Kabut Megamendung turun seperti tirai tipis yang digantung di antara langit dan perbukitan. Udara sore itu lembap dan wangi tanah basah memenuhi jalan berliku menuju sebuah kafe kayu yang berdiri di tepi lembah—Kedai Puspa Awan, nama yang hanya diketahui oleh pengunjung yang suka mencari tempat untuk menenangkan hati.
Indriani tiba lebih dulu. Ia duduk di pojok ruangan yang menghadap jendela besar. Dari sana, pemandangan hamparan pinus dan lembah kelabu tampak seperti lukisan tinta Cina—kabut, siluet pepohonan, dan garis gunung yang samar.
Ia menggenggam cangkir cokelat panas. Jemarinya dingin. Hatinya lebih dingin.
Ketika pintu kayu berderit pelan, Indriani menoleh.

Prabu berdiri di sana.
Bukan dengan gaya dramatis, bukan pula dengan senyum yang memaksa. Hanya sosok lelaki dengan jaket sederhana, wajah tenang, dan mata yang… seolah sudah membaca badai di hati Indriani bahkan sebelum ia bicara.
Ia menghampiri tanpa tergesa. “Assalamu’alaikum, Dik.”
“Wa’alaikumussalam, Mas.”
Prabu duduk. Hening. Hening yang anehnya tidak menekan—justru menenangkan. Seperti hening di antara dua orang yang tahu mereka harus bicara jujur hari ini.
Di luar, kabut makin menebal.
Indriani menatap cangkirnya. “Mas… aku datang bukan untuk mencari jawaban, tapi untuk… memastikan diriku sendiri. Aku takut ambil keputusan yang salah.”
Prabu menatapnya dengan sorot lembut. “Kita bicara pelan-pelan saja, Dik. Tidak perlu terburu-buru memilih apa pun.”
Indriani menarik napas panjang. “Semalam aku tidak tidur. Pesan dari mantan suamiku, teman-temanku, semua memperingatkanku tentang Mas. Tentang… hal-hal yang membuatku goyah.”
Prabu mengangguk. “Aku sudah duga. Ada pola yang terlalu rapi.”
“Apa Mas marah?” tanya Indriani hati-hati.
“Marah?” Prabu tersenyum tipis. “Rasulullah SAW mengingatkan, ‘Jangan marah’. Dan Imam Ghazali bilang, marah itu seperti api yang mencari oksigen. Kalau aku beri ruang, api itu membesar. Jadi tidak, Dik. Aku tidak marah. Hanya… prihatin melihat kamu disakiti lewat namaku.”
Indriani menunduk. Ada sesuatu di dadanya yang melunak.
“Mas…” suaranya pelan, “benarkah… Mas ingin mendekati aku? Atau semuanya cuma… respons dari keadaan?”
Prabu menahan napas sejenak sebelum menjawab. “Dik, aku bukan lelaki yang hidup dari impuls. Aku belajar dari kegagalan, dari bacaan, dan dari syariat. Aku mendekat bukan karena kosong… tapi karena aku melihat akhlak, bukan drama.”
Indriani menggertakkan gigi pelan, menahan luapan emosinya. “Tapi Mas… aku trauma. Aku sudah pernah menghadapi laki-laki yang manis di awal tapi… buruk di belakang.”
Prabu menatap lekat, tanpa menakut-nakuti.
“Dik, kalau aku bohong hari ini, segala yang kubangun akan runtuh. Jadi aku jujur saja:
Aku tidak sempurna. Tapi aku tidak bermain-main.”
Lalu ia menunduk sedikit, tidak sombong, justru merendah.
“Dan soal fitnah impotensi itu… aku tidak perlu membela diri panjang. Itu urusan medis, urusan pribadi… dan juga urusan kehormatan. Tapi satu hal yang bisa kubilang—laki-laki diuji bukan pada tubuhnya, melainkan pada amanahnya.”
Indriani menatapnya. Ada gemetar kecil di matanya, tapi bukan ketakutan… melainkan kelegaan.
Ia menutup wajah dengan kedua tangan sejenak. “Mas… aku lelah. Aku bukan perempuan yang kuat seperti yang orang lihat. Aku capek mempertahankan diriku, bisnisku, hidupku…”
Prabu mencondongkan tubuh sedikit. Tidak terlalu dekat. Tidak melewati batas. Tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa ia benar-benar hadir.
“Dik,” katanya pelan, “aku tidak datang untuk menyelesaikan hidupmu. Aku datang untuk duduk di sampingmu ketika kamu lelah. Itu saja.”
Air mata Indriani jatuh. Diam-diam. Tanpa suara.
“Maaf, Mas… aku rapuh.”
“Semua orang rapuh,” jawab Prabu lembut.
Indriani mengangkat wajahnya, menatap Prabu dengan mata yang memerah.
“Mas,” ucapnya terputus, “kalau aku memutuskan untuk percaya… apa Mas benar-benar siap menghadapi semua risiko yang muncul dari kehidupan aku? Dari masa laluku? Dari orang-orang yang membenciku?”
Prabu menjawab tanpa ragu—tanpa drama. “Siap, Dik. Bukan karena aku hebat. Tapi karena aku tidak ingin hidup setengah hati.”
Angin kabut menyelusup ke sela jendela, membuat suara daun bergesek pelan seperti bisikan alam.
Indriani menyeka air matanya. “Mas… boleh aku tanya satu hal yang paling jujur?”
“Tanya apa pun.”
“Apa Mas… sudah jatuh hati sama aku?”


