Prabu tidak tersenyum. Tidak mengalihkan pandangan. Justru menjadi sangat serius.
“Dik… jatuh hati itu kata yang besar. Tapi kalau kamu bertanya apakah hati aku bergerak ke arahmu—iya. Dengan perlahan. Dengan sadar. Dan tanpa paksaan.”
Indriani menutup mulutnya, menahan isak kecil yang bukan sedih, tapi takut… dan lega… dan terkejut.
“Mas…”

“Hmm?”
“Aku… mungkin belum siap menerima, tapi… aku juga tidak siap kehilangan.”
Prabu tersenyum kecil, kali ini hangat. “Tidak ada yang harus hilang hari ini.”
Hening turun perlahan di kedai kayu Megamendung, seolah kabut ikut duduk bersama mereka, mendengarkan percakapan yang mengalir tanpa topeng itu. Di luar, langit mulai berubah warna: jingga pucat, perak, lalu biru keabu-abuan yang menyatu dengan punggung Gunung Gede. Senja hari itu tampak ragu-ragu memudar, seperti enggan beranjak sebelum dua hati di meja sudut itu menemukan keseimbangan baru.
Indriani mengusap sudut matanya yang basah. Bukan karena sedih saja—lebih karena ada ruang di dadanya yang baru saja terbuka, dan ia belum sepenuhnya tahu bagaimana mengisinya.
“Mas…” ucapnya lirih, seolah takut mengusik ketenangan yang baru terbentuk, “aku merasa… seperti berdiri di tengah jembatan berkabut. Aku tidak bisa melihat ujungnya. Tapi anehnya, aku tidak merasa sendirian.”
Prabu menatapnya dengan sorot yang tidak menuntut. “Jembatan tidak harus terlihat semuanya untuk dilalui. Yang penting, langkah pertama tidak goyah. Selebihnya… Allah yang menjaga.”
Ucapan itu membuat Indriani menarik napas panjang, dan untuk pertama kalinya hari itu, napasnya tidak bergetar.
Di luar, sekelebat burung hutan melintas, sayapnya menoreh kabut tipis. Indriani mengamati pemandangan itu sejenak, lalu berkata pelan, “Mas… kalau suatu hari nanti aku goyah lagi, atau marah, atau takut… apa Mas tetap akan tinggal?”
Prabu menautkan jemarinya di atas meja, tanpa menyentuh tangan Indriani—tetapi kedekatannya terasa seperti kehangatan api kecil di malam gunung.
“Selama kamu tidak meminta aku pergi,” jawabnya tenang, “aku tinggal. Karena aku tidak datang untuk satu hari yang mudah—aku datang untuk hari-hari yang sulit.”
Kata-kata itu—sederhana, tapi matang—membuat tenggorokan Indriani tercekat. Ia menunduk, tersenyum tipis dalam keteduhan yang baru ia rasakan.
“Mas Prabu,” katanya menatapnya lagi, “aku tidak tahu apa hubungan ini akan menjadi apa. Aku juga tidak tahu apakah aku kuat.”
Prabu menanggapi dengan lembut, “Kekuatan itu bukan syarat awal, Dik. Itu buah dari perjalanan. Bahkan Imam Syafi’i bilang, ‘Jika engkau tidak sanggup menanggung lelahnya belajar, maka engkau harus sanggup menanggung perihnya kebodohan.’ Dalam hubungan pun begitu. Yang penting kamu tidak lari dari dirimu.”
Indriani mengangguk. Lalu dengan suara yang begitu kecil, ia berkata, “Mas… terima kasih sudah tidak pergi ketika semua orang menyuruh aku menjauh.”
“Aku mendekat justru karena itu,” jawab Prabu. “Aku melihatmu bukan dari mulut orang, tapi dari cahaya yang kamu jaga sendiri.”
Hening kembali turun. Namun kali ini, hening itu indah.
Di luar jendela, kabut mulai menari lebih tipis; seakan alam mengerti bahwa pertemuan itu telah mencapai titik di mana luka tidak perlu lagi disembunyikan.
“Mas…” Indriani berbisik, “aku masih takut.”
Prabu mengangguk pelan. “Takut itu tanda kamu manusia. Tapi kamu tidak sendirian lagi menanggungnya.”
Indriani memejamkan mata sesaat.
Ketika ia membuka kembali, wajah Prabu masih di sana—tenang, dewasa, dan tak tergoyahkan, seperti batu besar yang tetap berdiri ketika arus sungai berubah arah.
“Mas,” katanya akhirnya, dengan suara yang lebih tegap, “kalau besok aku siap… bolehkah kita mulai dari awal? Pelan-pelan. Tanpa tergesa. Tanpa penghakiman.”
Prabu menghela napas panjang, lega, lalu mengangguk. “Itu cara terbaik, Dik. Kita mulai dari yang paling sederhana: saling jujur. Selebihnya… biarkan waktu dan Allah yang merapikan.”
Indriani tersenyum. Senyum yang kecil, tapi tulus. Senyum seorang perempuan yang baru saja melewati badai fitnah, keraguan, dan luka lama—dan menemukan seseorang yang tidak membawa jawaban, tetapi menawarkan ketenangan.
Di luar, senja jatuh sempurna. Cahaya terakhir menembus kabut dan memantul di kaca jendela kedai, menciptakan semburat keemasan yang halus.
“Mas,” kata Indriani, “terima kasih karena tidak menyerah pada versi terburukku.”
“Dan terima kasih,” balas Prabu lembut, “karena kamu mengizinkan aku melihat versi terbaikmu.”
Mereka sama-sama terdiam. Dua hati yang belum saling memiliki, tetapi sudah saling memahami.
Senja di Megamendung menutup hari itu dengan bisikan halus: bahwa cinta tidak selalu tiba dengan gegap gempita. Kadang ia datang sebagai kabut—dingin, lembut, perlahan—tetapi memberi arah pada dua jiwa yang tersesat dalam keraguan.
Ketika mereka keluar dari kedai, jalan pulang diselimuti cahaya lampu-lampu desa yang temaram. Udara dingin menusuk, tetapi langkah mereka stabil.
Prabu berjalan satu langkah di depan, bukan untuk memimpin, tapi untuk memastikan jalan aman. Indriani mengikuti, bukan karena bergantung, tapi karena hatinya telah menemukan tempat untuk istirahat. Dan di balik kabut itulah, kisah mereka, perlahan-lahan, mulai menemukan bentuknya. (Bersambung ke Bagian 15)


