jaketnya, dadanya hangat. “Mas… semua orang bilang Mas berbahaya.”
“Kalau aku berbahaya,” jawab Prabu tenang, “maka bahaya itu hanya satu: aku akan jujur, walau kadang orang tidak siap menerimanya.”
Indriani mengerjap, antara tersenyum dan terharu.
“Mas… kenapa suara Mas tenang sekali?” tanyanya, hampir tak sadar.
Prabu tertawa kecil, hangat. “Kalau aku ikut panik, kamu makin berat, Dik.”
Keheningan yang turun bukan lagi dingin, tetapi menghangatkan. Jarak mereka tidak terhapus, tetapi terasa lebih dekat—seperti dua manusia yang akhirnya bicara tanpa kedok.
“Dik,” kata Prabu pelan, “kalau semua ini membuatmu lelah… aku di sini. Kamu boleh bicara kapan pun. Aku tidak mengejar, tidak menekan. Aku hanya… menemani.”
Indrianimenutup mulutnya dengan tangan, menahan getar. Ia tidak menangis—tapi hampir.
“Mas… terima kasih.”
“Untuk apa?”
“Untuk… percaya sama aku.”
Prabu menghela napas, kali ini sedikit bergetar. “Kamu layak dipercaya, Dik. Lebih dari yang kamu kira.”
Suara itu membuat Indriani ingin duduk, ingin diam, ingin menyerah pada kejujuran yang hangat itu.
Mereka terdiam lama—hening tetapi penuh.
“Mas,” suara Indriani lembut, “besok… kita bisa ketemu?”
Dan setelah itu, kabut seolah berhenti bergerak.
Prabu menjawab pelan, seperti seseorang yang menjaga sesuatu yang rapuh tetapi berharga: “Bisa. Kapan saja kamu siap.”
Dan cerita bersambung di titik itu—di antara kabut, kejujuran, dan hati yang mulai saling menemukan rumahnya.
***


